TintaSiyasi.id -- Direktur Institut Muslimah Negarawan (IMuNe) Dr. Fika Komara menyatakan bahwa terdapat pihak yang menyebarkan narasi bahwa Rohingya layaknya Zionis sebagai penyulut potensi konflik yang terjadi di masyarakat.
“Ada pihak-pihak yang mungkin
merasa terganggu kepentingannya melakukan apa yang disebut fearmongering,
menyebarkan disinformasi, katanya Rohingya itu layaknya Zionis yang akan
mengambil tanah di Aceh. Nah, ini menyulut apa yang sudah menjadi potensi besar
konflik di Aceh kala itu,” katanya ketika merespons sesi wawancara bertajuk Rohingya:
Mengapa Simpati Bertukar Menjadi Penolakan? di kanal YouTube Fikratul
Ummah pada Jumat (10/07/2026).
Menurutnya, perbandingan antara
Rohingya dengan Zionis merupakan pemelintiran maklumat karena Rohingya
hakikatnya berada dalam kedudukan sebagai mangsa.
“Waktu itu analisis di Indonesia
itu ada kepentingan dari operasi Hasbara karena ada unsur Zionisme. Padahal
kalau itu sebenarnya saya terlihat sekali upaya pemelintiran, apa ya,
pemelintiran informasi itu. Padahal sebenarnya justru Rohingya itu adalah
korban dari Zionis,” jelasnya.
“Karena Myanmar, negara yang
mengusir Rohingya dari Rakhine State itu adalah partner-nya Zionis dalam
pembelian senjata. Nah, justru mereka adalah korban Zionis. Tetapi ada narasi
palsu yang menyebarkan, menakut-nakuti fearmongering kepada warga Aceh,
`Rohingya itu seperti Zionis’,” katanya.
Dia juga mengungkap, kenyataan
penyebaran disinformasi melalui akun palsu yang diduga dikelola oleh beberapa
tokoh berpengaruh, yang menyebabkan sentimen negatif terhadap Rohingya semakin
memanas.
“Ada pihak yang secara sengaja
melakukan disinformasi melalui akun palsu UNHCR. Itu yang memanaskan situasi,
sampai juga terbawa beberapa influencer yang cukup besar namanya ikut
menjelek-jelekkan Rohingya dan itu memanaskan,” ujarnya.
Fearmongering
Dr. Fika menjelaskan bahwa
informasi palsu digunakan untuk menyebarkan ketakutan di masyarakat, sehingga
memperburuk konflik horizontal antara warga sipil dan pengungsi.
“Disinformasi, hoax, itu
disebarkan. Itu yang disebut dengan fearmongering. Jadi menyebarkan
ketakutan melalui udara kepada situasi di lapangan, sehingga memperparah
konflik horizontal, konflik antarmasyarakat sipil,” katanya.
“Jadi situasi di udara panas,
situasi di lapangan terkena sumbu pada pihak-pihak yang mungkin merasa
terganggu juga kepentingannya, standar kebersihan atau masalah kriminalitas, petty
crime yang dilakukan oleh Rohingya,” sambungnya.
Ia menilai bahwa konflik tersebut
juga mencerminkan ketidakpedulian negara dalam memberikan suaka dan
perlindungan yang komprehensif kepada etnis Rohingya.
“Apa yang terjadi di lapangan ini
sebenarnya merefleksikan ketidakhadiran negara secara utuh dan bantuan atau
suaka yang setengah hati ketika ini terjadi bertahun-tahun,” tegasnya
menyimpulkan.[] Aliya Ab Aziz