Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kokohkan Keyakinan dalam Urusan Rezeki: Jangan Risau terhadap Apa yang Sudah Dijamin Allah

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:22 WIB Last Updated 2026-07-18T22:22:57Z

TintaSiyasi.id -- Hikmah dan Penjelasan QS. Fathir Ayat 15 dalam Perspektif Dakwah Ideologis-Sufistik

۞ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ
"Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji."
(QS. Fathir [35]: 15)

Pendahuluan

Salah satu penyakit hati yang paling banyak menimpa manusia modern adalah kegelisahan terhadap rezeki. Banyak orang kehilangan ketenangan karena takut miskin, takut kehilangan pekerjaan, takut usahanya bangkrut, atau takut masa depan anak-anaknya tidak terjamin. Padahal, Allah telah menetapkan bahwa setiap makhluk memiliki bagian rezekinya.

Ibnu Athaillah As-Sakandari memberikan nasihat yang sangat mendalam:
"Kokohkanlah keyakinan kalian dalam urusan rezeki, itu sudah cukup bagi kalian. Kerisauan yang paling parah adalah merisaukan sesuatu yang telah dijamin oleh Allah."
Nasihat ini bukan mengajarkan manusia untuk bermalas-malasan, tetapi mengajarkan agar hati tidak diperbudak oleh kecemasan dunia, sehingga tetap mampu berikhtiar dengan tenang dan bertawakal kepada Allah.

Tafsir QS. Fathir Ayat 15
Allah berfirman:
"Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji."
(QS. Fathir: 15)

Ayat ini menjadi fondasi akidah tentang hubungan antara manusia dan Allah.
1. Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa seluruh manusia, kaya maupun miskin, pejabat maupun rakyat, semuanya adalah faqir (sangat membutuhkan Allah).
Kemiskinan yang dimaksud bukan semata-mata kemiskinan harta, tetapi:
• membutuhkan kehidupan,
• membutuhkan kesehatan,
• membutuhkan ilmu,
• membutuhkan hidayah,
• membutuhkan rezeki,
• membutuhkan ampunan.
Sebaliknya Allah sama sekali tidak membutuhkan makhluk-Nya.

2. Tafsir Al-Qurthubi
Imam Al-Qurthubi menerangkan bahwa:
Kemiskinan manusia kepada Allah bersifat mutlak.
Artinya:
Setiap helaan napas merupakan pemberian Allah.
Setiap makanan berasal dari Allah.
Setiap peluang usaha berasal dari Allah.
Setiap pelanggan datang karena izin Allah.
Setiap keuntungan terjadi karena kehendak Allah.
Maka tidak layak manusia menggantungkan hati kepada makhluk.

3. Tafsir As-Sa'di
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di menjelaskan:
Allah mengingatkan manusia agar tidak menyangka bahwa usaha mereka sendirilah yang menciptakan rezeki.
Usaha hanyalah sebab.
Yang menciptakan hasil hanyalah Allah.
Karena itu hati tidak boleh bergantung kepada sebab, tetapi kepada Musabbibul Asbab (Allah).

Rezeki Sudah Dijamin Allah
Allah berfirman:
"Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya."
(QS. Hud: 6)
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang."
(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
Perhatikan:
Burung tetap terbang.
Burung tetap mencari makan.
Burung tidak menunggu makanan jatuh dari langit.
Tetapi burung juga tidak cemas.
Inilah keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.

Mengapa Manusia Sangat Cemas terhadap Rezeki?
Karena lemahnya keyakinan kepada Allah.
Allah telah menjamin rezeki.
Namun manusia lebih percaya kepada:
• rekening bank,
• jabatan,
• perusahaan,
• relasi,
• modal,
• kekuatan dirinya.
Padahal semua itu bisa hilang dalam sekejap.
Yang tidak pernah hilang hanyalah Allah.

Hikmah Sufistik: Rezeki dan Penyakit Hati
Para ulama tasawuf mengatakan:
Orang yang paling miskin bukan yang sedikit hartanya, tetapi yang paling takut kehilangan dunia.
Ketika hati dipenuhi rasa takut miskin:
• ibadah menjadi berat,
• sedekah terasa rugi,
• zakat terasa mengurangi harta,
• dakwah dianggap mengganggu bisnis,
• akhirat terlupakan.
Padahal rezeki bukan hanya uang.
Rezeki meliputi:
• iman,
• kesehatan,
• keluarga saleh,
• ilmu,
• ketenangan hati,
• waktu yang berkah,
• sahabat yang baik,
• kesempatan beramal.
Banyak orang kaya uang tetapi miskin ketenteraman. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana namun dipenuhi rasa cukup (qana'ah), sehingga kehidupannya terasa lapang.

Dakwah Ideologis: Kapitalisme Menanamkan Ketakutan, Islam Menanamkan Tawakal
Salah satu ciri peradaban materialistik adalah menjadikan kekhawatiran ekonomi sebagai alat untuk mengendalikan manusia. Ketika ukuran keberhasilan semata-mata materi, manusia terdorong mengejar dunia tanpa batas dan mudah menghalalkan segala cara.
Islam menawarkan paradigma yang berbeda. Rezeki bukanlah hasil mutlak dari kecerdasan atau kekuatan manusia, tetapi karunia Allah yang diberikan melalui sebab-sebab yang halal. Karena itu seorang Muslim tetap bekerja keras, berinovasi, dan profesional, namun tidak menjadikan dunia sebagai sesembahan baru.
Keyakinan terhadap jaminan Allah melahirkan keberanian untuk jujur, menjauhi riba, menolak korupsi, serta tidak menggadaikan prinsip demi keuntungan sesaat. Inilah dimensi ideologis tauhid dalam persoalan ekonomi.

Ciri Orang yang Yakin terhadap Jaminan Rezeki Allah
Orang yang kuat keyakinannya akan tampak dalam perilakunya:
1. Tetap bekerja dan berusaha secara maksimal tanpa putus asa.
2. Tidak mencari rezeki dengan jalan yang haram.
3. Gemar bersedekah karena yakin Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.
4. Tidak iri terhadap rezeki orang lain.
5. Mampu hidup sederhana dan bersyukur.
6. Lebih mengutamakan keberkahan daripada banyaknya harta.
7. Hatinya tenang menghadapi perubahan ekonomi.

Langkah Praktis Mengokohkan Keyakinan terhadap Rezeki
• Perbanyak membaca dan merenungkan ayat-ayat tentang jaminan rezeki Allah.
• Perbaiki kualitas salat, doa, dan tawakal.
• Berusaha secara profesional dengan cara yang halal.
• Biasakan bersedekah meskipun sedikit.
• Hindari membandingkan rezeki dengan orang lain.
• Perbanyak istigfar dan syukur, karena keduanya menjadi sebab datangnya keberkahan.
• Tanamkan bahwa keberhasilan sejati adalah keridaan Allah, bukan sekadar banyaknya harta.

Penutup: Ketenangan Lahir dari Tauhid

Keresahan terbesar bukanlah sedikitnya harta, melainkan rapuhnya keyakinan kepada Allah. Selama hati bergantung kepada makhluk, kecemasan akan terus menghantui. Namun ketika hati benar-benar bersandar kepada Allah, usaha menjadi lebih tenang, ibadah lebih khusyuk, dan hidup dipenuhi rasa cukup.

QS. Fathir ayat 15 mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang sepenuhnya membutuhkan Allah, sedangkan Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan siapa pun. Dari kesadaran inilah lahir tawakal yang benar: bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga kehalalan usaha, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Sebagaimana hikmah Ibnu Athaillah, "Kokohkan keyakinan kalian dalam urusan rezeki, itu sudah cukup bagi kalian. Kerisauan yang paling parah adalah merisaukan sesuatu yang telah dijamin oleh Allah." Maka jadikanlah keyakinan kepada Allah sebagai sumber ketenangan, karena rezeki yang paling agung bukan sekadar harta, melainkan hati yang yakin, jiwa yang tenteram, dan kehidupan yang penuh keberkahan.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit)

Opini

×
Berita Terbaru Update