Tintasiyasi.id.com -- Harga kedelai impor kembali merangkak naik akibat melemahnya nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini berdampak langsung pada harga tempe dan tahu di berbagai daerah yang ikut melambung tinggi.
Salah satu perajin tempe di Kampung Sanan, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, mengeluhkan harga kedelai impor asal Amerika Serikat yang kini merangkak naik dari harga Rp9.000 menjadi Rp10.500 per kilogram. Beban perajin kian berat lantaran harga plastik kemasan juga ikut naik dari Rp35.000 menjadi Rp55.000 (Kompas.id, 20/5/2026).
Sebagai contoh, di Kompleks Semanan, Kalideres, Jakarta Barat para perajin tempe dan tahu memperkecil ukuran produk mereka demi bertahan hidup (Kompas.com, 22/5/2026).
Kenaikan harga-harga ini pada akhirnya membengkakkan biaya operasional usaha mereka secara drastis.
Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat berdampak langsung kepada para perajin tempe dan tahu karena bahan baku yang digunakan bergantung pada komoditas impor.
Akibatnya, biaya produksi kian melambung tinggi dan membuat para pelaku usaha kecil semakin tercekik. Kondisi ini pada akhirnya memukul masyarakat luas; untuk mendapatkan bahan pangan yang tergolong murah pun kini mengalami kesulitan.
Ironisnya, tempe dan tahu yang dianggap sebagai makanan identitas Indonesia, justru bahan bakunya dikontrol dari luar negeri. Negara pun harus mengeluarkan dana untuk membiayai impor kedelai mencapai triliunan rupiah, sebagaimana yang dilansir oleh CNBC Indonesia pada Kamis (21/5/2026).
Selama ketahanan pangan kita belum mandiri, tempe yang kita makan setiap hari akan terus bergantung kepada bangsa asing.
Jika kita telusuri, akar masalahnya lebih mendalam; mahalnya harga kedelai merupakan akibat langsung dari melemahnya nilai tukar rupiah di pasar global. Fenomena ini menunjukkan betapa rapuhnya sistem ekonomi kapitalisme yang melahirkan ketergantungan akut.
Dalam sistem ini, pangan ditempatkan sekadar sebagai komoditas bisnis yang tunduk pada mekanisme pasar dan orientasi keuntungan, bukan sebagai kebutuhan pokok yang wajib dijamin oleh negara.
Akibatnya, ketika pasokan bahan pangan domestik tidak terpenuhi, negara terjebak pada ketergantungan impor yang sangat rentan terhadap guncangan krisis global.
Karena bahan baku kedelai harus diimpor dari luar negeri dengan menggunakan mata uang asing, maka setiap kali rupiah melemah, dampaknya langsung dirasakan di garis depan oleh rakyat kecil.
Hal ini menjadi pukulan yang sangat telak karena tempe dan tahu merupakan makanan murah, bergizi, dan mudah didapatkan, yang selama ini menjadi sandaran pangan utama bagi mayoritas masyarakat Indonesia kelas menengah ke bawah.
Ketika komoditas dasar yang paling ekonomis ini pun tak lagi ramah di kantong, ruang hidup rakyat kecil menjadi semakin terhimpit di tengah badai ekonomi.
Keterpurukan ekonomi yang melanda dunia saat ini menjadi bukti nyata atas kegagalan sistem kapitalisme sekuler menyejahterakan manusia. Hari ini, kita menyaksikan sendiri bagaimana rakyat di berbagai penjuru terus tercekik oleh laju inflasi, harga pangan melambung akibat permainan kartel impor, dan perajin kecil kian tergerus oleh ekspansi korporasi raksasa hingga terpaksa gulung tikar.
Di tengah jalan buntu sistem ekonomi dunia saat ini, Islam hadir menawarkan solusi tuntas melalui institusi khilafah yang menerapkan politik ekonomi berdasarkan syariat Allah SWT.
Langkah fundamental pertama yang ditempuh adalah penerapan kembali mata uang yang memiliki nilai intrinsik stabil, yaitu mata uang berbasis emas dan perak. Dengan sistem ini, nilai uang menjadi jauh lebih stabil dan menutup celah bagi para spekulan finansial untuk mempermainkan pasar.
Selain itu, negara akan menghidupkan lahan pertanian produktif yang terlantar dan membangun kemandirian produksi kedelai lokal yang berkualitas tinggi demi memutus ketergantungan pada impor.
Di bawah naungan khilafah, politik ekonomi Islam berorientasi penuh pada pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu. Negara hadir bertindak sebagai pelindung aktif bagi produsen domestik dan perajin skala kecil dari himpitan monopoli korporasi raksasa.
Sudah saatnya umat berpaling dari sistem ekonomi buatan manusia yang terbukti menimbulkan kesengsaraan yang berkepanjangan, lalu kembali pada syariat Islam yang kaffah.
Rekam jejak sejarah emas peradaban telah membuktikan bahwa penerapan sistem ekonomi Islam mampu menghadirkan kesejahteraan yang merata dan berkah bagi seluruh alam. Allahu a'lam bish-shawab.[]
Oleh: Elfia
(Aktivis Muslimah)