TintaSiyasi.id -- Lima Cinta yang Menjerumuskan dan Lima kelalaian yang Menghancurkan
قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ:
سَيَأْتِي زَمَانٌ عَلَى أُمَّتِي
يُحِبُّونَ خَمْسًا وَيَنْسَوْنَ خَمْسًا
يُحِبُّونَ الدُّنْيَا وَيَنْسَوْنَ الْعُقْبَى
وَيُحِبُّونَ الدُّورَ وَيَنْسَوْنَ الْقُبُورَ
وَيُحِبُّونَ الْمَالَ وَيَنْسَوْنَ الْحِسَابَ
وَيُحِبُّونَ الْجِمَالَ وَيَنْسَوْنَ الْحُورَ
وَيُحِبُّونَ النَّفْسَ وَيَنْسَوْنَ اللَّهَ
هُمْ مِنِّي بُرَآءُ وَأَنَا مِنْهُمْ بَرِيءٌ
(نصائح العباد، ص: 30)
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Akan datang suatu zaman pada umatku. Mereka mencintai lima perkara, namun melupakan lima perkara lainnya."
1. Mereka mencintai dunia, tetapi melupakan akhirat.
2. Mereka mencintai rumah-rumah yang megah, tetapi melupakan kubur.
3. Mereka mencintai harta, tetapi melupakan hari perhitungan (hisab).
4. Mereka mencintai keindahan (perhiasan dan kecantikan dunia), tetapi melupakan bidadari surga.
5. Mereka mencintai diri dan hawa nafsunya, tetapi melupakan Allah.
"Mereka berlepas diri dariku, dan aku pun berlepas diri dari mereka."
Teks ini populer dikutip dalam kitab Naṣā'iḥul 'Ibād karya Syekh Nawawi al-Bantani. Para ulama menjelaskan bahwa riwayat ini tidak dikenal sebagai hadis yang memiliki sanad kuat dalam kitab-kitab hadis utama, sehingga lebih tepat dijadikan sebagai nasihat yang maknanya didukung oleh banyak ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis sahih tentang zuhud, mengingat kematian, hisab, dan mengendalikan hawa nafsu.
Lima Cinta yang Menjerumuskan, Lima Kelalaian yang Menghancurkan
Renungan Dakwah Ideologis–Sufistik
Di zaman modern, manusia menikmati kemajuan teknologi yang luar biasa. Gedung-gedung menjulang tinggi, kendaraan semakin mewah, komunikasi semakin cepat, dan informasi mengalir tanpa batas. Namun, di balik semua kemajuan itu, muncul sebuah krisis yang jauh lebih berbahaya: krisis orientasi hidup.
Manusia semakin pandai mengelola dunia, tetapi semakin lupa menyiapkan akhirat. Mereka menghitung keuntungan investasi, tetapi lupa menghitung bekal menuju kehidupan yang kekal.
Nasihat Rasulullah ﷺ di atas seolah menggambarkan kondisi umat pada masa kini.
1. Mencintai Dunia, Melupakan Akhirat
Islam tidak pernah melarang mencari dunia. Bahkan bekerja adalah ibadah. Namun dunia harus menjadi jalan, bukan tujuan.
Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan akan terus merasa kurang. Jabatan yang tinggi terasa sempit, harta yang banyak terasa sedikit, dan pujian manusia tidak pernah memuaskan.
Sebaliknya, orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan akan bekerja dengan jujur, berusaha dengan sungguh-sungguh, dan memanfaatkan dunia sebagai ladang amal.
Allah berfirman:
> "Carilah dengan apa yang telah Allah karuniakan kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia." (QS. Al-Qashash: 77)
Dunia berada di tangan orang beriman, bukan di dalam hatinya.
2. Mencintai Rumah, Melupakan Kubur
Setiap orang ingin memiliki rumah yang nyaman. Tidak ada yang salah dengan itu.
Namun, rumah semegah apa pun hanyalah tempat singgah. Tempat tinggal terakhir setiap manusia adalah liang kubur.
Kubur tidak mengenal status sosial.
Tidak ada perbedaan antara pejabat, profesor, pengusaha, ataupun rakyat biasa.
Yang membedakan hanyalah amal saleh.
Karena itu para ulama salaf sering berziarah kubur agar hati tetap lembut dan tidak terpedaya oleh kemewahan dunia.
3. Mencintai Harta, Melupakan Hisab
Harta adalah amanah.
Allah tidak hanya akan bertanya berapa banyak harta yang dimiliki seseorang, tetapi juga:
Dari mana harta diperoleh.
Untuk apa harta dibelanjakan.
Seberapa besar manfaatnya bagi umat.
Setiap rupiah yang dimiliki akan dipertanggungjawabkan.
Karena itu kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta, tetapi banyaknya keberkahan.
4. Mencintai Keindahan Dunia, Melupakan Kenikmatan Surga
Islam mencintai keindahan.
Namun keindahan dunia hanyalah bayangan kecil dibandingkan kenikmatan surga.
Segala kecantikan, kemewahan, dan kenikmatan dunia akan sirna.
Sedangkan surga adalah kenikmatan yang tidak pernah berakhir.
Orang yang selalu mengingat surga akan lebih mudah menjaga pandangan, kehormatan, dan ketakwaannya.
5. Mencintai Diri Sendiri, Melupakan Allah
Inilah penyakit terbesar zaman modern.
Manusia sibuk membangun citra diri, mengejar popularitas, mencari pengakuan, dan memuaskan hawa nafsu.
Padahal kebahagiaan sejati lahir ketika hati mengenal Allah.
Dalam perspektif tasawuf, jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu.
Ketika hawa nafsu menjadi pemimpin, manusia akan mudah sombong, iri, tamak, dan lupa kepada Rabb-nya.
Namun ketika Allah menjadi tujuan hidup, hati akan dipenuhi ketenangan, keikhlasan, dan rasa syukur.
Muhasabah untuk Diri Kita
Nasihat ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membangunkan hati.
Mari bertanya kepada diri sendiri:
Apakah akhirat sudah menjadi tujuan hidup saya?
Sudahkah saya menyiapkan "rumah" di alam kubur dengan amal saleh?
Apakah harta saya membawa keberkahan?
Apakah saya lebih sibuk mempercantik lahir daripada memperindah akhlak?
Apakah saya lebih sering mengingat Allah daripada memikirkan diri sendiri?
Jika jawabannya belum, pintu taubat masih terbuka.
Allah selalu menerima hamba yang kembali kepada-Nya dengan hati yang tulus.
Penutup
Pesan dalam nasihat ini tetap relevan sepanjang zaman. Dunia boleh dicintai sebatas sebagai amanah, tetapi jangan sampai menguasai hati. Rumah boleh dibangun, namun jangan lupa mempersiapkan kubur. Harta boleh dicari, tetapi jangan melupakan hisab. Keindahan boleh dinikmati, tetapi jangan sampai melalaikan surga. Dan yang paling utama, cintailah Allah di atas segala cinta.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat, dianugerahi hati yang selalu berdzikir, amal yang ikhlas, rezeki yang halal dan berkah, serta diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ هِيَ دَارَنَا وَقَرَارَنَا. آمِين.
"Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami dan puncak pengetahuan kami. Jadikanlah surga sebagai tempat tinggal dan tempat kembali kami. Aamiin."
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.