Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

UIY: Presiden Jadikan Pola Korupsi sebagai Alat Sandera Lawan Politik

Rabu, 10 Juni 2026 | 16:47 WIB Last Updated 2026-06-10T09:47:01Z

TintaSiyasi.id -- Cendekiawan Muslim Ustaz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menyebut Presiden sebenarnya tahu pola korupsi di negeri ini, namun sengaja membiarkan pola tersebut terus berjalan demi menjadikannya sebagai instrumen politik untuk menekan lawan.

 

"Sebenarnya presiden tahu (pola korupsi), tetapi kenapa kemudian dibiarkan? Untuk menjadi alat menekan lawan politik atau menekan siapa pun untuk memenuhi keinginan pilitik yang bersangkautan," ucapnya di kanal YouTube UIY Official; Kembali Korupsi di Lingkaran Kekuasaan, Ada Apa?, Senin (08/06/2026).

 

Lanjutnya, UIY menyoroti fenomena di era Presiden Joko Widodo (Jokowi), di mana kasus pengusutan korupsi kental dengan nuansa politis guna menekan pihak-pihak tertentu yang berseberangan secara politik.

 

​"Sebut saja pejabat di era Jokowi dulu kenapa ada yang diusut setelah partainya tidak lagi mendukung dia, itu terjadi pada Johnny G. Plate, Yasin Limpo. Sementara yang mendukung tetap aman aja, bahkan juga ada satu pimpinan partai itu diancam dengan 11 atau 12 sprindik kalau dia tidak mau mundur," bebernya.

 

"Saya kira kita patut menduga bahwa pejabat itu tidak bersih-bersih amat karena suasana koruptif itu suasana orang saling tahu juga, praktik-praktik markup, praktik gratifikasi, dan sebagainya sudah sangat lazim di negeri ini. Bahkan pernah ada seorang menteri menyebut bahwa korupsi itu adalah pelumas dari pembangunan," tambahnya menjelaskan.

 

Alhasil, untuk memutus rantai korupsi di Indonesia, UIY menjelaskan langkah awal yang harus dirombak yakni terkait mindset para pejabat agar memandang jabatan bukan sebagai kemuliaan atau kekayaan, melainkan sebagai ri’ayah su’unil umat (pengaturan urusan umat).

 

"Di mana pejabat duduk di situ diberikan amanah urusan umat berjalan sebaik-baiknya, maka dia akan melihat ini (jabatan) sesuatu yang sangat penting yang akan menentukan nasib rakyatnya atau orang yang diurusinya itu. Itu semua akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah Swt.," terangnya.

 

​"Lawan dari amanah itu khianat, dan Allah juga mengatakan jika Allah tidak menyukai orang yang khianat. Kalau kita tidak disukai oleh walikota kita bisa pindah kota, kalau tidak disukai presiden kita bisa pindah negara, tetapi kalau tidak disukai oleh Allah, kita mau pindah kemana?" tegas UIY mengingatkan.

 

Selain perbaikan mindset, UIY menyampaikan bahwasanya Islam menjamin kekuasaan yang bersih melalui pemenuhan hak aparatur negara, layaknya kecukupan gaji, kendaraan hingga pembantu secara wajar.

 

“Adapun, mengutip Nabi Muhammad saw., jika keseluruhan sudah dipenuhi serta beberapa keperluan sudah disediakan, maka apa yang diambil setelah itu haram,” terangnya.

 

"Jadi ketentuan harus jelas, dan harus ada keteladanan dari pemimpin. Maka dari itu, pemimpin harus jadi teladan. Tidak boleh sekali pun melakukan tindakan tercela. Kalau diketahui dia pemimpin tidak melakukan korupsi maka bawahannya akan takut, apalagi dia mengambil tindakan tanpa pandang bulu," jelasnya.

 

Adapun, ia menekankan pentingnya menghidupkan kembali prinsip 'equality before the law' yang dicontohkan Nabi Muhammad saw., yang bahkan dengan tegas bersumpah akan memotong tangan putri kandungnya sendiri jika terbukti mencuri. “Alhasil, suasana koruptif akan hilang dan selanjutnya harus diikuti hukuman setimpal,” lugasnya.

 

"Hukuman setimpal itu setidaknya ada dua: pertama, diwartakan untuk memberikan efek sosial malu; kedua, penyitaan harta kekayaan,” ulas UIY.

 

“Jadi, mereka-mereka yang tidak bisa mempertanggungjawabkan harta yang dimilikinya itu secara rasional, maka dalam Islam itu disita negara," pungkasnya.[] Taufan

Opini

×
Berita Terbaru Update