Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Celaan terhadap Pemakan Riba

Senin, 13 Juli 2026 | 13:19 WIB Last Updated 2026-07-13T06:19:24Z
TintaSiyasi.id -- Riba: Dosa Besar yang Mengundang Murka Allah
Bismillahirrahmanirrahim.

اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْٓا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰواۘ وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ فَمَنْ جَاۤءَهٗ مَوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ فَانْتَهٰى فَلَهٗ مَا سَلَفَۗ وَاَمْرُهٗٓ اِلَى اللّٰهِ ۗ وَمَنْ عَادَ فَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

“Orang-orang yang memakan (bertransaksi dengan) riba tidak dapat berdiri, kecuali seperti orang yang berdiri sempoyongan karena kesurupan setan. Demikian itu terjadi karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Siapa pun yang telah sampai kepadanya peringatan dari Tuhannya (menyangkut riba), lalu dia berhenti sehingga apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Siapa yang mengulangi (transaksi riba), mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah: 275).

Riba Bukan Sekadar Persoalan Ekonomi

Islam tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga mengatur bagaimana manusia memperoleh dan mengembangkan harta. Salah satu larangan yang paling keras dalam Al-Qur'an adalah larangan riba.
Tidak banyak dosa yang ancamannya disebutkan secara sangat mengerikan seperti riba. Allah menggambarkan keadaan pelaku riba pada hari kiamat dalam kondisi yang sangat hina, seperti orang yang kehilangan akal, terjatuh, dan tidak mampu berdiri dengan sempurna.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa riba bukan sekadar pelanggaran transaksi, tetapi penyakit yang merusak hati, akal, dan tatanan kehidupan manusia.
Mengapa Allah Mengharamkan Riba?
Menurut tafsir Al-Qadhi Al-Baidhawi, orang-orang musyrik dahulu beralasan:
"Jual beli sama saja dengan riba."
Mereka hanya melihat hasil akhirnya, yaitu sama-sama memperoleh keuntungan.
Padahal keduanya sangat berbeda.
Dalam jual beli:
• ada risiko
• ada usaha
• ada manfaat
• ada pertukaran barang dan jasa
• kedua pihak saling ridha.
Sedangkan riba menghasilkan keuntungan tanpa usaha yang seimbang, tanpa risiko yang adil, bahkan sering kali lahir dari penderitaan orang lain.
Karena itu Allah menegaskan:
Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Ketetapan ini bukan sekadar aturan ekonomi, tetapi hukum Rabb Yang Maha Mengetahui maslahat manusia.

Hakikat Riba
Riba adalah mengambil tambahan atas harta dengan cara yang diharamkan syariat.
Praktik ini melahirkan berbagai kerusakan:
• memperkaya yang kaya
• menindas yang miskin
• menghilangkan keberkahan
• mematikan kepedulian sosial
• menumbuhkan keserakahan.
Riba menjadikan uang berkembang dari uang semata, bukan dari produktivitas, perdagangan ataupun kerja nyata.

Ancaman yang Sangat Berat
Rasulullah Saw., memasukkan riba ke dalam tujuh dosa besar yang membinasakan.
Beliau bersabda:
"Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan..."
Di antaranya adalah memakan riba.
Ini menunjukkan bahwa riba sejajar dengan syirik, sihir, pembunuhan tanpa hak, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh wanita mukminah yang suci berzina.

Lebih Berat daripada Zina
Rasulullah Saw., memberikan perumpamaan yang sangat keras agar umat memahami betapa besarnya dosa riba.
Dalam hadis disebutkan bahwa
riba memiliki banyak tingkatan, dan yang paling ringan dosanya seperti seseorang berzina dengan ibunya sendiri.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa
satu dirham riba yang dimakan dengan sadar lebih berat dosanya daripada puluhan kali perzinaan. Perumpamaan ini bukan untuk membandingkan secara matematis, tetapi menunjukkan betapa besar kebencian Allah terhadap praktik riba.

Mengapa Dosanya Sangat Besar?
Karena riba merusak dua hal sekaligus.
Pertama, hubungan manusia dengan Allah.
Pelaku riba menentang hukum Allah secara terang-terangan.
Kedua, hubungan manusia dengan sesama.
Riba menjadikan manusia memanfaatkan kesulitan orang lain demi keuntungan pribadi.
Islam mengajarkan tolong-menolong, sedangkan riba menjadikan penderitaan orang lain sebagai ladang keuntungan.

Bahaya Spiritual Riba
Riba bukan hanya mengurangi pahala.
Ia mengeraskan hati.
Hati menjadi sulit khusyuk.
Doa menjadi terhalang.
Keberkahan hidup menghilang.
Rezeki memang tampak bertambah, tetapi ketenangan justru berkurang.
Banyak orang memiliki kekayaan melimpah, tetapi hidupnya dipenuhi kecemasan, konflik keluarga, penyakit hati, dan kegelisahan.
Inilah salah satu akibat hilangnya keberkahan.

Riba di Zaman Modern
Bentuk riba saat ini jauh lebih kompleks.
Ia hadir melalui berbagai transaksi keuangan, pinjaman berbunga, rentenir, hingga praktik yang berkedok investasi, tetapi sebenarnya mengambil keuntungan yang tidak sesuai syariat.
Seorang Muslim hendaknya terus belajar fikih muamalah agar mampu membedakan transaksi yang halal dan yang haram.
Kehati-hatian dalam mencari rezeki merupakan bagian dari ketakwaan.

Jalan Keluar
Bagi siapa pun yang pernah terjerumus dalam riba, pintu taubat tetap terbuka.
Langkah yang harus ditempuh antara lain:
• segera menghentikan praktik riba
• menyesali perbuatan tersebut
• bertekad tidak mengulanginya
• memperbanyak istighfar
• mencari rezeki yang halal
• memperbanyak sedekah
• memperbaiki muamalah sesuai syariat.
Allah Maha Pengampun bagi hamba yang benar-benar kembali kepada-Nya.

Rezeki Halal Lebih Menenangkan

Harta yang halal mungkin tampak sedikit, tetapi penuh keberkahan.
Sebaliknya, harta yang bercampur riba mungkin tampak besar, tetapi sering menjadi sebab sempitnya hati dan hilangnya ketenangan. Keberhasilan seorang mukmin bukan diukur dari banyaknya harta, melainkan dari keberkahan yang Allah limpahkan.

Penutup

Riba bukan sekadar persoalan bunga atau tambahan dalam transaksi. Ia adalah ujian keimanan. Apakah seorang hamba lebih memilih keuntungan sesaat atau keridaan Allah?
Sejarah membuktikan bahwa peradaban yang dibangun di atas kerakusan akan melahirkan ketimpangan dan kehancuran.
Sebaliknya, masyarakat yang dibangun di atas kejujuran, keadilan, perdagangan yang halal, zakat, infak, sedekah, dan kasih sayang akan memperoleh keberkahan dari langit dan bumi.
Semoga Allah menjaga kita dari segala bentuk riba, memberikan rezeki yang halal, luas, dan penuh keberkahan, serta menjadikan hati kita lebih mencintai keridaan-Nya daripada keuntungan dunia yang sementara.
"Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezeki-Mu yang halal sehingga kami tidak membutuhkan yang haram. Kayakanlah kami dengan karunia-Mu sehingga kami tidak bergantung kepada selain-Mu. Aamiin."

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. 
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit 

Opini

×
Berita Terbaru Update