Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Guru dan Dosen Tidak Butuh Tepuk Tangan, Mereka Butuh Keadilan

Minggu, 05 Juli 2026 | 12:22 WIB Last Updated 2026-07-05T05:22:40Z
TintaSiyasi.id -- Dalam setiap pidato kenegaraan, pendidikan selalu disebut sebagai pilar kemajuan bangsa. Guru dijuluki pahlawan tanpa tanda jasa, dosennya disebut pencetak generasi unggul. Kata-kata itu terdengar indah. Namun, keindahan retorika sering kali tidak sejalan dengan kenyataan.

Masih banyak guru dan dosen yang mengabdi dengan penghasilan yang terbatas, bahkan ada yang belum memperoleh kesejahteraan yang memadai. Mereka mengajar bukan karena mengejar kemewahan, melainkan karena panggilan hati nurani. Ironisnya, pengabdian yang begitu besar tidak selalu diikuti oleh penghargaan yang setara.

Pada saat yang sama, pemerintah mengalokasikan anggaran yang besar untuk berbagai program nasional. Setiap program tentu dapat memiliki tujuan yang baik, tetapi dalam demokrasi, masyarakat berhak menyerap bagaimana prioritas anggaran yang ditetapkan. Apakah investasi pada pendidikan—termasuk kesejahteraan guru dan dosen—telah mendapat perhatian yang memadai? Pertanyaan ini bukan bentuk persetujuan terhadap program lain, melainkan ajakan untuk memastikan bahwa pendidikan tidak tertinggal.

Masa depan bangsa tidak dibangun hanya dengan proyek-proyek yang tampak secara fisik. Ia dibangun di ruang-ruang kelas, di perpustakaan, di laboratorium, dan di hadapan papan tulis, ketika seorang guru menanamkan nilai-nilai kejujuran dan seorang dosen menumbuhkan daya berpikir kritis.

Lebih buruk lagi apabila guru dan dosen diminta terus meningkatkan kualitas, menghasilkan lulusan unggul, menguasai teknologi, melakukan penelitian, dan memenuhi berbagai beban administrasi, sementara kesejahteraan mereka masih menjadi persoalan. Sulit mengharapkan pendidikan yang unggul jika para pendidiknya terus dibayangi oleh ekonomi yang mendalam.

Sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa maju menjadikan pendidikan sebagai investasi strategis, bukan sekadar pos pengeluaran. Mereka memahami bahwa setiap rupiah yang digunakan untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan pendidik akan kembali berlipat ganda dalam bentuk produktivitas, inovasi, dan kemajuan masyarakat.

Kritik terhadap kebijakan publik seharusnya tidak dipahami sebagai permusuhan. Kritik adalah bentuk kepedulian agar negara terus memperbaiki diri. Pemerintah, parlemen, perguruan tinggi, dan masyarakat mempunyai tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa pendidikan benar-benar menjadi prioritas, baik dari sisi kualitas maupun diberikan kepada para pendidiknya.

Pada akhirnya, sebuah bangsa akan dikenang bukan hanya karena gedung-gedung megah atau program-program besarnya, tetapi karena bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang mendidik generasi penerusnya.

Sebab guru dan dosen tidak meminta untuk dipuja. Mereka hanya berharap pengabdiannya dihargai secara adil. Ketika keadilan hadir bagi para pendidik, sesungguhnya negara sedang menanam benih bagi masa depan yang lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih bermartabat.

Dr Nasrul Syarif M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.

Opini

×
Berita Terbaru Update