TintaSiyasi.id -- Ustazah Ratu Erma Rahmayanti, Aktivis Dakwah Nasional, berkomentar bahwa remaja Muslim sedang mengalami krisis moral, identitas, dan agama karena tidak memiliki cara pandang (worldview) terhadap kehidupan yang berpijak pada Islam.
“Yang paling utama, yang paling
mendasar sebetulnya adalah karena krisis worldview, cara pandang. Memandang
kehidupan hari ini, banyak sekali kaum muda yang belum paham, terutama
dikaitkan dengan Islam tentunya,” jawabnya dalam segmen wawancara Muslimah
Tea Break bertajuk Krisis Remaja Muslim Hari Ini: Antara Agama, Identiti &
Dunia Modern, di Facebook Muslimah HTM pada Ahad (14/06/2026).
Menurutnya, krisis tersebut
terjadi ketika remaja Muslim lebih banyak dikelilingi oleh nilai-nilai
materialistis dan budaya asing dibandingkan nilai-nilai Islam.
“Hari ini, kalau kita lihat,
nilai-nilai yang masuk ke generasi umat Islam itu mayoritasnya bukan dari
Islam. Ada budaya materialistis yang itu tidak dari Islam. Ada budaya asing,
pemikiran, pemahaman dan hukum-hukum yang tidak dari Islam,” paparnya.
Lebih lanjut, menurutnya, krisis
keluarga turut memperparah keadaan remaja saat ini ketika sebagian orang tua
Muslim belum memahami cara menanamkan akidah, ibadah, dan akhlak sejak dini,
sementara tekanan ekonomi menyebabkan mereka kekurangan waktu untuk membimbing
anak-anak.
“Keluarga-keluarga Muslim secara
agama tertulis Muslim, tetapi ayah dan ibu belum tentu memahami bagaimana
mengajarkan nilai-nilai akidah, ibadah, dan akhlak dari kecil,” ujarnya.
Sambungnya lagi, “Ayah dan ibu
pun tersibukkan, terutama hari ini krisis ekonomi adalah yang paling terasa
sekali, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup semua otomatis harus bekerja.
Dan anak akhirnya dibiarkan terlantar,” tambahnya.
Seterusnya, ia mengungkapkan
bahawa fenomena itu bukan hanya berlaku di Indonesia atau Malaysia, tetapi
turut melibatkan remaja di negara-negara dunia Islam.
“Tidak hanya di kita, di Melayu,
tetapi di dunia Islam. Negeri Arab pun remajanya terkena dengan krisis. Artinya
ini fakta global dan itu dikarenakan budaya atau nilai kapitalistik yang juga
global,” tegasnya.
Menurut Ustazah Ratu Erma,
pemahaman yang setengah-setengah terhadap Islam menjadi hambatan bagi remaja
yang ingin menjadi good Muslim.
Ia menjelaskan, “Yang Islam ini
hanya terkait dengan perkara menutup aurat, salat saja. Sementara untuk
bagaimana mereka berpakaian, bagaimana mereka bergaul, bagaimana mereka
berkomunikasi dengan yang lain, mereka tidak paham dengan aturan Islam.”
Oleh sebab kefahaman Islam yang
tidak utuh, menurutnya, terjadi kontradiksi antara identitas Muslim dengan tren
saat ini.
“Niatnya baik menutup aurat, tetapi
kemudian mengikuti gaya yang belum tentu model pakaian itu cocok, sesuai dengan
syariat,” jelasnya.
Ia seterusnya mencontohkan, “Ada
‘pacaran’ dalam tanda petik Islami. Tidak berpegangan, tetapi mereka tetap
berdua-duaan, pergi malam hari dan lain-lain, karena juga melihat trennya
seperti begitu.”
Selain itu, ia juga tidak
menafikan bahawa media sosial telah menjadi faktor yang memparah dan
mempercepatkan krisis itu tanpa batas.
“Kemudahan mereka mendapatkan
teknologi untuk mengakses informasi dari berbagai belahan dunia itu tanpa
sekat. Mau dari negara Eropa, negara yang mengandung ideologi komunis, liberal
dan lain-lain, itu tidak ada saringannya,” sebutnya.
Terlebih lagi, menurutnya, ketika
remaja menjadikan media sosial sebagai sumber rujukan utama mereka di saat
keluarga sedang menghadapi krisis.
“Keluarga sendiri juga sedang
krisis. Jadi akhirnya anak-anak ini panduannya ya sosial media itu. Itu yang
memperteruk, menambah berat krisis dan mempercepat dampaknya,” ungkapnya.
Menurutnya, tanggung jawab untuk
menangani pengaruh budaya yang merusak tidak dapat dibebankan kepada keluarga
semata.
“Lagi-lagi yang disalahkan adalah
orang tua, dibebankan kepada orang tua. Seharusnya ketika tahu bahwa pengaruh
nilai budaya yang ditonton itu merusak, sebagai penanggung jawab generasi
rakyatnya harusnya melindungi,” katanya.
Ia juga mengaitkan lemahnya
pengawasan tersebut dengan kepentingan ekonomi industri hiburan.
“Idol-idol, perlombaan ini
dan itu, jual barang ini dan itu, bahkan konser-konser dan lain-lain, itu kan
menjadi industry. Malah mungkin menguntungkan bagi pihak-pihak pemerintah,” urainya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa
generasi muda perlu dibimbing untuk memahami bahwa menjadi seorang Muslim
merupakan identitas yang bernilai serta memiliki tujuan hidup yang melampaui
kepentingan material.
“Menjadi seorang Muslim itu,
kalau kalian mengerti dan memahami, itu keren banget,” katanya sambil
mencontohkan bentuk komunikasi kepada remaja.
Ia juga mengingatkan bahwa
generasi muda pada masa Rasulullah saw. terlebih dahulu dibentuk dengan
keyakinan kepada Allah dan agama.
“Yang awal sekali dibentuk adalah
keyakinan terhadap Allah, keyakinan terhadap agamanya,” jelasnya.
Oleh karena itu, menurutnya,
remaja tidak seharusnya menjadikan kebutuhan material dan hawa nafsu sebagai
fokus utama dalam kehidupan.
“Tidak hanya sekadar
memperhatikan kebutuhan perut, kebutuhan nafsu, tetapi diajarkan oleh
Rasulullah bahawa kehidupan dunia ini hanya sementara. Gunakan saja itu secukup
mungkin, tetapi kemudian harus fokus ke akhirat,” tegasnya.
Kiat
Ia juga memberikan kiat yang
perlu disampaikan kepada remaja Muslim. “Pertama, orang tua dan pendidik
perlu berulang kali memperkenalkan kisah-kisah pemuda Muslim yang beriman,
berjuang, dan tetap mampu menjalani kehidupan di dunia,” ujarnya.
“Kita bersabar, mengulang-ulang
terus tentang kisah-kisah, contoh-contoh para pemuda Muslim yang keren-keren,
yang menjadi pejuang,” ujarnya.
“Kedua, mengurangi ego
ketika kita berkomunikasi dengan anak-anak di zaman sekarang. Jangan langsung
melarang ini dan itu tanpa mereka bisa mengerti kenapa hal itu,” sarannya.
“Ketiga, sebelum
membimbing anak, orang tua perlu memahami panduan Islam terkait kehidupan
berkeluarga,” tuturnya.
“Orang tua ini pertama harus
paham dulu Islam, panduannya seperti apa di rumah tangga, hubungan dengan suami
bagaimana, terhadap anak, apa saja aturan-aturan di rumah,” simpulnya.[] Aliya
Ab Aziz