Tintasiyasi.id.com -- Pendidikan dasar merupakan fondasi utama pembangunan sumber daya manusia suatu bangsa. Di Indonesia, Sekolah Dasar Negeri menjadi tulang punggung akses pendidikan gratis dan merata bagi masyarakat.
Namun memasuki masa awal tahun ajaran 2026/2027, sejumlah sekolah negeri di Indonesia minim mendapatkan murid baru. Meskipun begitu, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tetap digelar menyambut pelajar baru tersebut sejak Senin (13/7/2026).
Walaupun jumlah siswa sedikit, semangat tenaga pendidik dan kesiapan fasilitas di banyak sekolah tetap terjaga demi memberikan layanan pendidikan terbaik bagi setiap anak yang telah mendaftar.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di daerah pedesaan tetapi juga di kota-kota besar seperti Semarang, Bandar Lampung, Magelang dan Blitar. Bahkan, di Jawa Timur ada tiga SDN di Blitar nihil murid baru, penyebabnya adalah penurunan jumlah anak usia sekolah, urbanisasi dan preferensi orang tua ke sekolah swasta.
Kemendikdasmen merespons dengan pendataan Dapodik untuk sekolah <100 siswa akan rapat dengan Kemendagri untuk kebijakan regrouping, walaupun ada kendala jarak antar sekolah yang jauh sehingga menyulitkan implementasi (CNNIndonesia.com).
Berdasarkan data Badan pusat Statistik Jawa Timur yang dirilis tahun 2026. Angka Kelahiran Total di Jawa Timur turun menjadi 1,95. Angka ini berada dibawah tingkat ideal penggantian antar generasi (replacement level) sebesar 2,10, yang menandakan rata-rata perempuan di Jatim kini melahirkan kurang dari dua anak. (bpsjatim)
Ibarat salah satu organ penting dalam tubuh manusia, sistem pendidikan saat ini seakan-akan sedang kesakitan. Maka harus segera dicari akar penyakitnya dan diobati agar tidak merusak lalu menyebar ke organ lain. Banyak orang tua yang beralih ke sekolah swasta berbasis agama karena khawatir akan keselamatan moral anak-anak di tengah derasnya arus sekuler.
Kurikulum nasional yang diterapkan dinilai gagal membentengi anak dari pengaruh negatif media maupun lingkungan. Perubahan kurikulum berulangkali tidak mampu membendung dan melindungi anak-anak dari dampak derasnya arus sekulerisme.
Pendidikan lebih berorientasi materi dan kompetensi teknis mengabaikan aspek spiritual dan akhlak. Sehingga wajar jika terjadi penurunan kepercayaan publik terhadap sekolah negeri di tingkat dasar.
Selain itu, terjadi perubahan struktur demografi akibat kebijakan pemerintah yang menekan angka kelahiran untuk mengendalikan populasi telah berdampak jangka panjang. Termasuk nilai rupiah yang melemah sehingga biaya hidup tinggi mendorong pasangan menunda atau membatasi anak.
Islam memandang pendidikan adalah kebutuhan dasar dan pilar peradaban. Negara wajib bertanggung jawab penuh menyediakan pendidikan berkualitas gratis bagi seluruh rakyatnya. Upaya konstruksi solusi Islam antara lain:
1. Fondasi Pendidikan Islam:
a. Sistem pendidikan Islam dalam institusi khilafah menggunakan aqidah sebagai asas kurikulum untuk membentuk kepribadian Islam dan membekali manusia dengan ilmu dan pengetahuan yang berkaitan dengan urusan kehidupan (menguasai IPTEK, kedokteran, teknik, administrasi, ekonomi dll di level pendidikan yang lebih tinggi). Menolak pemisahan agama dari pendidikan dan kehidupan.
b. Negara berperan menyediakan SDM guru yang kompeten, infrastruktur, dan sarana prasarana. Pendidikan bukan dijadikan komoditas pasar seperti proyek MBG.
c. Menggabungkan ilmu agama dan umum secara sinergis komprehensif bukan dikotomi sekuler.
2. Strategi implementasinya:
a. Amar ma’ruf nahi munkar dengan aktifitas dakwah politik perlu digencarkan untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa kerusakan moral adalah akibat penerapan sistem sekuler di negeri ini.
b. Mengadopsi model pendidikan Islam yang terbukti berhasil membangun peradaban Islam yang mencetak para ilmuwan beriman bertaqwa. Prioritas pendidikan sebagai investasi umat, bukan alokasi anggaran rutin apalagi proyek.
c. Mendorong peran aktif orang tua dalam pengawasan dan pendidikan dirumah.
Walhasil, fenomena minimnya murid baru di Sekolah Dasar negeri bukanlah masalah teknis semata melainkan bukti nyata dari kegagalan sistem pendidikan sekuler yang telah mencabut akar nilai-nilai agama dari proses pembelajaran.
Sehingga menghasilkan generasi yang rentan terhadap kerusakan moral, dekadensi akhlak, serta berbagai bentuk kenakalan remaja yang semakin marak ditengah derasnya arus globalisasi dan pengaruh media.
Kondisi ini menuntut solusi fundamental yaitu kembali kepada sistem pendidikan Islam yang tidak dapat berdiri sendiri melainkan harus didukung oleh penerapan sistem lainnya seperti, politik, ekonomi, sosial dan hukum dalam satu institusi negara yang utuh agar berfungsi optimal, menjamin lingkungan yang baik serta keadilan bagi seluruh rakyat, sehingga menjadi rahmat bagi seluruh alam sebagaimana diterapkan dalam Daulah Khilafah.
Kekhawatiran orang tua teratasi, krisis sekolah negeri terselesaikan dan masa depan rakyat serta bangsa menjadi cerah di bawah naungan sistem yang diridhoi Allah SWT.[]
Oleh: Shinta Erry Izayati
(Tenaga Kesehatan)