Refleksi atas Nasihat Agung Ibnu Athaillah As-Sakandari
"Seluruh maqam akan mencapai kesempurnaannya apabila seorang hamba menyerahkan sepenuhnya dirinya kepada pengaturan (tadbir) dan pilihan Allah SWT."
(Intisari Hikmah Ibnu Athaillah As-Sakandari)
Pendahuluan: Manusia Antara Ikhtiar dan Kehendak Allah
Sejak manusia pertama diciptakan, kehidupan tidak pernah lepas dari pergulatan antara keinginan manusia dan kehendak Allah SWT. Setiap manusia memiliki cita-cita, rencana, ambisi, bahkan berbagai strategi untuk mencapai apa yang diinginkannya. Namun tidak semua yang direncanakan menjadi kenyataan.
Di sinilah muncul pertanyaan mendasar yang menjadi inti perjalanan spiritual manusia:
Apakah kebahagiaan lahir ketika semua keinginan kita terpenuhi, atau justru ketika hati mampu menerima seluruh pilihan Allah dengan penuh kerelaan?
Tasawuf menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat indah. Para ulama menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada keberhasilan mengatur dunia sesuai kehendak kita, melainkan ketika hati tunduk kepada pengaturan Allah yang Mahabijaksana.
Karena itu, Imam besar ahli hikmah, Ibnu Athaillah As-Sakandari, berulang kali mengingatkan dalam Al-Hikam agar manusia tidak diperbudak oleh tadbir dirinya sendiri. Yang harus diperjuangkan bukanlah menguasai seluruh keadaan, melainkan menyerahkan seluruh keadaan kepada Allah setelah melakukan ikhtiar yang diperintahkan syariat.
Inilah yang disebut tafwidh, yaitu menyerahkan seluruh urusan kepada Allah dengan keyakinan penuh bahwa pilihan-Nya selalu lebih baik daripada pilihan manusia.
Hakikat Maqam dalam Perjalanan Menuju Allah
Dalam tradisi tasawuf, maqam adalah kedudukan ruhani yang dicapai melalui perjuangan, mujahadah, ibadah, zikir, ilmu, dan penyucian jiwa.
Para ulama menyebutkan maqam dengan redaksi yang beragam, namun secara umum meliputi:
• Taubat
• Wara'
• Zuhud
• Fakir kepada Allah
• Sabar
• Syukur
• Khauf
• Raja'
• Tawakal
• Ridha
• Mahabbah
• Ma'rifat
Semua maqam tersebut bukan sekadar teori, melainkan transformasi kepribadian.
Taubat mengubah pendosa menjadi pecinta Allah.
Zuhud mengubah pencinta dunia menjadi pencari akhirat.
Sabar mengubah penderitaan menjadi jalan kemuliaan.
Syukur mengubah nikmat menjadi kedekatan dengan Allah.
Mahabbah mengubah ibadah menjadi kerinduan.
Namun seluruh maqam tersebut belum mencapai puncaknya apabila hati masih sibuk memprotes takdir Allah.
Penyakit Terbesar Hati adalah Ingin Mengatur Takdir
Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa sumber kegelisahan manusia bukanlah banyaknya musibah.
Yang membuat manusia sengsara adalah keinginannya agar seluruh kehidupan berjalan sesuai rencananya sendiri.
Manusia ingin:
• rezeki datang sesuai waktunya;
• jodoh sesuai pilihannya;
• karier sesuai ambisinya;
• anak sesuai harapannya;
• kesehatan tanpa ujian;
• dakwah selalu diterima;
• usaha selalu berhasil.
Ketika kenyataan berbeda dengan keinginan, muncullah:
• kecewa;
• marah;
• iri;
• putus asa;
• bahkan protes kepada Allah.
Padahal seluruh kegelisahan itu muncul karena hati masih meyakini bahwa dirinya lebih tahu daripada Rabb-nya.
Allah berfirman:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini merupakan fondasi ideologis bagi seorang mukmin bahwa ukuran kebaikan bukanlah hawa nafsu manusia, melainkan ilmu Allah Yang Mahaluas.
Tafwidh: Puncak Tauhid Praktis
Tafwidh bukan berarti pasif.
Bukan pula meninggalkan usaha.
Islam memerintahkan manusia bekerja, berjuang, berdakwah, berjihad, menuntut ilmu, dan membangun peradaban.
Namun setelah seluruh usaha dilakukan, hati tidak bergantung kepada usaha tersebut.
Hati hanya bergantung kepada Allah.
Inilah makna firman Allah:
"...Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal."
(QS. Ali 'Imran: 122)
Tafwidh adalah puncak tauhid.
Mengapa?
Karena orang yang benar-benar bertafwidh telah melepaskan ketergantungannya kepada:
• kekuasaan,
• jabatan,
• kekayaan,
• manusia,
• kecerdasan,
• bahkan amalnya sendiri.
Yang ia lihat hanyalah Allah sebagai Pengatur seluruh alam.
Mengapa Seluruh Maqam Tidak Akan Sempurna Tanpa Tafwidh?
Seseorang dapat mencapai maqam sabar.
Namun ia masih kecewa terhadap takdir.
Berarti sabarnya belum sempurna.
Seseorang dapat mencapai maqam syukur.
Namun ia hanya bersyukur ketika nikmat bertambah.
Saat diuji ia mengeluh.
Berarti syukurnya belum sempurna.
Seseorang dapat mencapai maqam tawakal.
Tetapi ia masih panik ketika kehilangan pekerjaan.
Berarti tawakalnya belum sempurna.
Seseorang dapat mencintai Allah.
Namun ia membenci keputusan Allah.
Berarti cintanya belum sempurna.
Seluruh maqam mencapai kesempurnaannya ketika hati berkata:
"Ya Allah, aku ridha terhadap apa pun yang Engkau pilih bagiku."
Nabi Ibrahim: Teladan Tertinggi Tafwidh
Ketika diperintahkan menyembelih Ismail, Nabi Ibrahim tidak membantah.
Beliau tidak berkata:
"Mengapa harus anakku?"
Beliau juga tidak meminta penjelasan.
Beliau hanya berkata melalui sikapnya:
"Aku mendengar dan aku taat."
Karena itu Allah mengganti sembelihan tersebut dengan seekor kibas.
Yang Allah inginkan bukan darah Ismail.
Yang Allah inginkan adalah hati Ibrahim yang sepenuhnya tunduk.
Rasulullah ﷺ: Manusia Paling Ridha kepada Allah
Seluruh kehidupan Rasulullah ﷺ adalah teladan tafwidh.
Beliau kehilangan ayah sebelum lahir.
Kehilangan ibu ketika kecil.
Kehilangan istri tercinta.
Kehilangan hampir seluruh putranya.
Diusir dari kampung halaman.
Dilempari batu di Thaif.
Diperangi bertahun-tahun.
Namun tidak pernah sekalipun beliau menyalahkan takdir Allah.
Beliau justru berdoa:
"Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli."
Inilah maqam ridha yang menjadi puncak kematangan ruhani.
Tafwidh sebagai Fondasi Dakwah Ideologis
Dakwah bukan sekadar menyampaikan ilmu.
Dakwah adalah perjuangan menegakkan kalimat Allah.
Seorang dai akan menghadapi:
• penolakan,
• fitnah,
• caci maki,
• kegagalan,
• keterbatasan.
Jika ia hanya bergantung kepada hasil, ia akan mudah putus asa.
Tetapi jika ia bertafwidh, ia memahami bahwa tugasnya hanyalah menyampaikan kebenaran.
Hidayah sepenuhnya milik Allah.
Karena itu para nabi tidak pernah berhenti berdakwah meskipun ditolak selama ratusan tahun.
Tafwidh Melahirkan Peradaban Islam
Peradaban Islam tidak dibangun oleh orang-orang yang mengejar dunia.
Ia dibangun oleh manusia yang yakin bahwa seluruh urusan berada di tangan Allah.
Keyakinan inilah yang melahirkan keberanian.
Mengapa para sahabat mampu menaklukkan imperium besar?
Karena mereka tidak takut kehilangan dunia.
Mengapa ulama mampu mempertahankan kebenaran di hadapan penguasa zalim?
Karena hati mereka telah bebas dari ketergantungan kepada makhluk.
Peradaban Islam lahir dari hati yang bertawakal, berpikir jernih, bekerja keras, dan bertafwidh kepada Allah.
Tanda-Tanda Orang yang Bertafwidh
Orang yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah memiliki ciri-ciri:
• tenang ketika menghadapi ujian;
• tidak sombong ketika berhasil;
• tidak putus asa ketika gagal;
• mudah memaafkan;
• sedikit mengeluh;
• banyak bersyukur;
• lapang dada menerima takdir;
• optimis terhadap rahmat Allah;
• tidak iri terhadap nikmat orang lain;
• hidupnya dipenuhi ketenteraman.
Bukan berarti ia tidak memiliki masalah.
Namun masalah tidak lagi menguasai hatinya.
Aplikasi Praktis dalam Kehidupan Sehari-hari
Tafwidh bukan hanya konsep tasawuf, tetapi harus menjadi karakter hidup seorang muslim.
Beberapa langkah untuk melatihnya antara lain:
1. Memperkuat akidah bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.
2. Meluruskan niat dalam setiap amal agar semata-mata mencari ridha Allah.
3. Berikhtiar secara maksimal tanpa bergantung kepada hasil.
4. Memperbanyak doa, zikir, dan istighfar sebagai sarana menyandarkan hati kepada Allah.
5. Membiasakan ridha terhadap setiap ketetapan Allah, baik yang menyenangkan maupun yang terasa berat.
6. Melakukan muhasabah setiap hari agar hati tidak dikuasai oleh ambisi dunia.
7. Memperbanyak membaca dan merenungkan Al-Hikam karya Ibnu Athaillah, karena kitab ini mendidik hati agar selalu melihat Allah dalam setiap peristiwa.
Epilog: Ketika Hati Tidak Lagi Mengatur, Tetapi Diatur Allah
Puncak perjalanan seorang hamba bukanlah ketika ia mampu mengendalikan dunia, melainkan ketika ia rela dikendalikan oleh kehendak Allah.
Inilah maqam para nabi, para siddiqin, para syuhada, dan para salihin.
Hati mereka tidak lagi sibuk bertanya, "Mengapa ini terjadi?", melainkan berkata, "Apa hikmah yang Allah kehendaki dariku?"
Orang yang hidup dengan tafwidh tidak kehilangan semangat untuk berusaha. Sebaliknya, ia bekerja lebih sungguh-sungguh karena menyadari bahwa ikhtiar adalah bentuk ketaatan, sedangkan hasil adalah hak prerogatif Allah.
Ketika seluruh maqam disempurnakan oleh kepasrahan kepada pengaturan Allah, lahirlah pribadi yang kokoh dalam akidah, jernih dalam berpikir, mulia dalam akhlak, tangguh dalam perjuangan, dan damai dalam jiwanya. Dari pribadi-pribadi seperti inilah akan lahir keluarga yang sakinah, masyarakat yang berkeadaban, dan peradaban Islam yang memancarkan rahmat bagi seluruh alam.
Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita hati yang selalu ridha terhadap ketetapan-Nya, kekuatan untuk berikhtiar di jalan yang diridhai-Nya, serta kemampuan untuk menyerahkan seluruh urusan hanya kepada-Nya. Aamiin.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit)