Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Jurnalis: AI Canggih Tak Otomatis Menang Perang dalam Konflik Bersenjata

Selasa, 09 Juni 2026 | 13:07 WIB Last Updated 2026-06-09T06:07:18Z
TintaSiyasi.id -- Jurnalis Joko Prasetyo menilai bahwa kecanggihan teknologi militer seperti kecerdasan buatan (AI), drone, satelit, dan perang siber dinilai tidak otomatis menjamin kemenangan dalam konflik bersenjata.

 

“Kecanggihan teknologi militer seperti kecerdasan buatan (AI), drone, satelit, dan perang siber dinilai tidak otomatis menjamin kemenangan dalam konflik bersenjata,” lugasnya kepada TintaSiyasi.ID, Jumat (29/05/2026).

 

Menurut Joko, perkembangan AI memang telah mengubah wajah peperangan modern melalui analisis intelijen otomatis, prediksi pergerakan lawan, hingga percepatan pengambilan keputusan militer.

 

“Pengalaman konflik yang melibatkan Iran menunjukkan bahwa keunggulan teknologi belum tentu mampu mematahkan ketahanan sebuah negara,” sebutnya.

 

"Iran menghadapi embargo berkepanjangan, tekanan ekonomi, sabotase, serangan siber, hingga berbagai operasi intelijen, tetapi tetap mampu bertahan," imbuhnya.

 

Ia menjelaskan, perang tidak hanya ditentukan oleh kekuatan material dan teknologi, melainkan juga oleh faktor moral, ideologi, keyakinan, serta daya tahan masyarakat dalam menghadapi tekanan.

 

Joko mengutip pemikiran Islam yang membagi kekuatan manusia ke dalam tiga aspek, yakni kekuatan materi, moral, dan ruhiah. “Ketiga unsur tersebut berperan dalam menentukan kemampuan suatu bangsa bertahan dalam konflik berkepanjangan,” ulasnya.

 

Meski demikian, Joko menegaskan bahwa penguatan teknologi tetap menjadi kewajiban strategis. “Penguasaan AI, keamanan siber, sistem intelijen, satelit, dan teknologi pertahanan modern merupakan bagian penting dalam menjaga keamanan negara,” tuturnya.

 

Ia juga menyoroti strategi yang disebut sebagai perang asimetris yang diterapkan Iran. “Strategi tersebut dilakukan dengan memanfaatkan drone berbiaya rendah, serangan berulang, perang siber, serta tekanan di berbagai front untuk mengimbangi keunggulan teknologi lawan,” ulasnya

 

"Perang modern bukan hanya soal siapa yang paling canggih, tetapi juga siapa yang paling mampu bertahan dalam jangka panjang," ujarnya.

 

Selain membahas aspek militer, Joko menyinggung pentingnya persatuan politik umat Islam. “Dunia Islam memiliki sumber daya dan potensi besar, namun belum terintegrasi secara optimal dalam membangun kemandirian politik, ekonomi, dan teknologi,” tandasnya.

 

“Perkembangan teknologi, termasuk AI dan sistem persenjataan modern, pada akhirnya merupakan alat yang penggunaannya harus dipertanggungjawabkan secara moral dan agama,” simpulnya.[] Tiara

Opini

×
Berita Terbaru Update