TintaSiyasi.id -- Jurnalis Joko Prasetyo menyatakan bahwa pelajaran utama antara persaingan Amerika Serikat (AS) dan Cina adalah bagaimana sebuah negara dapat memaksa dunia menghormatinya karena kekuatan yang dimilikinya.
“Sebuah negara dapat memaksa
dunia menghormatinya karena kekuatan yang dimilikinya. Ini memperlihatkan satu
fakta geopolitik yang sangat jelas, negara yang kuat membuat lawan berhitung.
Bahkan negara adidaya seperti Amerika Serikat pun dapat merasa khawatir ketika
melihat kebangkitan kekuatan lain," ujarnya kepada TintaSiyasi.ID,
Sabtu (30/05/026).
Ia menjelaskan, kekhawatiran AS
itu disampaikan dalam forum keamanan Asia Shangri-La Dialogue di
Singapura, Sabtu (30/05/2026).
"Pernyataan Menteri
Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth yang mengaku khawatir terhadap
pembangunan militer besar-besaran Cina sesungguhnya mengandung pelajaran
penting yang jarang dibahas," jelasnya.
Ia menerangkan, dalam politik
internasional, negara yang kuat memiliki ruang manuver lebih besar dibanding
negara yang lemah.
"Inilah hukum politik
internasional yang sudah berlangsung berabad-abad. Dahulu dunia juga
menyaksikan bagaimana Daulah Islam mampu menjadi kekuatan global yang
diperhitungkan oleh Romawi, Persia, hingga berbagai kekuatan besar
lainnya," terangnya.
Membangun Kekuatan Islam
Joko mengatakan bahwa Islam
pernah menjadi negara adidaya selama
berabad-abad.
"Will Durant dalam The
Story of Civilization menjelaskan, dunia Islam pernah memimpin dalam ilmu
pengetahuan, perdagangan, administrasi pemerintahan, kedokteran, matematika,
dan berbagai cabang peradaban lainnya," tambahnya.
Ia menegaskan, jika umat Islam
ingin kembali menjadi umat yang kuat, mereka harus kembali kepada faktor-faktor
yang dapat membangun kekuatan mereka. "Namun pertanyaannya, apa rahasia
kekuatan itu?” sebutnya
Joko menukil pernyataan Imam
Malik rahimahullah yang memberikan jawaban yang sangat terkenal:
“Tidak akan baik generasi
akhir umat ini kecuali denga napa yang telah menjadikan baik generasi awalnya.”
Tambahnya lagi, Syekh Taqiyuddin An-Nabhani
dalam Nizham Al-Islam (1953) dan Ad-Daulah Al-Islamiyah (1953)
menyatakan bahwa kebangkitan pertama umat Islam terjadi ketika Islam diterapkan
dalam kehidupan melalui tegaknya Daulah Islam.
Ia menyimpulkan bahwa, Islam
memerintahkan umatnya untuk membangun kekuatan sendiri. “Kekuatan akidah,
pemikiran, politik, ekonomi, teknologi, dan kekuatan militer,” tandasnya.
"Seluruh kekuatan dibangun
di atas asas Islam, bukan sekadar demi persaingan geopolitik. Sebab tujuan
akhirnya bukan hanya menjadi kuat di dunia, tetapi juga memperoleh rida Allah Swt.,
sehingga di dunia menebar rahmat dan mendorong secara sistematis agar di
akhirat selamat," simpulnya.[] Hidayah Muhammad