Menyelaraskan Ikhtiar, Ibadah, dan
Tawakal dalam Cahaya Tauhid
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji hanya milik Allah Swt., Rab
semesta alam. Dialah Yang Maha Mengatur seluruh urusan makhluk-Nya, Yang Maha
Mengetahui segala yang tampak maupun yang tersembunyi, dan Yang Maha Bijaksana
dalam menetapkan setiap takdir. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah
kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan tertinggi
dalam bekerja dengan sungguh-sungguh, beribadah dengan khusyuk, dan bertawakal
dengan sempurna.
Hakikat Kelelahan Manusia
Di antara kelelahan terbesar yang
dialami manusia bukanlah karena beratnya pekerjaan, melainkan karena ia
mengambil alih urusan yang menjadi hak Allah.
Ia sibuk memikirkan sesuatu yang belum
terjadi.
Ia gelisah terhadap rezeki yang belum
datang.
Ia cemas terhadap jodoh yang belum
dipertemukan.
Ia takut terhadap masa depan yang
belum ditakdirkan.
Padahal semua itu berada di bawah
kekuasaan Allah semata.
Syekh Ibnu 'Athaillah as-Sakandari
mengingatkan agar manusia tidak menghabiskan energi dan ketenangan jiwanya
untuk mengurus sesuatu yang telah diurus oleh Penguasanya. Rezeki, ajal, jodoh,
kesehatan, dan seluruh perjalanan hidup telah berada dalam ilmu Allah sejak
sebelum langit dan bumi diciptakan. Semua telah tertulis di lauhulmahfuz sesuai
hikmah dan keadilan-Nya.
Kesadaran ini bukan untuk mematikan
semangat bekerja, tetapi untuk membebaskan hati dari kecemasan yang tidak
perlu.
Rezeki Telah Ditakar dengan Sempurna
Di zaman yang dipenuhi persaingan
ekonomi, manusia sering merasa bahwa seluruh hidupnya bergantung pada
pekerjaannya.
Akibatnya, pekerjaan menjadi pusat
kehidupannya.
Waktu salat dikorbankan.
Majelis ilmu ditinggalkan.
Al-Qur'an jarang dibaca.
Keluarga terabaikan.
Hati menjadi keras karena seluruh
perhatian hanya tertuju kepada dunia.
Seolah-olah jika ia berhenti bekerja
sesaat, rezekinya akan berhenti mengalir.
Inilah ilusi terbesar yang ditanamkan
oleh cara pandang materialistis.
Islam mengajarkan sesuatu yang jauh
lebih menenangkan.
Rezeki bukan diciptakan oleh
perusahaan.
Bukan dihasilkan oleh pasar.
Bukan pula ditentukan oleh pelanggan.
Semua itu hanyalah sebab.
Sedangkan Ar-Razzaq, Sang Maha Pemberi
Rezeki, hanyalah Allah Swt..
Allah berfirman,
Dan tidak ada satu pun makhluk
bergerak di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya. (QS Hud:
6)
Jaminan ini bukan berarti manusia
boleh bermalas-malasan, melainkan agar ia bekerja dengan tenang, bukan dengan
ketakutan.
Tauhid Membebaskan Hati dari Kecemasan
Seseorang yang benar-benar mengenal
Allah akan menyadari bahwa dirinya hanyalah hamba.
Tugas seorang hamba hanyalah
melaksanakan perintah.
Sedangkan hasil seluruh amal berada di
tangan Rab-nya.
Karena itu, seorang mukmin tidak
pernah menyembah pekerjaannya.
Ia tidak mempertuhankan bisnisnya.
Ia tidak menggantungkan hidupnya
kepada jabatan.
Ia menggantungkan seluruh harapannya
kepada Allah.
Inilah buah tauhid.
Tauhid bukan sekadar keyakinan di
dalam akal, tetapi ketenangan yang memenuhi hati.
Semakin kuat tauhid seseorang, semakin
sedikit rasa takutnya kepada dunia.
Semakin lemah tauhidnya, semakin besar
kecemasannya terhadap rezeki.
Bekerja Adalah Perintah, Gelisah Bukan
Islam adalah agama yang sangat
menghargai kerja keras.
Rasulullah ﷺ
adalah seorang pedagang yang jujur.
Para sahabat adalah petani, pedagang,
pengrajin, panglima, dan pemimpin yang bekerja dengan penuh tanggung jawab.
Namun mereka tidak pernah menjadikan
pekerjaan sebagai sumber ketenangan.
Ketenangan mereka berasal dari
keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba yang bertakwa.
Mereka bekerja karena diperintah
Allah.
Mereka beribadah karena diperintah
Allah.
Mereka berdakwah karena diperintah
Allah.
Seluruh aktivitas mereka menjadi
ibadah karena dilakukan dengan niat mencari rida-Nya.
Jangan Korbankan Akhirat demi Dunia
Banyak orang berkata,
"Saya belum sempat mengaji karena
sibuk mencari nafkah."
"Saya belum sempat berdakwah
karena mengejar target."
"Saya belum sempat salat berjemaah
karena pekerjaan."
Padahal rezeki yang dikejarnya telah
Allah tetapkan.
Ironisnya, ia justru meninggalkan
kewajiban yang benar-benar akan ditanya pada hari kiamat.
Setan selalu menanamkan rasa takut
miskin agar manusia melalaikan ibadah.
Padahal Allah berjanji akan mencukupi
kebutuhan orang-orang yang bertakwa.
Allah SWT. berfirman,
"Barang siapa bertakwa kepada
Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki
dari arah yang tidak disangka-sangka." (QS At-Talaq: 2–3)
Inilah janji Allah.
Dan janji Allah tidak pernah
diingkari.
Tawakal Melahirkan Ketenangan
Tawakal bukan berarti berhenti
bekerja.
Tawakal adalah bekerja dengan
sungguh-sungguh sambil menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah.
Seorang petani tetap menanam.
Pedagang tetap berdagang.
Guru tetap mengajar.
Dokter tetap mengobati.
Dai tetap berdakwah.
Namun setelah itu, hati mereka tidak
dipenuhi kecemasan.
Karena mereka sadar bahwa keberhasilan
bukan milik usaha, melainkan karunia Allah.
Orang yang bertawakal akan tetap
bersyukur ketika diberi kelapangan.
Dan tetap rida ketika diberi
kesempitan.
Ia yakin bahwa semua ketetapan Allah
pasti mengandung hikmah.
Peradaban Islam Dibangun oleh Orang
yang Bertawakal
Islam tidak menghendaki umat yang
malas.
Islam menghendaki umat yang bekerja
keras, tetapi tidak diperbudak oleh dunia.
Membangun ekonomi tanpa menjadi
materialis.
Menguasai teknologi tanpa melupakan
akhirat.
Mengelola kekayaan tanpa diperbudak
kekayaan.
Menjadi pemimpin tanpa kehilangan
ketakwaan.
Peradaban Islam lahir ketika manusia
menjadikan Allah sebagai tujuan, bukan dunia.
Harta menjadi alat dakwah.
Ilmu menjadi jalan membimbing umat.
Kekuasaan menjadi sarana menegakkan
keadilan.
Seluruh aktivitas dunia diarahkan
untuk menggapai rida Allah.
Renungan
Berapa banyak malam yang hilang karena
mencemaskan rezeki?
Berapa banyak air mata yang tumpah
karena takut miskin?
Padahal Allah belum pernah berhenti
memberi kita nikmat sejak kita masih berada di dalam rahim ibu.
Jika udara yang kita hirup setiap
detik saja diberikan tanpa diminta, mengapa kita meragukan rezeki yang telah
Allah tetapkan?
Mengapa kita lebih percaya kepada
saldo rekening daripada janji Allah?
Mengapa kita lebih takut kehilangan
pekerjaan daripada kehilangan iman?
Bukankah Allah yang selama ini memberi
makan burung di langit, ikan di lautan, dan semut di dalam tanah juga mampu
mencukupi kebutuhan hamba-hamba-Nya yang bertakwa?
Karena itu, bekerjalah dengan penuh
tanggung jawab.
Beribadahlah dengan penuh kekhusyukan.
Berdakwahlah dengan penuh keikhlasan.
Lalu serahkan seluruh hasilnya kepada
Allah.
Sebab ketenangan sejati bukan berasal
dari banyaknya penghasilan, tetapi dari keyakinan bahwa Allah adalah
sebaik-baik penjamin rezeki.
Doa
اللهم اكفنا بحلالك عن حرامك، وأغننا بفضلك عمن سواك، وارزقنا رزقًا
حلالًا طيبًا مباركًا، واجعل الدنيا في أيدينا ولا تجعلها في قلوبنا، واجعل ثقتنا
بك أعظم من ثقتنا بكل أسباب الدنيا، إنك على كل شيء قدير. آمين.
Artinya:
"Ya Allah, cukupkanlah kami
dengan rezeki-Mu yang halal sehingga kami tidak membutuhkan yang haram.
Kayakanlah kami dengan karunia-Mu sehingga kami tidak bergantung kepada
selain-Mu. Anugerahkanlah kepada kami rezeki yang halal, baik, dan penuh keberkahan.
Jadikan dunia berada di tangan kami, bukan di dalam hati kami. Jadikan
keyakinan kami kepada-Mu lebih besar daripada keyakinan kami kepada seluruh
sebab dunia. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Aamiin Ya Rabal
'Alamin."
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan
Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit