Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ingat Mati dan Meninggalkan Jejak Kebaikan di Muka Bumi

Minggu, 21 Juni 2026 | 09:47 WIB Last Updated 2026-06-21T02:47:45Z
TintaSiyasi.id -- Kematian adalah satu-satunya kepastian yang tidak pernah meleset dari janji. Tidak ada seorang pun yang mampu menghindarinya, menundanya, atau bernegosiasi dengannya. Raja dan rakyat, ulama dan orang awam, kaya dan miskin, semuanya akan tiba pada titik yang sama: kembali menghadap Allah SWT.

Namun, yang membedakan manusia bukanlah kapan ia mati, melainkan apa yang ia tinggalkan setelah kematiannya.

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ 

“ Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali Imran: 185)

Kematian sebagai Guru Kehidupan
Dalam pandangan Islam, mengingat kematian bukanlah ajakan untuk pesimis atau meninggalkan kehidupan dunia. Sebaliknya, mengingat kematian adalah sarana untuk menjadikan hidup lebih bermakna, lebih terarah, dan lebih bernilai.
Orang yang sering mengingat kematian akan bertanya kepada dirinya:
• Apa tujuan hidupku?
• Untuk apa Allah menciptakanku?
• Amal apa yang akan menyelamatkanku di akhirat?
• Jejak apa yang akan kutinggalkan ketika aku tiada?
Kesadaran akan kematian akan membunuh kesombongan, meruntuhkan ketamakan, dan menghidupkan keikhlasan. Ia menyadarkan bahwa jabatan hanyalah amanah sementara, harta hanyalah titipan, dan dunia hanyalah tempat persinggahan.

Dunia adalah Ladang Menanam
Para ulama mengibaratkan dunia sebagai ladang dan akhirat sebagai tempat memanen hasilnya.
Hari ini kita menanam:
• Ilmu
• Amal saleh
• Sedekah
• Dakwah
• Kebaikan kepada sesama
• Keteladanan bagi keluarga
• Pengabdian kepada umat
Kelak semua itu akan tumbuh menjadi pohon pahala yang buahnya kita petik di akhirat.
Sebaliknya, kezaliman, kemaksiatan, fitnah, dan kerusakan yang ditanam di dunia akan menjadi penyesalan yang tak berkesudahan.

Jejak yang Tidak Mati
Tubuh manusia akan hancur dimakan tanah. Nama manusia perlahan akan dilupakan. Foto-fotonya akan memudar. Hartanya akan berpindah tangan.
Namun ada sesuatu yang tetap hidup setelah kematian: jejak kebaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ketika manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara:
1. Sedekah jariyah
2. Ilmu yang bermanfaat
3. Anak saleh yang mendoakannya
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak hanya berpikir tentang umur biologisnya, tetapi juga tentang umur manfaatnya.
Betapa banyak orang yang telah wafat ratusan tahun lalu, tetapi pahalanya masih terus mengalir karena ilmu yang diajarkan, kitab yang ditulis, masjid yang dibangun, atau generasi saleh yang dididiknya.

Menjadi Manusia yang Membawa Manfaat
Ukuran keberhasilan dalam Islam bukan semata-mata kekayaan atau popularitas, tetapi sejauh mana seseorang memberi manfaat.
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Maka setiap muslim hendaknya bertanya:
• Sudahkah aku membantu orang lain?
• Sudahkah aku mengajarkan ilmu?
• Sudahkah aku menjadi sumber inspirasi kebaikan?
• Sudahkah aku meringankan beban sesama?
• Sudahkah aku memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan?
Karena boleh jadi satu nasihat yang kita sampaikan dengan ikhlas menjadi sebab hidayah seseorang hingga akhir hayatnya.

Meninggalkan Warisan Peradaban
Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak cukup hanya menjadi orang baik, tetapi juga harus menjadi pembangun peradaban.
Jejak kebaikan dapat berupa:
• Mendirikan lembaga pendidikan
• Membina generasi Qurani
• Menulis buku yang mencerahkan
• Mengembangkan ilmu pengetahuan
• Membantu fakir miskin
• Menegakkan keadilan
• Menyebarkan dakwah
• Menjadi teladan akhlak mulia
Inilah investasi akhirat yang nilainya jauh melampaui keuntungan dunia.
Orang-orang besar dalam sejarah Islam dikenang bukan karena usia mereka yang panjang, tetapi karena manfaat yang mereka tinggalkan.

Perspektif Sufistik: Mati Sebelum Mati
Para ulama tasawuf sering mengingatkan tentang konsep "mati sebelum mati".
Maksudnya adalah mematikan:
• Kesombongan sebelum tubuh mati
• Ketamakan sebelum jasad mati
• Egoisme sebelum nyawa dicabut
• Cinta dunia yang berlebihan sebelum ajal datang
Ketika hati telah hidup bersama Allah, maka kematian tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan, melainkan pintu perjumpaan dengan Sang Kekasih.
Orang yang mencintai Allah akan mempersiapkan dirinya setiap hari dengan taubat, dzikir, syukur, amal saleh, dan pengabdian kepada sesama.
Muhasabah: Jika Hari Ini Hari Terakhir
Cobalah renungkan sejenak:
Jika malam ini adalah malam terakhir dalam hidup kita:
• Apakah kita sudah meminta maaf kepada orang yang kita sakiti?
• Apakah kita sudah bertaubat dari dosa-dosa?
• Apakah kita sudah menunaikan amanah?
• Apakah kita sudah meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi umat?
• Apakah kita siap bertemu Allah?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membangunkan hati yang sering terlena oleh hiruk-pikuk dunia.

Penutup
Kematian bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal kehidupan yang sesungguhnya. Karena itu, orang yang cerdas bukanlah yang paling banyak mengumpulkan dunia, tetapi yang paling baik mempersiapkan bekal untuk akhirat.
Marilah kita hidup dengan kesadaran bahwa umur semakin berkurang setiap hari. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, setiap ilmu sebagai cahaya, setiap harta sebagai sarana berbagi, dan setiap kesempatan sebagai ladang amal.
Ketika ajal tiba, semoga yang tertinggal bukan hanya nama di batu nisan, tetapi juga jejak-jejak kebaikan yang terus mengalirkan pahala, menerangi kehidupan manusia, dan menjadi saksi bahwa kita pernah hadir di muka bumi untuk mengabdi kepada Allah dan memberi manfaat bagi sesama.
"Orang yang paling beruntung bukanlah yang hidup paling lama, tetapi yang paling banyak meninggalkan manfaat dan kebaikan setelah ia tiada."
Allahumma khatim lana bil husna, waj'al atsarana fil ardhi atsaran thayyiban, wa ajirna min khizyi dunya wa 'adzabil akhirah. Aamiin.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)

Opini

×
Berita Terbaru Update