“Kecanggihan teknologi militer
seperti kecerdasan buatan (AI), drone, satelit, dan perang siber dinilai
tidak otomatis menjamin kemenangan dalam konflik bersenjata,” lugasnya kepada TintaSiyasi.ID,
Jumat (29/05/2026).
Menurut Joko, perkembangan AI
memang telah mengubah wajah peperangan modern melalui analisis intelijen
otomatis, prediksi pergerakan lawan, hingga percepatan pengambilan keputusan
militer.
“Pengalaman konflik yang
melibatkan Iran menunjukkan bahwa keunggulan teknologi belum tentu mampu
mematahkan ketahanan sebuah negara,” sebutnya.
"Iran menghadapi embargo
berkepanjangan, tekanan ekonomi, sabotase, serangan siber, hingga berbagai
operasi intelijen, tetapi tetap mampu bertahan," imbuhnya.
Ia menjelaskan, perang tidak
hanya ditentukan oleh kekuatan material dan teknologi, melainkan juga oleh
faktor moral, ideologi, keyakinan, serta daya tahan masyarakat dalam menghadapi
tekanan.
Joko mengutip pemikiran Islam
yang membagi kekuatan manusia ke dalam tiga aspek, yakni kekuatan materi,
moral, dan ruhiah. “Ketiga unsur tersebut berperan dalam menentukan kemampuan
suatu bangsa bertahan dalam konflik berkepanjangan,” ulasnya.
Meski demikian, Joko menegaskan
bahwa penguatan teknologi tetap menjadi kewajiban strategis. “Penguasaan AI,
keamanan siber, sistem intelijen, satelit, dan teknologi pertahanan modern
merupakan bagian penting dalam menjaga keamanan negara,” tuturnya.
Ia juga menyoroti strategi yang
disebut sebagai perang asimetris yang diterapkan Iran. “Strategi tersebut
dilakukan dengan memanfaatkan drone berbiaya rendah, serangan berulang,
perang siber, serta tekanan di berbagai front untuk mengimbangi keunggulan
teknologi lawan,” ulasnya
"Perang modern bukan hanya
soal siapa yang paling canggih, tetapi juga siapa yang paling mampu bertahan
dalam jangka panjang," ujarnya.
Selain membahas aspek militer,
Joko menyinggung pentingnya persatuan politik umat Islam. “Dunia Islam memiliki
sumber daya dan potensi besar, namun belum terintegrasi secara optimal dalam
membangun kemandirian politik, ekonomi, dan teknologi,” tandasnya.
“Perkembangan teknologi, termasuk
AI dan sistem persenjataan modern, pada akhirnya merupakan alat yang
penggunaannya harus dipertanggungjawabkan secara moral dan agama,” simpulnya.[]
Tiara