Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Jangan Lelah Mengurus Rezeki yang Sudah Diurus Allah

Jumat, 10 Juli 2026 | 05:47 WIB Last Updated 2026-07-09T22:47:54Z

TintaSiyasi.id -- Jangan Lelah Mengurus Rezeki yang Sudah Diurus Allah

Menyelaraskan Ikhtiar, Ibadah, dan Tawakal dalam Cahaya Tauhid

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Segala puji hanya milik Allah Swt., Rab semesta alam. Dialah Yang Maha Mengatur seluruh urusan makhluk-Nya, Yang Maha Mengetahui segala yang tampak maupun yang tersembunyi, dan Yang Maha Bijaksana dalam menetapkan setiap takdir. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad , teladan tertinggi dalam bekerja dengan sungguh-sungguh, beribadah dengan khusyuk, dan bertawakal dengan sempurna.

 

Hakikat Kelelahan Manusia

Di antara kelelahan terbesar yang dialami manusia bukanlah karena beratnya pekerjaan, melainkan karena ia mengambil alih urusan yang menjadi hak Allah.

Ia sibuk memikirkan sesuatu yang belum terjadi.

Ia gelisah terhadap rezeki yang belum datang.

Ia cemas terhadap jodoh yang belum dipertemukan.

Ia takut terhadap masa depan yang belum ditakdirkan.

Padahal semua itu berada di bawah kekuasaan Allah semata.

Syekh Ibnu 'Athaillah as-Sakandari mengingatkan agar manusia tidak menghabiskan energi dan ketenangan jiwanya untuk mengurus sesuatu yang telah diurus oleh Penguasanya. Rezeki, ajal, jodoh, kesehatan, dan seluruh perjalanan hidup telah berada dalam ilmu Allah sejak sebelum langit dan bumi diciptakan. Semua telah tertulis di lauhulmahfuz sesuai hikmah dan keadilan-Nya.

Kesadaran ini bukan untuk mematikan semangat bekerja, tetapi untuk membebaskan hati dari kecemasan yang tidak perlu.

 

Rezeki Telah Ditakar dengan Sempurna

Di zaman yang dipenuhi persaingan ekonomi, manusia sering merasa bahwa seluruh hidupnya bergantung pada pekerjaannya.

Akibatnya, pekerjaan menjadi pusat kehidupannya.

Waktu salat dikorbankan.

Majelis ilmu ditinggalkan.

Al-Qur'an jarang dibaca.

Keluarga terabaikan.

Hati menjadi keras karena seluruh perhatian hanya tertuju kepada dunia.

Seolah-olah jika ia berhenti bekerja sesaat, rezekinya akan berhenti mengalir.

Inilah ilusi terbesar yang ditanamkan oleh cara pandang materialistis.

Islam mengajarkan sesuatu yang jauh lebih menenangkan.

Rezeki bukan diciptakan oleh perusahaan.

Bukan dihasilkan oleh pasar.

Bukan pula ditentukan oleh pelanggan.

Semua itu hanyalah sebab.

Sedangkan Ar-Razzaq, Sang Maha Pemberi Rezeki, hanyalah Allah Swt..

Allah berfirman,

Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya. (QS Hud: 6)

Jaminan ini bukan berarti manusia boleh bermalas-malasan, melainkan agar ia bekerja dengan tenang, bukan dengan ketakutan.

 

Tauhid Membebaskan Hati dari Kecemasan

Seseorang yang benar-benar mengenal Allah akan menyadari bahwa dirinya hanyalah hamba.

Tugas seorang hamba hanyalah melaksanakan perintah.

Sedangkan hasil seluruh amal berada di tangan Rab-nya.

Karena itu, seorang mukmin tidak pernah menyembah pekerjaannya.

Ia tidak mempertuhankan bisnisnya.

Ia tidak menggantungkan hidupnya kepada jabatan.

Ia menggantungkan seluruh harapannya kepada Allah.

Inilah buah tauhid.

Tauhid bukan sekadar keyakinan di dalam akal, tetapi ketenangan yang memenuhi hati.

Semakin kuat tauhid seseorang, semakin sedikit rasa takutnya kepada dunia.

Semakin lemah tauhidnya, semakin besar kecemasannya terhadap rezeki.

 

Bekerja Adalah Perintah, Gelisah Bukan

Islam adalah agama yang sangat menghargai kerja keras.

Rasulullah adalah seorang pedagang yang jujur.

Para sahabat adalah petani, pedagang, pengrajin, panglima, dan pemimpin yang bekerja dengan penuh tanggung jawab.

Namun mereka tidak pernah menjadikan pekerjaan sebagai sumber ketenangan.

Ketenangan mereka berasal dari keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba yang bertakwa.

Mereka bekerja karena diperintah Allah.

Mereka beribadah karena diperintah Allah.

Mereka berdakwah karena diperintah Allah.

Seluruh aktivitas mereka menjadi ibadah karena dilakukan dengan niat mencari rida-Nya.

 

Jangan Korbankan Akhirat demi Dunia

Banyak orang berkata,

"Saya belum sempat mengaji karena sibuk mencari nafkah."

"Saya belum sempat berdakwah karena mengejar target."

"Saya belum sempat salat berjemaah karena pekerjaan."

Padahal rezeki yang dikejarnya telah Allah tetapkan.

Ironisnya, ia justru meninggalkan kewajiban yang benar-benar akan ditanya pada hari kiamat.

Setan selalu menanamkan rasa takut miskin agar manusia melalaikan ibadah.

Padahal Allah berjanji akan mencukupi kebutuhan orang-orang yang bertakwa.

Allah SWT. berfirman,

"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (QS At-Talaq: 2–3)

Inilah janji Allah.

Dan janji Allah tidak pernah diingkari.

 

Tawakal Melahirkan Ketenangan

Tawakal bukan berarti berhenti bekerja.

Tawakal adalah bekerja dengan sungguh-sungguh sambil menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah.

Seorang petani tetap menanam.

Pedagang tetap berdagang.

Guru tetap mengajar.

Dokter tetap mengobati.

Dai tetap berdakwah.

Namun setelah itu, hati mereka tidak dipenuhi kecemasan.

Karena mereka sadar bahwa keberhasilan bukan milik usaha, melainkan karunia Allah.

Orang yang bertawakal akan tetap bersyukur ketika diberi kelapangan.

Dan tetap rida ketika diberi kesempitan.

Ia yakin bahwa semua ketetapan Allah pasti mengandung hikmah.

 

Peradaban Islam Dibangun oleh Orang yang Bertawakal

Islam tidak menghendaki umat yang malas.

Islam menghendaki umat yang bekerja keras, tetapi tidak diperbudak oleh dunia.

Membangun ekonomi tanpa menjadi materialis.

Menguasai teknologi tanpa melupakan akhirat.

Mengelola kekayaan tanpa diperbudak kekayaan.

Menjadi pemimpin tanpa kehilangan ketakwaan.

Peradaban Islam lahir ketika manusia menjadikan Allah sebagai tujuan, bukan dunia.

Harta menjadi alat dakwah.

Ilmu menjadi jalan membimbing umat.

Kekuasaan menjadi sarana menegakkan keadilan.

Seluruh aktivitas dunia diarahkan untuk menggapai rida Allah.

 

Renungan

Berapa banyak malam yang hilang karena mencemaskan rezeki?

Berapa banyak air mata yang tumpah karena takut miskin?

Padahal Allah belum pernah berhenti memberi kita nikmat sejak kita masih berada di dalam rahim ibu.

Jika udara yang kita hirup setiap detik saja diberikan tanpa diminta, mengapa kita meragukan rezeki yang telah Allah tetapkan?

Mengapa kita lebih percaya kepada saldo rekening daripada janji Allah?

Mengapa kita lebih takut kehilangan pekerjaan daripada kehilangan iman?

Bukankah Allah yang selama ini memberi makan burung di langit, ikan di lautan, dan semut di dalam tanah juga mampu mencukupi kebutuhan hamba-hamba-Nya yang bertakwa?

Karena itu, bekerjalah dengan penuh tanggung jawab.

Beribadahlah dengan penuh kekhusyukan.

Berdakwahlah dengan penuh keikhlasan.

Lalu serahkan seluruh hasilnya kepada Allah.

Sebab ketenangan sejati bukan berasal dari banyaknya penghasilan, tetapi dari keyakinan bahwa Allah adalah sebaik-baik penjamin rezeki.


Doa

اللهم اكفنا بحلالك عن حرامك، وأغننا بفضلك عمن سواك، وارزقنا رزقًا حلالًا طيبًا مباركًا، واجعل الدنيا في أيدينا ولا تجعلها في قلوبنا، واجعل ثقتنا بك أعظم من ثقتنا بكل أسباب الدنيا، إنك على كل شيء قدير. آمين.

Artinya:

"Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezeki-Mu yang halal sehingga kami tidak membutuhkan yang haram. Kayakanlah kami dengan karunia-Mu sehingga kami tidak bergantung kepada selain-Mu. Anugerahkanlah kepada kami rezeki yang halal, baik, dan penuh keberkahan. Jadikan dunia berada di tangan kami, bukan di dalam hati kami. Jadikan keyakinan kami kepada-Mu lebih besar daripada keyakinan kami kepada seluruh sebab dunia. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Aamiin Ya Rabal 'Alamin."

 

 

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.

Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit

Opini

×
Berita Terbaru Update