TintaSiyasi.id -- Aktivis Muslimah Malaysia Dr. Aslam Diyana menyatakan bahwa Muslimah perlu mengambil peran sebagai pemengaruh (influencer) yang bervisi Islam. “Muslimah perlu mengambil peran sebagai pemengaruh (influencer) yang bervisi Islam,” lugasnya.
Dia menyebutkan bahwa influencer
yang dimaksud Adalah yang mampu memengaruhi umat melalui posisinya di tengah
masyarakat serta keterlibatannya di ruang digital.
"Ketika kita membahas
tentang influencer, sebenarnya poin yang ingin kita sampaikan adalah influencer
yang mampu memengaruhi umat melalui kedudukannya di dalam masyarakat dan, pada
saat yang sama, memiliki peran dalam era digital," ujarnya dalam Open
Circle Sahabat Muslimah: Siri Kita Bangkit! bertajuk Menjadi Influencer Bervisi
Islam, Sabtu (06/06/2026).
Menurutnya, keterbukaan dunia
digital membuat masyarakat terekspos pada beragam informasi, budaya, dan
pemikiran.
“Oleh karena itu, penting bagi
Muslimah untuk menjadi agen yang membangkitkan kesadaran, yang mampu
mengintegrasikan atau menghubungkan kehidupan di dunia digital dengan kehidupan
di dunia nyata,” sarannya.
Ia mengungkapkan, "Banyak
informasi yang beredar di dunia digital tidak melalui proses penyaringan,
sehingga melahirkan perilaku masyarakat yang semakin menjauh dari agama."
"Ada sekelompok orang yang
secara terbuka menyatakan atau bahkan menantang keberadaan Tuhan. Hingga
kemudian kita melihat, belum lama ini, terjadinya apa yang kita sebut sebagai
bencana,” ujarnya.
“Namun, sejauh mana manusia
memandang peristiwa tersebut sebagai pelajaran, bahwa itu sebenarnya merupakan
peringatan terhadap kehidupan yang sedang berlangsung saat ini?" ungkapnya
dengan nada prihatin saat memberikan contoh kerusakan yang terjadi di tengah
masyarakat.
Ia melanjutkan, "Yang sangat
kami khawatirkan adalah ketika manusia hanya melihat atau menganggap peristiwa
itu sekadar bencana alam, bukan sebagai peringatan dari Allah agar kita kembali
kepada fitrah."
Karena itu, menurut Dr. Aslam, influencer
yang bervisi Islam harus membentuk pola pikir berdasarkan Al-Qur'an dan sunah
serta memahami ajaran Islam agar mampu membimbing masyarakat keluar dari
kerusakan pemikiran dan perilaku.
"Inilah hakikat kegelapan (zulmat)
yang membutakan masyarakat sebagaimana diperingatkan dalam Al-Qur'an. Secara
keseluruhan kita memahami bahwa Al-Qur'an adalah kompas kehidupan yang pasti,
yang memang harus kita jadikan pegangan," jelasnya saat menerangkan
kandungan surah Ibrahim ayat 1.
Islam dan Literasi Digital
Menurut Diyana, selain
memperdalam tsaqafah Islam, Muslimah juga perlu menguasai keterampilan digital
agar pesan-pesan Islam dapat disampaikan dengan lebih cepat, menarik, dan
menjangkau masyarakat yang lebih luas.
"Dengan menguasai ilmu
digital, penyebaran informasi menjadi lebih cepat dan kita dapat
menyebarluaskan lebih banyak informasi," katanya.
Ia menjelaskan bahwa teknologi
digital memiliki potensi yang sangat strategis karena satu gagasan yang
dipublikasikan dapat tersebar kepada banyak orang dalam waktu singkat.
"Kalau dahulu kita harus
menyampaikan satu gagasan dari mulut ke mulut, sekarang di dunia digital kita
cukup menebarkan satu ide dan ia dapat menyebar seperti benih," ujarnya.
Meski demikian, pada saat yang
sama ia menegaskan bahwa Muslimah tetap harus hadir dan berperan secara nyata
di tengah masyarakat.
"Kita juga harus berperan
dalam bermasyarakat agar kita berada di dalam komunitas dan tetap
relevan," jelasnya.
Selanjutnya, ia membedakan antara
influencer yang bervisi Islam dan influencer yang berorientasi
kapitalis.
"Mengapa orang ingin menjadi
influencer? Karena mereka tahu bahwa ketika menjadi influencer
mereka akan memperoleh popularitas, dan selain itu mereka memiliki orientasi
pada uang. Ukurannya hanya sebatas jumlah views dan likes,"
katanya.
Sebaliknya, Diyana menegaskan
bahwa influencer yang bervisi Islam harus menggunakan pengaruhnya untuk
mengubah pola pikir masyarakat secara kolektif, membangun kesadaran, dan
mengarahkan umat kepada kehidupan yang berlandaskan Islam.
"Influencer yang
memiliki visi Islam akan mengubah pola pikir masyarakat secara kolektif, dan
hal itu merupakan amal jariah yang pahalanya terus mengalir," terangnya.
Ia juga menjelaskan bahwa sebuah
konten Islam tetap berpotensi memberikan pengaruh meskipun tidak memperoleh
banyak respons, karena gagasan yang disampaikan dapat melekat dalam pikiran
pembaca sebelum berkembang menjadi diskusi yang lebih luas di tengah masyarakat.
"Kadang-kadang mungkin kita
tidak terkenal, tetapi pengaruh dari sebuah ide dapat menjadi pemicu dan
kemudian berkembang. Karena itulah penting bagi kita untuk terus menyampaikan
gagasan-gagasan tersebut, meskipun terlihat langka atau tidak populer,"
ujarnya memberikan motivasi.
Selain itu, menurutnya, influencer
yang bervisi Islam juga perlu membangun literasi politik Islam agar masyarakat
memahami isu-isu kontemporer, persoalan umat, serta solusi yang ditawarkan
Islam.
"Itulah sebabnya, untuk
menjadi pencetus kesadaran perlu membangun literasi politik Islam. Kita harus
mendidik umat tentang politik Islam, sesuatu yang dahulu jarang diajarkan dalam
pendidikan di sekolah," katanya.
Ia juga menyerukan kepada para
orang tua agar menanamkan kesadaran sosial dan politik kepada anak-anak sejak
usia dini.
"Dalam institusi keluarga,
para orang tua harus menanamkan kesadaran mengenai tanggung jawab sosial dan
politik kepada anak-anak mereka. Bagi kita yang telah memiliki anak,
nilai-nilai tersebut harus mulai ditanamkan dan dikenalkan sejak sekarang,"
ungkapnya dengan serius.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa
Muslimah tidak perlu memiliki jabatan atau kedudukan tertentu untuk dapat
memberikan pengaruh dan membangun kesadaran di tengah masyarakat.
"Tidak perlu menunggu. Kita
sebagai orang biasa pun mampu menumbuhkan kesadaran di kalangan orang-orang
yang ada di sekitar kita," pungkasnya.[] Aliya Ab Aziz