Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Persaingan AS-Cina, Jurnalis: Sebuah Negara Dapat Memaksa Dunia untuk Menghormatinya

Selasa, 09 Juni 2026 | 13:06 WIB Last Updated 2026-06-09T06:06:15Z

TintaSiyasi.id -- Jurnalis Joko Prasetyo menyatakan bahwa pelajaran utama antara persaingan Amerika Serikat (AS) dan Cina adalah bagaimana sebuah negara dapat memaksa dunia menghormatinya karena kekuatan yang dimilikinya.

 

“Sebuah negara dapat memaksa dunia menghormatinya karena kekuatan yang dimilikinya. Ini memperlihatkan satu fakta geopolitik yang sangat jelas, negara yang kuat membuat lawan berhitung. Bahkan negara adidaya seperti Amerika Serikat pun dapat merasa khawatir ketika melihat kebangkitan kekuatan lain," ujarnya kepada TintaSiyasi.ID, Sabtu (30/05/026).

 

Ia menjelaskan, kekhawatiran AS itu disampaikan dalam forum keamanan Asia Shangri-La Dialogue di Singapura, Sabtu (30/05/2026).

 

"Pernyataan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth yang mengaku khawatir terhadap pembangunan militer besar-besaran Cina sesungguhnya mengandung pelajaran penting yang jarang dibahas," jelasnya.

 

Ia menerangkan, dalam politik internasional, negara yang kuat memiliki ruang manuver lebih besar dibanding negara yang lemah.

 

"Inilah hukum politik internasional yang sudah berlangsung berabad-abad. Dahulu dunia juga menyaksikan bagaimana Daulah Islam mampu menjadi kekuatan global yang diperhitungkan oleh Romawi, Persia, hingga berbagai kekuatan besar lainnya," terangnya.

 

Membangun Kekuatan Islam

 

Joko mengatakan bahwa Islam pernah menjadi negara adidaya  selama berabad-abad.

 

"Will Durant dalam The Story of Civilization menjelaskan, dunia Islam pernah memimpin dalam ilmu pengetahuan, perdagangan, administrasi pemerintahan, kedokteran, matematika, dan berbagai cabang peradaban lainnya," tambahnya.

 

Ia menegaskan, jika umat Islam ingin kembali menjadi umat yang kuat, mereka harus kembali kepada faktor-faktor yang dapat membangun kekuatan mereka. "Namun pertanyaannya, apa rahasia kekuatan itu?” sebutnya

 

Joko menukil pernyataan Imam Malik rahimahullah yang memberikan jawaban yang sangat terkenal:

 

“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali denga napa yang telah menjadikan baik generasi awalnya.”

 

Tambahnya lagi, Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dalam Nizham Al-Islam (1953) dan Ad-Daulah Al-Islamiyah (1953) menyatakan bahwa kebangkitan pertama umat Islam terjadi ketika Islam diterapkan dalam kehidupan melalui tegaknya Daulah Islam.

 

Ia menyimpulkan bahwa, Islam memerintahkan umatnya untuk membangun kekuatan sendiri. “Kekuatan akidah, pemikiran, politik, ekonomi, teknologi, dan kekuatan militer,” tandasnya.


"Seluruh kekuatan dibangun di atas asas Islam, bukan sekadar demi persaingan geopolitik. Sebab tujuan akhirnya bukan hanya menjadi kuat di dunia, tetapi juga memperoleh rida Allah Swt., sehingga di dunia menebar rahmat dan mendorong secara sistematis agar di akhirat selamat," simpulnya.[] Hidayah Muhammad

Opini

×
Berita Terbaru Update