TintaSiyasi.id -- Penderitaan anak-anak di Gaza telah mencapai titik yang sangat memilukan. Katrin Glatz Brubakk, seorang psikoterapis asal Norwegia, mengungkapkan kepada BBC Mundo bahwa seluruh anak di Gaza mengalami trauma parah. Akibat trauma yang diderita, banyak dari mereka kehilangan kemampuan untuk berbicara (Kompas.com, 30/5/2026).
Ketika anak-anak Gaza kehilangan kemampuan berbicara, kemampuan mereka untuk berkembang pun terhenti. Sebab, bahasa adalah sebuah tanda; ketika tanda itu terputus, maka pertumbuhan mereka akan mandek sepenuhnya. Inilah yang dialami oleh anak-anak Gaza akibat perang yang berkepanjangan.
Jika seorang anak terus menarik diri seperti itu, hidup tanpa perkembangan maupun bahasa, serta dibiarkan dalam situasi stres ekstrem untuk waktu yang lama, ia akan menghadapi masalah besar di kemudian hari. Sebagaimana penjelasan Katrin yang disinyalir oleh Detik.com (30/5/2026), anak tersebut terancam tidak akan pernah bisa pulih sepenuhnya.
Derita sunyi ini adalah bukti nyata dari kekejaman entitas Zionis yang terus menyerang, membunuh, dan menghancurkan kehidupan di sana. Serangan brutal tersebut tidak cuma menargetkan fisik dan wilayah, tetapi secara sistematis juga meremukkan mental generasi penerus Palestina. Tindakan biadab ini pada hakikatnya sedang membunuh masa depan anak-anak Gaza secara pelan-pelan—sebuah kejahatan kemanusiaan yang paling sunyi, namun akan terus membekas dalam ingatan sejarah. Skenario genosida ini sejatinya merupakan upaya keji untuk menghapus masa depan Palestina dari peta dunia.
Bantuan kemanusiaan yang dikirim ke Gaza sangatlah minim, sementara dunia internasional seolah tidak berdaya untuk menghentikan kebiadaban entitas Zionis. Di sisi lain, para penguasa Muslim yang alih-alih membantu perjuangan rakyat Gaza, justru dinilai melakukan pengkhianatan terhadap perjuangan mereka.
Gaza terpaksa berjuang sendirian untuk melindungi rakyat dan wilayahnya. Hal memilukan itu tidak akan terjadi jika umat Islam memiliki perisai pelindung yang hakiki, yaitu institusi Khilafah Islam.
Duka dan air mata anak-anak Gaza harus segera diakhiri hingga keakarnya. Krisis ini tidak cukup diselesaikan dengan bantuan logistik atau sekedar menerapi trauma psikologis mereka. Selama hak-hak mereka dirampas dan masa depan mereka dibombardir, terapi psikologis terbaik pun tidak akan pernah mampu mengembalikan senyum mereka.
Maka, sejatinya obat terbaik bagi luka anak-anak Paleatina bukanlah posko kesehatan, melainkan gerak maju pasukan pembebas yang membebaskan Tanah para Nabi ini dari entitas Zionis Yahudi—bebas sepenuhnya dari belenggu penjajahan, agar anak-anak di sana bisa kembali tumbuh dalam kedamaian yang hakiki.
Kekejaman entitas Zionis yang terus-menerus membombardir bumi Palestina tidak boleh dibiarkan dan wajib dilawan. Bagi kaum Muslimin, perlawanan terhadap kejahatan ini wajib dilakukan melalui jalan jihad fii sabilillah. Namun, jihad tersebut tidak mungkin terwujud tanpa adanya institusi komando, yakni Khilafah. Melalui institusi inilah, pasukan tentaranya dikerahkan untuk membebaskan wilayah Palestina.
Kesadaran perjuangan kaum Muslimin untuk menegakkan kembali Khilafah Islamiyah adalah sebuah kebutuhan yang mutlak.
Sekat-sekat nasionalisme menjadi penyebab umat Islam terpecah-belah, sehingga tidak memiliki kekuatan politik untuk membebaskan Palestina. Oleh karena itu, pembebasan total Palestina dan persatuan hakiki kaum Muslimin hanya akan terwujud secara nyata di bawah naungan institusi Khilafah Islamiyah.
Allahu a'lam bish-shawaab
Elfia
Aktivis Muslimah