Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dr. Fika: Narasi ‘Rohingya seperti Zionis’ Sulut Konflik

Minggu, 19 Juli 2026 | 06:08 WIB Last Updated 2026-07-18T23:08:47Z

TintaSiyasi.id -- Direktur Institut Muslimah Negarawan (IMuNe) Dr. Fika Komara menyatakan bahwa terdapat pihak yang menyebarkan narasi bahwa Rohingya layaknya Zionis sebagai penyulut potensi konflik yang terjadi di masyarakat.

 

“Ada pihak-pihak yang mungkin merasa terganggu kepentingannya melakukan apa yang disebut fearmongering, menyebarkan disinformasi, katanya Rohingya itu layaknya Zionis yang akan mengambil tanah di Aceh. Nah, ini menyulut apa yang sudah menjadi potensi besar konflik di Aceh kala itu,” katanya ketika merespons sesi wawancara bertajuk Rohingya: Mengapa Simpati Bertukar Menjadi Penolakan? di kanal YouTube Fikratul Ummah pada Jumat (10/07/2026).

 

Menurutnya, perbandingan antara Rohingya dengan Zionis merupakan pemelintiran maklumat karena Rohingya hakikatnya berada dalam kedudukan sebagai mangsa.

 

“Waktu itu analisis di Indonesia itu ada kepentingan dari operasi Hasbara karena ada unsur Zionisme. Padahal kalau itu sebenarnya saya terlihat sekali upaya pemelintiran, apa ya, pemelintiran informasi itu. Padahal sebenarnya justru Rohingya itu adalah korban dari Zionis,” jelasnya.

 

“Karena Myanmar, negara yang mengusir Rohingya dari Rakhine State itu adalah partner-nya Zionis dalam pembelian senjata. Nah, justru mereka adalah korban Zionis. Tetapi ada narasi palsu yang menyebarkan, menakut-nakuti fearmongering kepada warga Aceh, `Rohingya itu seperti Zionis’,” katanya.

 

Dia juga mengungkap, kenyataan penyebaran disinformasi melalui akun palsu yang diduga dikelola oleh beberapa tokoh berpengaruh, yang menyebabkan sentimen negatif terhadap Rohingya semakin memanas.

 

“Ada pihak yang secara sengaja melakukan disinformasi melalui akun palsu UNHCR. Itu yang memanaskan situasi, sampai juga terbawa beberapa influencer yang cukup besar namanya ikut menjelek-jelekkan Rohingya dan itu memanaskan,” ujarnya.

 

Fearmongering

 

Dr. Fika menjelaskan bahwa informasi palsu digunakan untuk menyebarkan ketakutan di masyarakat, sehingga memperburuk konflik horizontal antara warga sipil dan pengungsi.

 

“Disinformasi, hoax, itu disebarkan. Itu yang disebut dengan fearmongering. Jadi menyebarkan ketakutan melalui udara kepada situasi di lapangan, sehingga memperparah konflik horizontal, konflik antarmasyarakat sipil,” katanya.

 

“Jadi situasi di udara panas, situasi di lapangan terkena sumbu pada pihak-pihak yang mungkin merasa terganggu juga kepentingannya, standar kebersihan atau masalah kriminalitas, petty crime yang dilakukan oleh Rohingya,” sambungnya.

 

Ia menilai bahwa konflik tersebut juga mencerminkan ketidakpedulian negara dalam memberikan suaka dan perlindungan yang komprehensif kepada etnis Rohingya.

 

“Apa yang terjadi di lapangan ini sebenarnya merefleksikan ketidakhadiran negara secara utuh dan bantuan atau suaka yang setengah hati ketika ini terjadi bertahun-tahun,” tegasnya menyimpulkan.[] Aliya Ab Aziz

Opini

×
Berita Terbaru Update