TintaSiyasi.id -- Perjalanan hidup manusia pada hakikatnya bukan sekadar perjalanan fisik dari lahir menuju kematian. Lebih dari itu, hidup adalah perjalanan ruhani menuju Allah Swt. Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa seorang hamba harus melalui berbagai tahapan penyucian diri agar mampu mencapai kedekatan dengan Rabb-nya. Tahapan-tahapan ini bukan sekadar teori, melainkan proses panjang yang membutuhkan kesungguhan, mujahadah (perjuangan melawan hawa nafsu), kesabaran, dan pertolongan Allah.
Dalam kitab rahasia makrifat syeikh Izzuddin bin Abdussalam yang disebutkan enam tahapan spiritual manusia yang menggambarkan proses penyucian seluruh dimensi diri manusia, mulai dari tubuh hingga akal. Keenam tahapan ini adalah peta perjalanan menuju ma'rifatullah (mengenal Allah).
1. Memutus Anggota Tubuh dari Berbagai Pelanggaran Syariat
Tahapan pertama adalah menjaga seluruh anggota tubuh agar tidak terjerumus ke dalam maksiat.
Mata dijaga dari pandangan yang haram, telinga dijaga dari mendengar ghibah dan fitnah, lisan dijaga dari dusta dan ucapan yang menyakiti, tangan dijaga dari perbuatan zalim, dan kaki dijaga dari melangkah ke tempat-tempat yang dimurkai Allah.
Allah Swt berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
"Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra': 36).
Perjalanan menuju Allah tidak mungkin dimulai jika anggota tubuh masih menjadi alat maksiat. Sebagaimana seseorang tidak dapat melihat cahaya matahari melalui kaca yang kotor, demikian pula hati tidak dapat menerima cahaya hidayah apabila tubuh terus menerus melakukan pelanggaran syariat.
Tahap pertama ini menuntut taubat yang sungguh-sungguh dan komitmen untuk hidup sesuai tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah.
2. Memutus Nafsu dari Berbagai Kebiasaan Buruk
Setelah anggota tubuh terjaga, perjuangan berikutnya adalah menghadapi nafsu.
Nafsu selalu mengajak kepada kenyamanan berlebihan, kemalasan, kesombongan, syahwat yang tidak terkendali, dan berbagai kecenderungan duniawi.
Nafsu tidak selalu mendorong kepada dosa besar. Kadang ia hadir dalam bentuk yang halus:
Menunda ibadah.
Mencari pujian manusia.
Terlalu cinta dunia.
Berlebihan dalam makan dan tidur.
Merasa lebih baik dari orang lain.
Rasulullah Saw bersabda:
"Pejuang sejati adalah orang yang mampu berjihad melawan hawa nafsunya."
Melawan nafsu merupakan jihad terbesar dalam kehidupan seorang mukmin. Ketika nafsu berhasil ditundukkan, jiwa mulai merasakan ketenangan dan kemerdekaan sejati.
3. Memutus Kalbu dari Berbagai Ketergantungan Manusiawi
Kalbu adalah pusat kesadaran spiritual manusia.
Banyak manusia yang secara lahiriah taat, tetapi hatinya masih bergantung kepada makhluk. Ia merasa tenang karena harta, jabatan, popularitas atau pujian manusia.
Padahal, ketergantungan kepada selain Allah adalah hijab yang menghalangi kedekatan dengan-Nya. Pada tahap ini seorang hamba belajar:
Tidak menggantungkan kebahagiaan pada manusia.
Tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.
Tidak menjadikan jabatan sebagai sumber kemuliaan.
Tidak menjadikan kekayaan sebagai sandaran hidup.
Ia mulai menyadari bahwa:
"Cukuplah Allah sebagai penolong."
Ketika hati hanya bergantung kepada Allah, maka lahirlah tawakal yang sesungguhnya.
4. Memutus Sirr dari Berbagai Kekeruhan Tabiat
Dalam kajian tasawuf, sirr berarti rahasia terdalam dalam diri manusia, tempat pancaran cahaya ilahi.
Namun sirr sering tertutupi oleh berbagai sifat buruk seperti:
Ujub (bangga diri).
Riya' (pamer amal).
Hasad (iri dengki).
Takabbur (sombong).
Cinta kedudukan.
Seseorang mungkin telah meninggalkan maksiat lahiriah, tetapi masih menyimpan kesombongan batin.
Oleh karena itu para ulama mengatakan:
"Membersihkan hati lebih sulit daripada membersihkan anggota tubuh."
Pada tahap ini seorang hamba belajar untuk menghapus ego dan merasa dirinya selalu membutuhkan Allah. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin ia merasa kecil di hadapan-Nya.
5. Memutus Ruh dari Berbagai Perdagangan Indrawi
Sebagian besar manusia hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan pancaindra.
Mereka menilai kebahagiaan dari:
Apa yang dilihat.
Apa yang didengar.
Apa yang dimiliki.
Apa yang dinikmati.
Padahal ruh manusia berasal dari alam yang lebih tinggi.
Allah berfirman:
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku." (QS. Al-Isra': 85).
Pada tahap ini ruh mulai terbebas dari dominasi dunia material.
Ia mulai merasakan kenikmatan:
Berdzikir.
Membaca Al-Qur'an.
Bermunajat di sepertiga malam.
Bersedekah tanpa diketahui orang lain.
Menangis karena takut kepada Allah.
Kebahagiaan ruh tidak lagi bergantung pada dunia, tetapi pada kedekatannya dengan Sang Pencipta.
6. Memutus Akal dari Berbagai Khayalan Ilusif
Tahapan tertinggi adalah penyucian akal.
Akal adalah anugerah besar, namun ia memiliki keterbatasan. Banyak manusia tersesat karena terlalu percaya kepada logikanya sendiri dan melupakan petunjuk wahyu.
Khayalan ilusif yang sering menipu manusia antara lain:
Merasa hidup akan abadi.
Menganggap dunia adalah tujuan akhir.
Merasa amalnya sudah cukup.
Merasa dirinya paling benar.
Mengira kesuksesan dunia adalah ukuran kemuliaan.
Pada tahap ini seorang hamba menyadari bahwa ilmu tertinggi adalah mengenal keterbatasan dirinya.
Ia memahami bahwa akal harus tunduk kepada wahyu, sebagaimana mata membutuhkan cahaya untuk melihat.
Akal yang tercerahkan akan melahirkan hikmah, kebijaksanaan, dan ketundukan kepada Allah.
Puncak Perjalanan: Menemukan Allah dalam Kehidupan.
Enam tahapan ini sesungguhnya bukanlah tujuan akhir. Semua itu hanyalah jalan menuju tujuan yang lebih agung, yaitu mengenal Allah dan merasakan kehadiran-Nya dalam setiap detik kehidupan. Ketika tubuh bersih dari maksiat, nafsu terkendali, hati hanya bergantung kepada Allah, sirr bercahaya, ruh terbebas dari belenggu dunia, dan akal tunduk kepada wahyu, maka lahirlah manusia yang tenang, bijaksana, dan penuh kasih sayang.
Inilah manusia yang disebut dalam Al-Qur'an:
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ࣖࣖ
"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku."
(QS. Al-Fajr: 27–30).
Refleksi
Janganlah kita sibuk memperbaiki dunia tetapi melupakan jiwa. Jangan hanya membangun rumah yang megah, sementara hati kita runtuh. Jangan hanya mempercantik penampilan lahir, sementara ruh kita kelaparan. Perjalanan menuju Allah dimulai dari satu langkah kecil: taubat yang tulus hari ini. Mungkin kita belum menjadi ahli ibadah. Mungkin kita belum menjadi wali Allah. Namun, selama hati masih rindu kepada-Nya, pintu rahmat-Nya tetap terbuka,
karena pada akhirnya, yang dicari Allah bukanlah kesempurnaan kita, melainkan kesungguhan kita untuk terus berjalan menuju-Nya.
"Barangsiapa berjalan menuju Allah satu langkah, maka Allah akan membukakan baginya seribu jalan rahmat dan hidayah."
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit