TintaSiyasi.id -- Survei terhadap 1.158 anak muda Gen Z pada Desember 2025 mengungkap bahwa enam dari sepuluh responden merasa khawatir menghadapi masa depan mereka. Ketidakpastian soal karier dan ekonomi menjadi beban terbesar, disusul tekanan finansial serta ekspektasi dari lingkungan sosial. Dampaknya tampak jelas: lebih dari separuh responden mengalami perubahan mood yang tidak stabil, sementara banyak pula yang terganggu kualitas tidurnya.
Meski demikian, Gen Z justru lebih berani membuka diri dibanding generasi sebelumnya—hampir separuh dari mereka yang bermasalah secara mental bersedia mendatangi psikolog atau mengonsumsi obat atas saran profesional. Ini menandakan bahwa bagi generasi ini, meminta bantuan bukan lagi sesuatu yang memalukan.
(www.goodstats.com, 08/06/2026)
Indonesia kini berhadapan dengan ancaman serius yang menyasar generasi mudanya—meningkatnya gangguan kesehatan jiwa di kalangan remaja. Tekanan dari lingkungan sosial maupun pesatnya kemajuan teknologi disebut sebagai pemicu utama kondisi ini.
Di tingkat dunia, WHO memperkirakan sekitar satu dari tujuh anak usia 10–19 tahun hidup dengan gangguan mental, yang turut menyumbang beban penyakit global secara signifikan. Ironisnya, sebagian besar kasus ini luput dari deteksi dan tidak mendapat penanganan yang semestinya.
Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan, mengingat anak muda merupakan tulang punggung masa depan bangsa, terutama dalam merealisasikan cita-cita Indonesia Emas 2045. Bila dibiarkan tanpa intervensi yang tepat, gangguan jiwa pada remaja berpotensi menghambat proses tumbuh kembang mereka secara menyeluruh. (www.kompas.id, 18/06/2026)
Berbagai survei menunjukkan bahwa Generasi Z menjadi kelompok usia yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan mental di Indonesia. Data program Cek Kesehatan Gratis 2025–2026 mencatat hampir 700 ribu anak terindikasi mengalami kecemasan dan depresi. Survei Jakpat 2025 pun memperkuat temuan ini—60% Gen Z mengaku cemas terhadap masa depan, dengan tekanan finansial, ekspektasi sosial, dan ketidakpastian karier sebagai pemicu utamanya. Fenomena ini bukan milik Indonesia semata. Di seluruh penjuru dunia, Gen Z tumbuh dalam iklim ketidakpastian. Akibatnya, generasi ini cenderung bersikap skeptis terhadap sistem yang ada—dan mulai mempertanyakan arah hidup mereka secara lebih serius.
Mengapa Gen Z Begitu Rapuh?
Gen Z tidak tumbuh dalam kondisi normal. Mereka mewarisi dunia yang sedang sakit—ekonomi yang tidak stabil, lapangan kerja yang menyempit, dan persaingan hidup yang semakin brutal. Kecemasan yang mereka rasakan bukan sekadar lemah mental, melainkan respons nyata terhadap realita yang memang penuh tekanan. Kondisi ini diperparah oleh sistem hidup sekuleristik-kapitalistik yang mendominasi dunia hari ini, yang menjadikan manusia semata sebagai alat produksi. Nilai seseorang diukur dari produktivitas dan pencapaian materi. Gen Z tumbuh dalam budaya ini—dihantui rasa tidak cukup, takut gagal, dan terus membandingkan diri dengan standar yang mustahil dicapai. Media sosial mempercepat kerusakan ini dengan mempertontonkan ilusi kesempurnaan yang membuat banyak anak muda merasa rendah diri dan kehilangan arah.
Ironisnya, alih-alih dirangkul dan dibina, anak muda justru sering mendapat stigma negatif dari generasi di atasnya—dianggap lemah, manja, atau tidak bersyukur. Kebijakan negara pun belum serius menyentuh akar persoalan. Psikolog klinis di puskesmas seluruh Indonesia baru berjumlah sekitar 203 orang—angka yang jauh dari memadai untuk melayani jutaan generasi muda yang membutuhkan pertolongan. Namun di balik semua tekanan itu, ada kabar baik. Kecemasan dan sikap kritis Gen Z justru bisa menjadi modal perubahan. Sejarah mencatat bahwa kebangkitan selalu lahir dari generasi yang tidak puas dengan kondisi yang ada. Gen Z yang hari ini gelisah, jika diarahkan dengan benar, bisa menjadi generasi yang paling transformatif dalam sejarah.
Islam bukan sekadar agama ritual. Islam adalah sistem hidup (mabda) yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia—dari urusan pribadi hingga tata kelola negara. Allah SWT berfirman, "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam" (TQS. Al-Anbiya: 107). Ketika Islam diterapkan secara menyeluruh, ia mendatangkan keadilan, ketenangan, dan keselamatan—bukan hanya bagi umat Islam, tetapi bagi seluruh manusia. Kecemasan yang melanda Gen Z hari ini bersumber dari sistem yang memisahkan kehidupan dari nilai-nilai ilahiah. Islam hadir sebagai koreksi mendasar atas sistem yang rusak itu.
Sejarah pun telah membuktikannya. Peradaban Islam pernah melahirkan generasi-generasi unggulan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara kepribadian. Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada usia 21 tahun. Ibnu Sina menulis ensiklopedia kedokteran di usia yang masih sangat muda. Usamah bin Zaid dipercaya Rasulullah ﷺ memimpin pasukan di usia 18 tahun. Mereka memiliki akidah yang lurus, visi yang jelas, dan kepedulian mendalam terhadap umat. Karakter semacam inilah yang perlu dibangun kembali—bukan dengan meniru budaya Barat, melainkan dengan menghidupkan kembali nilai-nilai peradaban Islam yang telah terbukti melahirkan generasi terbaik.
Dalam Islam, negara pun bukan sekadar lembaga administratif. Negara adalah junnah—perisai yang melindungi rakyatnya. Negara Islam menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar setiap warga—pendidikan, kesehatan, keamanan—bukan sebagai komoditas yang diperjualbelikan, melainkan sebagai hak yang wajib dipenuhi. Dengan sistem seperti ini, tekanan hidup yang hari ini menghimpit Gen Z dapat diminimalkan secara struktural, bukan hanya ditangani secara individual.
Saatnya gen Z mengemban misi peradaban dengan Islam. Islam mengajak pemuda untuk memiliki orientasi hidup yang lebih mulia, berkontribusi bagi kebangkitan umat. Gen Z yang hari ini gelisah diundang untuk bertransformasi—dari generasi yang cemas menjadi generasi yang sadar; dari generasi yang terdampak menjadi generasi yang mengubah keadaan.
Resistensi sejati bukan sekadar menolak kondisi yang ada, tetapi membangun yang lebih baik di atasnya. Masa depan emas bukan sekadar slogan—ia bisa menjadi kenyataan ketika pemuda hari ini berani mengemban Islam sebagai solusi, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk seluruh umat manusia. Dan jalan menuju ke sana telah ditunjukkan oleh Rasulullah ﷺ jauh sebelum krisis ini datang.
Rasulullah ﷺ bersabda telah mengingatkan di dalam HR. Ahmad tentang datang nya sistem Khilafah. Khilafah ala minhajin nubuwwah—sistem pemerintahan yang berjalan di atas jejak kenabian—bukan sekadar konsep nostalgia. Ia adalah janji Allah dan kabar gembira dari Rasul-Nya bahwa kepemimpinan Islam yang adil dan penuh rahmat akan hadir kembali di muka bumi. Di dalam sistem itulah generasi muda akan benar-benar terlindungi, dibina, dan diberdayakan—bukan dieksploitasi oleh pasar, bukan diabaikan oleh negara. Gen Z yang hari ini penuh kecemasan, justru bisa menjadi generasi yang menyaksikan dan bahkan menjadi bagian dari tegaknya kembali peradaban Islam yang agung itu. Maka tugas mereka hari ini bukan sekadar bertahan dari tekanan, tetapi berjuang bersama umat untuk mewujudkan janji tersebut.
Wallahu a'lam bishshawab.[]
Oleh: Yusniah Tampubolon
(Aktivis Muslimah)