TintaSiyasi.id -- Baru-baru ini terjadi aksi pembegalan kepada seorang wanita yang merupakan seorang ASN di Lapas Tanjung Gusta bernama Indy Sinaga (31) di Fly Over Brayan, Kota Medan. Peristiwa ini tepatnya terjadi di Jalan Cemara, Kecamatan Medan Timur, Minggu (7/6) sekitar pukul 05.40 WIB. (detikSumut)
Semakin hari ada saja aksi kriminal di jalanan khususnya pembegalan. Aksi pembegalan yang kerap terjadi tentu makin membuat masyarakat tidak nyaman. Tidak ada lagi jaminan keamanan hidup di negeri ini. Harapan menjadi negara yang maju dan sejahterapun sulit diwujudkan. Sebenarnya apa yang menyebabkan aksi begal terjadi?
Ini bisa terjadi karena banyak faktor, satu yang paling utama adalah faktor ekonomi. Individu mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang. Impitan ekonomi kadang kala membuat orang gelap mata dengan melakukan perbuatan kriminal yang melanggar hukum, seperti memalak dan mengintimidasi individu atau masyarakat, melakukan pencurian, perampokan, hingga pembunuhan. Kesulitan mencari nafkah dan sempitnya lapangan kerja menjadi pemicu aksi pembegalan dan kriminalitas kian merajalela.
Rasa putus asa mencari jalan halal dan kebebasan bertingkah laku dalam kehidupan menjadikan mereka yang lemah iman tergoda untuk berbuat kemaksiatan dan kriminal mengikuti hawa nafsunya saja tanpa memikirkan dampak dari perbuatannya. Tidak dipungkiri, kemiskinan dan urusan makan bisa membuat orang lupa diri. Jika masyarakat tidak kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, angka kriminalitas dan aksi begal tidak akan terjadi.
Selain itu, tidak optimalnya peran negara dalam melakukan pengamanan dan melindungi masyarakat dari kejahatan serta tidak adanya sanksi tegas bagi para pelaku menyebabkan pembegalan akan terus terjadi. Masalah pembegalan tentu tidak bisa dilihat dari satu sisi saja karena ini bukan fenomena dadakan yang muncul begitu saja. Ada peran sistem yang memicu pembegalan kerap terjadi, yaitu sistem kehidupan sekuler kapitalisme (Pemisahan agama dari kehidupan).
Negara yang menerapkan sistem sekuler kapitalisme akan melahirkan kemiskinan, kesulitan hidup, sulitnya lapangan kerja, serta ketimpangan sosial. Kemiskinan terjadi bukan karena rakyat malas bekerja, tetapi karena kebijakan negara yang tidak memihak kepentingan rakyat. Sistem ini menjadikan fungsi negara hanya sebatas regulator dan fasilitator bagi kepentingan pemilik modal. Lalu lahirlah kebijakan pro-kapitalis dengan mengesampingkan kemaslahatan rakyat. Seharusnya, prioritas negara adalah menjamin kehidupan rakyat. Jaminan yang dimaksud bukanlah memenuhi segalanya dengan pemberian bantuan sosial, tetapi seharusnya negara memberi kemudahan akses dan layanan kepada rakyat untuk memenuhi kebutuhan mereka, seperti harga pangan murah, pendidikan dan kesehatan gratis, lapangan kerja banyak, dan sebagainya. Sayang, negara tidak menjalankan kewajiban tersebut sehingga memicu tingginya angka kriminalitas, termasuk aksi begal.
Kesulitan memenuhi kebutuhan pokok karena harga barang-barang makin tidak terjangkau oleh masyarakat bawah mendorong perilaku instan dalam mencari nafkah. Apalagi jika para penanggung nafkah merasa sempit dan buntu mencari kerja lalu menjadi pengangguran, jadilah cara haram yang dijalani, yang penting dapat uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kejahatan dan kriminalitas melonjak karena ada pemicunya, salah satunya adalah kesempitan hidup karena ekonomi sulit.
Hal ini jelas sangat berbeda dengan sistem Islam atau yang biasa kita sebut dengan Khilafah Islamiyyah. Dalam sistem Islam ada 3 tahapan untuk mencegah semakin tingginya kasus tindak kriminal yang terjadi, diantaranya:
Pertama, Ketakwaan individu, dalam sistem Islam akan d tanamkan dalam diri-diri setiap individu agar punya kesadaran bahwa diri mereka adalah makhluk Allah yang harus tunduk pada aturan Allah, sehingga saat ingin melakukan kemaksiatan/ tindakan kriminal mereka akan mengingat bahwa seluruh aktivitasnya di awasi oleh Allah dan tidak ada satu perbuatanpun yang luput dari pengawasan Allah dan semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.
Kedua, Kontrol masyarakat, nah disini peran masyarakat adalah melakukan amar makruf nahi mungkar di tengah kehidupan, sehingga akan membentuk lingkungan yang baik. Senantiasa mengingatkan pada kebaikan, sehingga saat ada yang lalai akan segera diingatkan agar tidak melakukan tindakan yang lebih parah lagi. Disini membentuk lingkungan masyarakat yang saling peduli kepada sesama, tidak menjadi masyarakat yang cuek yang hanya memikirkan diri mereka sendiri saja.
Ketiga, Keberadaan negara, negara yang menerapkan sistem Islam akan senantiasa menjaga agar umat tidak melakukan tindakan kriminal, salah satunya dengan memberikan sanksi yang tegas bagi pelaku kriminal. Sehingga memberikan efek jera bagi pelaku dan menjadi contoh yang tidak akan ditiru oleh masyarakat. Sanksi dalam Islam merupakan jawabir (penebusan dosa bagi pelaku) dan zawajir (pencegahan bagi orang lain).
Selain itu negara Islam juga menjamin kebutuhan masyarakat seperti pendidikan gratis, kesehatan gratis, menjaga harga pangan murah dan tetap stabil, banyaknya lapangan pekerjaan, dan sebagainya.
Ketiga hal inilah yang akan dijalankan dalam sistem Islam, sehingga tindak kriminal akan sangat minim kita jumpai, begitu yang tertulis di sejarah. Selama kurang lebih 13 abad sistem Islam diterapkan dalam kehidupan hanya ditemukan 200 kasus tindak kriminal.
Sungguh jumlah ini tidak dapat kita bandingkan dengan sistem sekuler kapitalisme yang hari ini diterapkan dalam kehidupan kita dengan sangat banyak kasus tindak kriminal yang terjadi setiap harinya. Maka tidakkah kita ingin sistem Islam kembali di terapkan dalam kehidupan kita?
Wallahu a'lam bishshawab.[]
Oleh: Fadillah Isnaini
Aktivis Muslimah