Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Hijrah sebagai Titik Awal Peradaban Islam

Jumat, 19 Juni 2026 | 10:29 WIB Last Updated 2026-06-19T03:29:52Z
Tintasiyasi.id com -- Ketika bulan Muharram datang, umat Islam tidak sekadar memasuki pergantian tahun dalam hitungan kalender. Ada makna besar yang tersimpan di balik penetapan tahun Hijriah—sebuah pengingat bahwa kebangkitan Islam tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari perjuangan dan pengorbanan.

Sebelum kalender Hijriah ditetapkan, masyarakat Arab belum mengenal sistem penanggalan tahun yang baku. Mereka lebih sering menandai waktu berdasarkan peristiwa besar, seperti Tahun Gajah, yaitu tahun ketika pasukan Abraha menyerang Mecca. Cara ini tentu tidak lagi memadai ketika wilayah Islam semakin luas dan urusan pemerintahan menjadi semakin kompleks.

Pada masa kepemimpinan khalifah Umar ibn al-Khattab, kebutuhan akan sistem penanggalan resmi menjadi mendesak. Surat-surat administrasi, urusan keuangan, hingga kebijakan pemerintahan membutuhkan pencatatan waktu yang jelas. 

Dari kebutuhan praktis inilah lahir sebuah musyawarah besar di kalangan para sahabat: peristiwa apa yang layak dijadikan titik awal kalender Islam?

Ada berbagai usulan. Ada yang mengusulkan tahun kelahiran Rasulullah ﷺ, tahun diangkatnya beliau menjadi nabi, bahkan tahun wafat beliau. Namun para sahabat akhirnya sepakat memilih satu peristiwa yang jauh lebih monumental: hijrah Rasulullah ﷺ dari Mecca ke Medina.

Pilihan ini bukan tanpa alasan. Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis. Hijrah adalah titik balik peradaban. Di Makkah, Islam hadir sebagai dakwah yang terus mendapat tekanan, intimidasi, dan penindasan.

Namun di Madinah, Islam tampil sebagai sistem kehidupan yang diterapkan secara nyata. Di sanalah syariat diterapkan, masyarakat diatur, dan kepemimpinan Islam berdiri kokoh.

Inilah pesan besar dari penetapan tahun Hijriah: kejayaan Islam tidak diukur dari kelahiran individu, tetapi dari tegaknya aturan Allah dalam kehidupan.

Menariknya, hijrah Rasulullah ﷺ sendiri terjadi pada bulan Rabiul Awal, tetapi awal tahun Hijriah justru dimulai dari Muharram. Hal ini menunjukkan adanya pandangan yang visioner dari para sahabat. 

Muharram dipilih karena ia datang setelah musim Haji, momentum ketika manusia kembali dengan semangat baru dan tekad baru. Muharram menjadi simbol awal perubahan.

Hari ini, ketika kita menyambut tahun baru Hijriah, pertanyaan pentingnya bukan sekadar: “Sudah tahun berapa Hijriah sekarang?” Melainkan: “Apakah semangat hijrah itu masih hidup dalam diri dan umat ini?”

Hijrah mengajarkan bahwa perubahan membutuhkan keberanian—berani meninggalkan kebatilan, berani menanggalkan kenyamanan yang menjauhkan dari ketaatan, dan berani memperjuangkan kehidupan yang tunduk sepenuhnya pada syariat Allah.

Tahun Hijriah seharusnya bukan hanya pergantian angka. Ia adalah seruan untuk bermuhasabah dan bergerak. Sebab, sebagaimana hijrah dahulu melahirkan peradaban Islam yang agung, semangat hijrah hari ini pun semestinya menjadi energi kebangkitan umat menuju kehidupan Islam yang kaffah.[]

Oleh: Nur Hidayah 
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update