Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Rupiah Melemah, Kapitalisme Menyengsarakan Rakyat; Islam Menawarkan Stabilitas

Selasa, 26 Mei 2026 | 14:15 WIB Last Updated 2026-05-26T07:15:18Z

Tintasiyasi.id.com -- Pelemahan rupiah kembali menjadi ancaman serius bagi kehidupan rakyat. Ketika nilai tukar rupiah terus merosot terhadap dolar AS, dampaknya bukan hanya terasa di pasar keuangan, tetapi langsung menghantam dapur masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah. 

Belum lama ini, pelaku usaha keripik tempe di Malang mengeluhkan naiknya harga bahan baku akibat melemahnya rupiah. Harga kedelai impor melonjak sehingga biaya produksi meningkat (Kompas.com, 20 Mei 2026). 

Namun sesungguhnya, dampak krisis ini jauh lebih luas daripada sekadar persoalan UMKM. Pelemahan rupiah membuat harga barang impor ikut naik. Sementara Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan pangan, bahan baku industri, obat-obatan, hingga energi.

Akibatnya, harga kebutuhan sehari-hari ikut terdorong naik. Kompas juga memberitakan bahwa harga tahu, tempe, mi instan, hingga roti berpotensi mengalami kenaikan akibat pelemahan rupiah dan naiknya biaya impor (Kompas.com, April 2026). 

Kondisi ini paling menyakitkan bagi rakyat menengah ke bawah. Sebab kelompok inilah yang penghasilannya pas-pasan, sementara sebagian besar pendapatannya habis untuk kebutuhan pokok. Kemampuan memenuhi kebutuhan hidup seketika terganggu saat harga pangan naik sedikit saja. 

Lemahnya rupiah juga berdampak pada kenaikan harga BBM non subsidi yang bergantung pada pasar minyak global. Akibatnya, semua komoditas mengalami penyesuaian harga disebabkan naiknya ongkos transportasi dan meningkatnya biaya logistik. Ujung-ujungnya, yang menjadi korban adalah rakyat golongan menengah dan. 

Pedihnya, dari tahun ke tahun kondisi ini terus berulang. Rakyat selalu dihantui rasa cemas menghadapi kenaikan harga setiap kali rupiah melemah. Fakta ini menunjukkan ada kerusakan mendasar pada sistem ekonomi dan moneter yang diterapkan saat ini, bukan sekadar faktor global atau situasi geopolitik yang tidak menentu akibat perang dan konflik. 

Akar persoalannya pada penerapan sistem moneter kapitalisme yang menjadikan uang kertas atau fiat money sebagai alat transaksi utama. Pasalnya, mata uang ini dicetak tanpa ditopang emas maupun perak sehingga tidak memiliki nilai intrinsik. 

Hanya selembar kertas yang ditulis sebuah nominal, akibatnya kedudukannya takkan bisa stabil. Kepercayaan pasar, kekuatan ekonomi negara, suku bunga serta permainan pasar global acap kali menjadi variabel yang memengaruhi bagi nilai nilai mata uang. 

Fluktuasi nilai mata uang menjadi suatu keniscayaan. Ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah, harga komoditas naik dan daya beli masyarakat pun turun. Orang desa tidak pakai dolar kata presiden, jadi tidak usah khawatir. Tidak khawatir bagaimana ternyata dalam sistem ini, rakyat kecil selalu berada di posisi paling rentan. 

Lebih parah lagi, uang dijadikan sebagai komoditas spekulasi dalam sistem kapitalisme. Dominasi dolar membuat mata uang menjadi alat permainan para pemilik modal global melalui perdagangan valuta asing dan sistem utang ribawi. Akhirnya, Indonesia dan negara-negara berkembang yang lain akan terus bergantung pada kekuatan ekonomi asing. 

Kerusakan sistem moneter modern ini telah dijelaskan oleh Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab An-Nizham al-Iqtishadi fil Islam. Semua bermula sejak dunia meninggalkan standar emas dan perak. Tidak ada lagi sandaran riil pada nilai mata uang, negara dapat mencetak uang sesuka hati. Akibatnya, daya beli masyarakat menurun seiring dengan inflasi yang terus terjadi. 

Syekh Abdul Qadim Zallum dalam kitab Al-Amwal fi Daulah al-Khilafah juga menjelaskan hal yang sama. Emas dan perak memiliki kestabilan alami karena keduanya mempunyai nilai intrinsik. Tidak ada yang bisa memengaruhi nilai emas dan perak, tidak pada keputusan politik ataupun manipulasi pasar. 

Inilah yang menyebabkan uang emas atau dinar dan uang perak atau dirham jauh lebih stabil dibanding uang fiat modern. Produksi emas dan perak tidak bisa secara sembarangan. Selain jumlahnya terbatas, ia memerlukan usaha nyata untuk memperolehnya. Sebab itu nilainya relatif stabil dalam jangka panjang. 

Bukti kestabilan emas dapat dilihat dari sejarah. Pada masa Rasulullah Saw., satu dinar emas dapat membeli seekor kambing. Hingga hari ini, nilai satu dinar emas kurang lebih masih dapat membeli kambing dengan kualitas serupa. Ini menunjukkan bahwa daya beli emas tetap terjaga selama berabad-abad. 

Bandingkan dengan uang kertas. Nilai seratus ribu rupiah hari ini jauh berbeda dengan sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Daya belinya terus menyusut akibat inflasi yang menjadi konsekuensi sistem fiat money. 

Allah Swt. berfirman: 

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka azab yang pedih." (QS. At-Taubah: 34). 

Ayat ini menunjukkan bahwa sudah sejak dulu emas dan perak telah menjadi standar kekayaan dan alat muamalah. 

Kekuatan sistem ekonomi Islam telah terbukti sepanjang sejarah kekhilafahan. Dinar dan dirham telah digunakan selama berabad-abad perdagangan internasional dan mampu menjaga stabilitas ekonomi umat. Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, kesejahteraan rakyat meningkat hingga sulit menemukan penerima zakat. 

Penerapan syariat Islam secara Kaffah oleh negara, termasuk sistem moneter berbasis emas dan perak, inilah yang menjamin stabilitas ekonomi. Negara akan menolak utang ribawi dan tidak membiarkan mata uang dipermainkan pasar global. 

Alhasil, intervensi pasar atau menaikkan suku bunga bukanlah solusi dari melemahnya rupiah. Sistem moneter kapitalisme adalah biang masalahnya. Rakyat kecil akan terus menjadi korban krisis demi krisis selama negeri ini tetap bergantung pada uang fiat dan dominasi dolar. 

Islam menawarkan solusi mendasar melalui penerapan sistem ekonomi Islam dalam bingkai khilafah. Sistem ini bukan sekadar nostalgia sejarah, tetapi solusi nyata yang pernah terbukti menjaga kestabilan ekonomi dan melindungi kesejahteraan rakyat selama berabad-abad. Wallahu a'lam bishshowab []

Oleh: Mahrita Julia Hapsari 
(Aktivis Muslimah Banua)


Opini

×
Berita Terbaru Update