Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Iman kepada yang Gaib Bukan Pengingkaran Rasionalitas maupun Tradisi Ilmiah

Selasa, 28 Juli 2026 | 06:49 WIB Last Updated 2026-07-27T23:49:31Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa iman kepada perkara gaib tidak bertentangan dengan rasionalitas maupun tradisi ilmiah. “Iman kepada perkara gaib tidak bertentangan dengan rasionalitas maupun tradisi ilmiah,” tuturnya kepada TintaSiyasi.ID, Senin (27/07/2026).

 

“Sebaliknya, keyakinan terhadap yang gaib merupakan pengakuan rasional bahwa realitas jauh lebih luas daripada jangkauan indra dan kemampuan observasi manusia,” jelasnya.

 

“Iman kepada yang gaib bukan pengingkaran terhadap rasionalitas. Ia justru merupakan pengakuan rasional bahwa realitas lebih luas daripada kemampuan indra manusia,” ulas HILMI dalam Letter to Intellectuals No. 007 bertajuk Iman kepada yang Gaib di Tengah Tradisi Ilmiah.

 

Dalam dokumen tersebut dijelaskan HILMI bahwa salah satu ciri utama orang bertakwa adalah beriman kepada perkara gaib sebagaimana disebutkan pada awal Surah Al-Baqarah.

 

Namun, ia mengakui bahwa bagi kalangan ilmuwan yang terbiasa berpikir empiris, terukur, dan dapat diverifikasi, keyakinan terhadap malaikat, surga, neraka, pahala, dosa, maupun berbagai realitas gaib lainnya sering memunculkan pertanyaan epistemologis.

 

“Apakah mempercayai perkara gaib berarti meninggalkan rasionalitas? Jika segala sesuatu yang tidak terlihat boleh dipercaya, apa bedanya iman dengan tahayul, mitos, dan khurafat?” tulis HILMI menguraikan pertanyaan yang kerap muncul di kalangan akademisi.

 

Menurut HILMI, Islam justru tidak menghendaki umatnya menjadi manusia yang mudah mempercayai setiap cerita yang tidak jelas sumbernya. “Karena itu, iman kepada yang gaib harus dibedakan secara tegas dari taklid, spekulasi, maupun kepercayaan tanpa dalil,” lugasnya.

 

Ia menjelaskan bahwa istilah gaib berarti sesuatu yang berada di luar jangkauan pengamatan langsung manusia, tetapi tidak otomatis berarti mustahil atau bertentangan dengan logika.

 

“Dalam dunia sains sendiri banyak realitas yang tidak diamati secara langsung, namun diterima keberadaannya melalui dampak dan bukti yang dapat diuji,” ujarnya.

 

“Atom tidak dilihat dengan mata telanjang, lubang hitam tidak diamati seperti orang melihat gunung, tetapi keberadaannya diketahui melalui efek yang ditimbulkannya,” paparnya.

 

Karena itu, HILMI menilai kaidah “tidak terlihat berarti tidak ada” bukanlah kaidah ilmiah. “Sains hanya dapat menyatakan bahwa sesuatu belum dapat dideteksi dengan metode tertentu, bukan memastikan bahwa realitas terbatas pada hal-hal yang dapat diukur manusia,” tegasnya.

 

Lebih lanjut, HILMI menerangkan bahwa manusia memperoleh pengetahuan melalui tiga jalur utama, yakni pengindraan, penalaran, dan informasi yang terpercaya.

 

“Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar pengetahuan manusia justru diperoleh melalui informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Mahasiswa menerima teori dari dosen, pasien mempercayai diagnosis dokter, dan ilmuwan membaca jurnal karena meyakini kredibilitas sumbernya,” jelasnya.

 

Atas dasar itu, HILMI menyatakan bahwa perkara gaib dalam Islam diterima melalui wahyu setelah terlebih dahulu dibuktikan kebenaran sumbernya.

 

“Akal digunakan untuk menilai keberadaan Sang Pencipta, kerasulan Nabi Muhammad saw., dan autentisitas Al-Qur’an. Setelah sumbernya terbukti benar, maka informasi tentang perkara gaib diterima berdasarkan kredibilitas sumber tersebut,” tuturnya.

 

“Yang dibuktikan bukan keberadaan malaikat melalui mikroskop atau neraka melalui teleskop, melainkan kebenaran sumber berita yang menyampaikannya,” terangnya.

 

Dalam pembahasannya, HILMI juga mengulas persoalan mukjizat para nabi yang sering dianggap bertentangan dengan hukum alam. “Hukum alam bukanlah kekuatan yang berdiri di atas Tuhan, melainkan pola keteraturan yang ditetapkan Allah terhadap ciptaan-Nya,” sebutnya.

 

“Hukum alam menjelaskan bagaimana alam biasanya bekerja, sedangkan mukjizat merupakan pengecualian yang terjadi atas kehendak Allah,” imbuhnya.

 

HILMI mencontohkan kisah laut yang terbelah pada masa Nabi Musa as., api yang tidak membakar Nabi Ibrahim as., hingga peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad saw. sebagai kejadian luar biasa yang tidak bertentangan dengan logika, meskipun tidak termasuk peristiwa yang lazim terjadi.

 

Selain itu, HILMI mengingatkan bahwa beriman kepada yang gaib bukan berarti mempercayai semua hal yang terdengar misterius atau supranatural. “Islam justru memerintahkan umatnya bersikap disiplin secara epistemologis dengan menerima perkara yang memiliki dalil, menahan diri terhadap yang belum jelas, dan menolak keyakinan yang bertentangan dengan tauhid,” tegasnya.

 

“Percaya bahwa jin ada tidak berarti setiap peristiwa aneh pasti disebabkan oleh jin,” tandasnya.

 

HILMI juga menyoroti bahaya spekulasi agama yang kerap muncul ketika informasi wahyu yang terbatas diperluas dengan imajinasi dan teori-teori yang tidak memiliki dasar yang kuat.

 

“Bahaya utamanya adalah kaburnya batas antara wahyu dan tafsir manusia. Ketika prediksi spekulatif gagal, masyarakat bisa mengira ajaran Islam yang keliru, padahal yang keliru adalah penafsirannya,” ulasnya.

 

Karena itu, ungkapan Allahu a’lam dinilai memiliki nilai ilmiah yang tinggi karena menunjukkan kesadaran akan keterbatasan pengetahuan manusia.

 

“Seorang ilmuwan yang baik tidak malu mengatakan ‘data belum cukup’. Seorang Muslim yang baik pun tidak malu mengatakan ‘Allah lebih mengetahui’,” tuturnya.

 

Pada akhirnya, HILMI menegaskan bahwa keseimbangan antara sains, akal, dan wahyu merupakan fondasi penting dalam membangun cara pandang ilmiah seorang Muslim.

 

“Sikap seorang ilmuwan Muslim seharusnya jelas: tidak menolak perkara gaib hanya karena tidak dapat dilihat, tetapi juga tidak mempercayai setiap cerita aneh hanya karena terdengar religius,” simpulnya.

 

“Islam menjaga umatnya agar tidak jatuh ke dalam tahayul dan khurafat dengan mensyaratkan dalil, kehati-hatian, dan kejujuran intelektual,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update