Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Masalah Rohingya Berkepanjangan, Direktur ImuNe: Bantuannya Setengah Hati

Minggu, 19 Juli 2026 | 06:08 WIB Last Updated 2026-07-18T23:08:12Z

TintaSiyasi.id -- Dr. Fika Komara, Direktur Institut Muslimah Negarawan (IMuNe), menilai bantuan setengah hati pihak otoritas kepada pengungsi Rohingya telah menimbulkan masalah berkepanjangan yang kini dirasakan di Aceh dan Malaysia.

 

“Pihak otoritas seperti menutup mata dan memberikan pertolongan setengah hati. Sudah begitu disediakan camp, diserahkan, diberi makanan. Padahal bertumbuhnya manusia tidak cukup itu,” sebutnya dalam segmen wawancara Muslimah Tea Break yang berjudul Rohingya: Mengapa Simpati Berubah Menjadi Penolakan? yang disiarkan di kanal YouTube Fikratul Ummah pada hari Jumat (10/07/2026).

 

Layanan publik seperti sekolah, kesehatan itu juga harus dijamin. “Nah, itulah persoalan ketika kita membantu Rohingya setengah hati. Sepuluh tahun berikutnya kita sudah mulai rasakan gejala ini. Pertama di Aceh, kedua di Malaysia,” tegasnya.

 

Ia menjelaskan bahwa konflik horizontal antara penduduk setempat dan komunitas Rohingya dipengaruhi oleh tekanan sosial-ekonomi, pelayanan pemerintah yang tidak memadai, serta persaingan untuk memperoleh sumber daya.

 

“Jadi memang hari ini yang kemudian terjadi seperti konflik horizontal. Horizontal konflik ini banyak faktor sebenarnya. Pertama, memang penduduk lokal sendiri sudah mengalami beban sosial ekonomi yang semakin berat, ditambah pemerintah juga memberikan pelayanan setengah hati kepada Rohingya,” katanya

 

“Kapitalisme sudah dalam fase menyebarkan krisis di mana-mana, termasuk pada warga lokal. Ketika melihat komunitas Rohingya yang sudah lama dan mereka berkembang, terjadi semacam perebutan akses sumber daya,” ujarnya.

 

Peneliti geopolitik itu menilai apa yang terjadi di lapangan ini sebenarnya merefleksikan ketidakhadiran negara secara utuh dalam memberikan perlindungan kepada pengungsi.

 

“Apa yang terjadi di lapangan ini sebenarnya merefleksikan ketidakhadiran negara secara utuh dan bantuan atau suaka yang setengah hati ketika ini terjadi bertahun-tahun,” bebernya.

 

Menurutnya, masyarakat setempat tidak mempunyai kapasitas untuk menyediakan perlindungan, pendidikan, dan layanan jangka panjang kepada pengungsi tanpa dukungan negara.

 

“Tidak mungkin kita membantu Rohingya hanya diserahkan kepada warga. Kalau di Indonesia itu istilahnya warga bantu warga. Bebannya terlalu berat,” katanya.

 

Dr. Fika turut mengaitkan masalah sosial dalam komunitas Rohingya dengan ketiadaan akses pendidikan yang layak selama beberapa generasi.

 

“Sudah generasi-generasi dan mereka, dengan kondisi mereka, tidak memiliki pendidikan yang layak. Wajar akhirnya kemudian terkena dengan situasi kehidupan kapitalistik. Anak-anak mudanya juga mungkin kena sindrom yang sama dengan anak-anak muda kebanyakan, kena drugs, kena macam-macam,” katanya.

 

Menurutnya, kekurangan pendidikan turut meningkatkan risiko sebagian generasi Rohingya terjebak dalam kejahatan yang dapat mengganggu masyarakat sekitar dan menambah potensi konflik horizontal.

 

“Mereka yang tidak bersekolah, pendidikan minim, akhirnya mudah terjebak pada hal-hal yang sifatnya petty crime, kriminal yang seperti itu, mengganggu warga sekitar, belum potensi konflik horizontal,” jelasnya.

 

Namun, ia mengatakan masalah yang dihadapi komunitas Rohingya sering dipandang secara berbeda karena mereka masih dianggap sebagai warga asing.

 

“Jadi wajar banyak problem. Sebenarnya itu part of our society. Tapi karena ada unsur xenofobia, mereka masih dianggap warga asing,” ujarnya.

 

Keadaan tersebut, menurutnya, berpunca dari penerapan sistem negara bangsa yang memberikan perlakuan berbeda berdasarkan bangsa dan kewarganegaraan.

 

“Negara kita hari ini di ASEAN, di Asia Tenggara, masih menerapkan sistem negara bangsa, akhirnya memberikan perlakuan yang berbeda pada bangsa yang berbeda,” katanya.

 

Ia turut mengulas dari perspektif Islam bahawa pemerintah Muslim bertanggung jawab untuk memberikan hak kewarganegaraan kepada komunitas Rohingya.

 

“Padahal sebenarnya kalau ikatannya akidah Islam itu kan tidak begitu. Harusnya penguasa muslim Malaysia dan Indonesia di mana pun itu berada Brunei harus memberikan full right of citizenship kepada anak-anak Rohingya ini,” sarannya.

 

“Kita ini sudah sampai pada tahap satu dekade ini menderita problem yang sudah berkepanjangan kan.  Menahun. Dan wajar gitu kalau awal-awal mungkin ya, terkesannya jadi compassion fatigue tadi. Kelelahan dalam kemanusiaan gitu ini,” katanya.

 

Ia menekankan bahwa setelah pengungsi hidup selama puluhan tahun, tidak lagi wajar dilihat sebagai bantuan darurat, tetapi sebagai tanggung jawab negara untuk menyediakan pelayanan publik secara berkelanjutan.

 

“Kalau sampai 10 tahun, 20 tahun, itu bukan menolong. Itu adalah kewajiban ri’ayah syu’unil ummah, kewajiban memelihara, maintain akses layanan publik kepada warga negara,” jelasnya.

 

Menurutnya, kapasitas masyarakat awam memberikan pertolongan awal hanyalah terbatas. “Pertolongan pertama seorang nelayan yang tulus tidak kita ragukan. Mereka akan berikan first aid atau first help, darurat, emergency mereka akan berikan.

 

“Tetapi mereka tidak bisa membiayai anak-anak Rohingya itu sekolah sampai universitas, mendapatkan scholarship. Itu harus ada pihak lain yang punya otoritatif untuk memberikan garansi pada hak-hak yang sustainable,” pungkasnya.[] Aliya Ab Aziz

Opini

×
Berita Terbaru Update