TintaSiyasi.id -- Unggahan video terkait “LGBT bukanlah perilaku menyimpang” dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Psikologi salah satu kampus terbaik di Indonesia, Universitas Indonesia (UI), mendapatkan kobaran respons dari berbagai pihak yang menyatakan sikap unagree.
Unggahan yang berpijak pada American Psychological Association (APA) tersebut juga mendapat respons yang tidak memihak dari pihak kampus UI. Akan tetapi, pihak kampus memberikan pernyataan bahwa mahasiswa psikologi hanya mempelajari bidang ilmu yang merujuk pada perspektif psikologi modern. (Detik.com, 3/7/2026)
Mempelajari beragam perspektif psikologi hari ini memang tidak dapat dielakkan. Namun, langkah yang diambil oleh kaum intelektual mesti menjadi fokus perhatian!
Propaganda yang Terus Disusupi
Sikap BEM Psikologi UI di atas secara langsung mengampanyekan bahwa LGBT bukanlah gangguan mental dan perilaku menyimpang. Padahal, Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) jelas merupakan perilaku menyimpang yang tidak pantas diberi ruang maupun panggung.
Sekelas intelektual kampus mestinya cakap dan bijak dalam bertindak-tanduk. Walaupun di ruang kelas dibekali ilmu psikologi dari berbagai referensi dan ahli, tidak semata-mata mengaminkan pendapat yang tidak bisa diterima logika sehat manusia.
Melindungi perilaku menyimpang atas nama Hak Asasi Manusia (HAM) ala Barat merupakan wujud dari kesesatan berpikir dan terseoknya intelektual dalam memandang benar dan salah. Aktor sekuler kapitalisme pun sumringah menyaksikan propaganda mereka berhasil menyusup pada setiap membran sel.
Ideologi kapitalisme yang berasaskan sekularisme, paham yang memisahkan agama dari kehidupan, terus-menerus memupuk LGBT agar diterima oleh masyarakat luas. Semua orang yang memiliki logika sehat, terutama kaum intelektual, semestinya mengambil sikap tegas dan tidak memihak dalam bentuk apa pun.
Perspektif Islam
Perkara yang salah menurut Allah Swt. akan selamanya salah, meskipun satu dunia menyatakan perlawanan.
Jelas, LGBT bertentangan telak dengan fitrah dan naluri (gharizah nau') manusia. Secara fitrah, manusia memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis. Laki-laki memiliki kecenderungan terhadap perempuan, begitu pun sebaliknya. Allah Swt. tidak menciptakan “Adam dan Bambang”, melainkan “Adam dan Hawa”, agar manusia dapat melanjutkan garis keturunan dan menegakkan kalimat Allah sampai akhir zaman.
Allah melarang laki-laki “mendatangi” laki-laki untuk memenuhi kebutuhan biologis. Bahkan, Allah menyatakan bahwa mereka yang mengingkari larangan tergolong ke dalam kaum yang melampaui batas. Sebagaimana firman Allah Swt. berikut.
"Sesungguhnya kamu benar-benar mendatangi laki-laki untuk melampiaskan syahwat(mu), bukan kepada perempuan. Bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas." QS. Al-A'raf: 81.
Sikap Kaum Muslim
Menyelesaikan permasalahan LGBT tidak cukup dengan upaya represif, salah satu contoh didorong dari gedung paling tinggi lalu ditimpa batu besar hingga wafat. Akan tetapi, perlu upaya preventif dari berbagai elemen kehidupan. Orang tua memiliki andil besar membentuk karakter dan pola pikir sahih pada anak, sehingga anak dapat mengambil langkah bijak terhadap setiap permasalahan.
Lebih dari itu, negara memiliki tanggung jawab yang lebih besar lagi karena memiliki beragam instrumen untuk melindungi rakyat dari kemungkaran. Nahasnya, peran orang tua tergerus oleh beban ekonomi serta negara silau dengan kemewahan yang ditawarkan oleh peradaban Barat berikut paham menyesatkannya.
Sebagai kaum muslim yang menyaksikan kebobrokan moral hari ini, sudah selayaknya menyatukan kekuatan politik global dalam naungan Institusi Khilafah Islamiyah guna melenyapkan propaganda Barat. Seandainya kaum muslim masih disibukkan dengan perkara sepele, maka musuh akan semakin leluasa menebar virus penyimpangan lainnya. Wallahu a'lam bi ash-shawab.
Oleh: Siska Ramadhani, S.Hum.
(Aktivis Muslimah)