TintaSiyasi.id -- Ungkapan: "Perbedaan antara rahmat dan mahabbah ialah bahwa rahmat adalah iradah kebajikan, kelembutan, dan pemberian nikmat, sedangkan mahabbah adalah iradah kedekatan, keakraban, dan kehormatan."
merupakan penjelasan yang sangat dalam dalam tradisi tasawuf dan tazkiyatun nafs. Keduanya sama-sama merupakan manifestasi kasih Allah, tetapi memiliki dimensi dan kedalaman yang berbeda.
Rahmat: Kasih Sayang yang Memberi dan Memelihara
Secara bahasa, rahmat berarti kasih sayang, kelembutan, dan belas kasih. Ketika Allah memberikan rahmat kepada hamba-Nya, maka Allah menghendaki kebaikan bagi hamba tersebut.
Rahmat tampak dalam berbagai bentuk:
• Kesehatan yang diberikan Allah.
• Rezeki yang dilimpahkan-Nya.
• Keselamatan dari musibah.
• Ampunan atas dosa.
• Hidayah menuju jalan yang benar.
Rahmat adalah bentuk kasih Allah yang membuat makhluk dapat hidup, tumbuh, dan menikmati berbagai nikmat-Nya.
Matahari yang terbit setiap pagi adalah rahmat. Udara yang dihirup manusia adalah rahmat. Hujan yang menyuburkan bumi adalah rahmat. Bahkan kesempatan bertaubat setelah berbuat dosa pun merupakan rahmat Allah.
Karena itu Allah memperkenalkan diri-Nya dengan nama:
Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
Rahmat Allah meliputi seluruh makhluk tanpa membedakan siapa mereka.
Firman Allah:
۞ وَاكْتُبْ لَنَا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ اِنَّا هُدْنَآ اِلَيْكَۗ قَالَ عَذَابِيْٓ اُصِيْبُ بِهٖ مَنْ اَشَاۤءُۚ وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍۗ فَسَاَكْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِاٰيٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَۚ
“ Tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada Engkau. (Allah) berfirman, “Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa dan menunaikan zakat serta bagi orang-orang yang beriman pada ayat-ayat Kami.”(QS. Al-A'raf: 156)
Rahmat berkaitan dengan pemberian dan pemeliharaan kehidupan.
Mahabbah: Kasih yang Menghendaki Kedekatan
Jika rahmat berorientasi pada pemberian nikmat, maka mahabbah berorientasi pada kedekatan.
Mahabbah bukan sekadar Allah memberi sesuatu kepada hamba-Nya, tetapi Allah memilih hamba tersebut untuk dekat dengan-Nya.
Rahmat dapat diberikan kepada banyak orang, tetapi mahabbah merupakan kedudukan yang lebih khusus.
Seseorang bisa saja memperoleh banyak nikmat dunia sebagai bagian dari rahmat Allah, namun belum tentu memperoleh maqam mahabbah.
Mahabbah ditandai dengan:
• Kedekatan hati dengan Allah.
• Kerinduan beribadah.
• Kelezatan dalam berdzikir.
• Kesukaan kepada ketaatan.
• Kehormatan di sisi Allah.
• Perasaan selalu bersama Allah dalam setiap keadaan.
Allah berfirman:
"Allah mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya."
(QS. Al-Ma'idah: 54)
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang pemberian nikmat, tetapi tentang hubungan cinta antara Sang Pencipta dan hamba-Nya.
Rahmat Menghilangkan Kesulitan, Mahabbah Menghadirkan Kedekatan
Rahmat sering kali tampak dalam bentuk dihilangkannya kesulitan.
Orang sakit disembuhkan.
Orang miskin dicukupkan.
Orang berdosa diampuni.
Sedangkan mahabbah tidak selalu menghilangkan ujian.
Justru terkadang orang yang dicintai Allah diuji lebih berat daripada yang lain.
Mengapa?
Karena tujuan mahabbah bukan sekadar kenyamanan, melainkan kedekatan.
Seorang kekasih rela menempuh jalan panjang demi bertemu dengan yang dicintainya. Begitu pula para nabi, wali, dan orang-orang saleh.
Mereka memperoleh mahabbah Allah sehingga ujian tidak menjauhkan mereka dari Allah, tetapi justru semakin mendekatkan mereka kepada-Nya.
Rahmat Berkaitan dengan Nikmat, Mahabbah Berkaitan dengan Kemuliaan
Rahmat menghasilkan nikmat.
Mahabbah menghasilkan kemuliaan.
Seseorang yang mendapat rahmat bisa memperoleh kekayaan, kesehatan, dan kemudahan.
Tetapi seseorang yang memperoleh mahabbah mendapatkan sesuatu yang lebih tinggi:
• Kedudukan di sisi Allah.
• Ketenangan batin.
• Cahaya makrifat.
• Keikhlasan.
• Kelezatan munajat.
• Kehormatan menjadi hamba pilihan.
Para sufi mengatakan:
"Rahmat membuatmu menikmati pemberian Allah, sedangkan mahabbah membuatmu menikmati kedekatan dengan Allah."
Rahmat Mengantar kepada Mahabbah
Meskipun berbeda, rahmat dan mahabbah tidak bertentangan.
Mahabbah justru tumbuh dari kesadaran terhadap rahmat Allah.
Semakin seseorang menyadari betapa banyak nikmat yang Allah berikan, semakin tumbuh rasa syukur. Dari syukur lahir cinta. Dari cinta lahir kerinduan. Dari kerinduan lahir kedekatan.
Karena itu perjalanan spiritual seorang mukmin biasanya dimulai dari:
Rahmat → Syukur → Mahabbah → Ma'rifah → Ridha.
Mula-mula ia menyaksikan karunia Allah, kemudian ia mencintai Sang Pemberi Karunia, lalu mengenal-Nya lebih dalam, hingga akhirnya ridha terhadap seluruh ketentuan-Nya.
Dalam Perspektif Dakwah Ideologis dan Sufistik
Umat Islam tidak boleh hanya mencari rahmat Allah dalam bentuk kemudahan hidup, kelapangan rezeki, dan keselamatan duniawi. Yang lebih tinggi adalah mengejar mahabbah Allah.
Peradaban Islam tidak dibangun hanya oleh manusia yang mengejar nikmat, tetapi oleh manusia yang mengejar cinta Allah.
Para nabi, sahabat, ulama, dan pejuang Islam sanggup berkorban bukan karena mengejar kenyamanan, melainkan karena mereka merasakan mahabbah kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ketika cinta kepada Allah telah memenuhi hati, maka pengorbanan menjadi ringan, ketaatan menjadi indah, dan perjuangan menjadi kehormatan.
Refleksi Spiritual
Setiap hari kita memohon rahmat Allah:
"Ya Allah, limpahkanlah rahmat-Mu kepada kami."
Namun seorang salik tidak berhenti di sana. Ia juga berdoa:
"Ya Allah, jangan hanya beri aku nikmat-Mu, tetapi karuniakan pula cinta-Mu. Jangan hanya dekatkan rezeki kepadaku, tetapi dekatkanlah diriku kepada-Mu."
Sebab rahmat membuat hidup menjadi baik, sedangkan mahabbah membuat hidup memiliki makna.
Rahmat memberi kenikmatan dalam perjalanan hidup, tetapi mahabbah menjadikan seluruh perjalanan hidup sebagai perjalanan menuju Allah.
Dan ketika seorang hamba telah sampai pada mahabbah, ia tidak lagi paling bergembira karena banyaknya nikmat yang diterimanya, melainkan karena kedekatannya dengan Rabb yang dicintainya.
Rahmat adalah karunia Allah yang turun kepada hamba. Mahabbah adalah karunia Allah yang mengangkat hamba mendekat kepada-Nya. Rahmat memberi kehidupan yang baik, sedangkan mahabbah memberi kehidupan yang penuh makna, kemuliaan, dan kerinduan kepada Allah Azza wa Jalla.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis, Dosen dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit)