Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Aktivis Dakwah: Krisis Remaja Adalah Krisis Worldview

Minggu, 19 Juli 2026 | 06:06 WIB Last Updated 2026-07-18T23:06:49Z

TintaSiyasi.id -- Ustazah Ratu Erma Rahmayanti, Aktivis Dakwah Nasional, berkomentar bahwa remaja Muslim sedang mengalami krisis moral, identitas, dan agama karena tidak memiliki cara pandang (worldview) terhadap kehidupan yang berpijak pada Islam.

 

“Yang paling utama, yang paling mendasar sebetulnya adalah karena krisis worldview, cara pandang. Memandang kehidupan hari ini, banyak sekali kaum muda yang belum paham, terutama dikaitkan dengan Islam tentunya,” jawabnya dalam segmen wawancara Muslimah Tea Break bertajuk Krisis Remaja Muslim Hari Ini: Antara Agama, Identiti & Dunia Modern, di Facebook Muslimah HTM pada Ahad (14/06/2026).

 

Menurutnya, krisis tersebut terjadi ketika remaja Muslim lebih banyak dikelilingi oleh nilai-nilai materialistis dan budaya asing dibandingkan nilai-nilai Islam.

 

“Hari ini, kalau kita lihat, nilai-nilai yang masuk ke generasi umat Islam itu mayoritasnya bukan dari Islam. Ada budaya materialistis yang itu tidak dari Islam. Ada budaya asing, pemikiran, pemahaman dan hukum-hukum yang tidak dari Islam,” paparnya.

 

Lebih lanjut, menurutnya, krisis keluarga turut memperparah keadaan remaja saat ini ketika sebagian orang tua Muslim belum memahami cara menanamkan akidah, ibadah, dan akhlak sejak dini, sementara tekanan ekonomi menyebabkan mereka kekurangan waktu untuk membimbing anak-anak.

 

“Keluarga-keluarga Muslim secara agama tertulis Muslim, tetapi ayah dan ibu belum tentu memahami bagaimana mengajarkan nilai-nilai akidah, ibadah, dan akhlak dari kecil,” ujarnya.

 

Sambungnya lagi, “Ayah dan ibu pun tersibukkan, terutama hari ini krisis ekonomi adalah yang paling terasa sekali, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup semua otomatis harus bekerja. Dan anak akhirnya dibiarkan terlantar,” tambahnya.

 

Seterusnya, ia mengungkapkan bahawa fenomena itu bukan hanya berlaku di Indonesia atau Malaysia, tetapi turut melibatkan remaja di negara-negara dunia Islam.

 

“Tidak hanya di kita, di Melayu, tetapi di dunia Islam. Negeri Arab pun remajanya terkena dengan krisis. Artinya ini fakta global dan itu dikarenakan budaya atau nilai kapitalistik yang juga global,” tegasnya.

 

Menurut Ustazah Ratu Erma, pemahaman yang setengah-setengah terhadap Islam menjadi hambatan bagi remaja yang ingin menjadi good Muslim.

 

Ia menjelaskan, “Yang Islam ini hanya terkait dengan perkara menutup aurat, salat saja. Sementara untuk bagaimana mereka berpakaian, bagaimana mereka bergaul, bagaimana mereka berkomunikasi dengan yang lain, mereka tidak paham dengan aturan Islam.”

 

Oleh sebab kefahaman Islam yang tidak utuh, menurutnya, terjadi kontradiksi antara identitas Muslim dengan tren saat ini.

 

“Niatnya baik menutup aurat, tetapi kemudian mengikuti gaya yang belum tentu model pakaian itu cocok, sesuai dengan syariat,” jelasnya.

 

Ia seterusnya mencontohkan, “Ada ‘pacaran’ dalam tanda petik Islami. Tidak berpegangan, tetapi mereka tetap berdua-duaan, pergi malam hari dan lain-lain, karena juga melihat trennya seperti begitu.”

 

Selain itu, ia juga tidak menafikan bahawa media sosial telah menjadi faktor yang memparah dan mempercepatkan krisis itu tanpa batas.

 

“Kemudahan mereka mendapatkan teknologi untuk mengakses informasi dari berbagai belahan dunia itu tanpa sekat. Mau dari negara Eropa, negara yang mengandung ideologi komunis, liberal dan lain-lain, itu tidak ada saringannya,” sebutnya.

 

Terlebih lagi, menurutnya, ketika remaja menjadikan media sosial sebagai sumber rujukan utama mereka di saat keluarga sedang menghadapi krisis.

 

“Keluarga sendiri juga sedang krisis. Jadi akhirnya anak-anak ini panduannya ya sosial media itu. Itu yang memperteruk, menambah berat krisis dan mempercepat dampaknya,” ungkapnya.

 

Menurutnya, tanggung jawab untuk menangani pengaruh budaya yang merusak tidak dapat dibebankan kepada keluarga semata.

 

“Lagi-lagi yang disalahkan adalah orang tua, dibebankan kepada orang tua. Seharusnya ketika tahu bahwa pengaruh nilai budaya yang ditonton itu merusak, sebagai penanggung jawab generasi rakyatnya harusnya melindungi,” katanya.

 

Ia juga mengaitkan lemahnya pengawasan tersebut dengan kepentingan ekonomi industri hiburan.

 

Idol-idol, perlombaan ini dan itu, jual barang ini dan itu, bahkan konser-konser dan lain-lain, itu kan menjadi industry. Malah mungkin menguntungkan bagi pihak-pihak pemerintah,” urainya.

 

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa generasi muda perlu dibimbing untuk memahami bahwa menjadi seorang Muslim merupakan identitas yang bernilai serta memiliki tujuan hidup yang melampaui kepentingan material.

 

“Menjadi seorang Muslim itu, kalau kalian mengerti dan memahami, itu keren banget,” katanya sambil mencontohkan bentuk komunikasi kepada remaja.

 

Ia juga mengingatkan bahwa generasi muda pada masa Rasulullah saw. terlebih dahulu dibentuk dengan keyakinan kepada Allah dan agama.

 

“Yang awal sekali dibentuk adalah keyakinan terhadap Allah, keyakinan terhadap agamanya,” jelasnya.

 

Oleh karena itu, menurutnya, remaja tidak seharusnya menjadikan kebutuhan material dan hawa nafsu sebagai fokus utama dalam kehidupan.

 

“Tidak hanya sekadar memperhatikan kebutuhan perut, kebutuhan nafsu, tetapi diajarkan oleh Rasulullah bahawa kehidupan dunia ini hanya sementara. Gunakan saja itu secukup mungkin, tetapi kemudian harus fokus ke akhirat,” tegasnya.

 

Kiat

 

Ia juga memberikan kiat yang perlu disampaikan kepada remaja Muslim. “Pertama, orang tua dan pendidik perlu berulang kali memperkenalkan kisah-kisah pemuda Muslim yang beriman, berjuang, dan tetap mampu menjalani kehidupan di dunia,” ujarnya.

 

“Kita bersabar, mengulang-ulang terus tentang kisah-kisah, contoh-contoh para pemuda Muslim yang keren-keren, yang menjadi pejuang,” ujarnya.

 

Kedua, mengurangi ego ketika kita berkomunikasi dengan anak-anak di zaman sekarang. Jangan langsung melarang ini dan itu tanpa mereka bisa mengerti kenapa hal itu,” sarannya.

 

Ketiga, sebelum membimbing anak, orang tua perlu memahami panduan Islam terkait kehidupan berkeluarga,” tuturnya.

 

“Orang tua ini pertama harus paham dulu Islam, panduannya seperti apa di rumah tangga, hubungan dengan suami bagaimana, terhadap anak, apa saja aturan-aturan di rumah,” simpulnya.[] Aliya Ab Aziz

Opini

×
Berita Terbaru Update