TintaSiyasi.id -- Jurnalis Joko Prasetyo menanggapi pernyataan Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra dalam seminar nasional di Universitas Negeri Surabaya bahwa Indonesia bisa menjadi target Amerika Serikat karena kekayaan sumber daya alam yang dimiliki.
"Justru mengonfirmasi satu persoalan besar negeri ini: negara yang dibangun puluhan tahun ternyata masih miskin visi peradaban," ujarnya kepada TintaSiyasi.id, Kamis (4/6/2026).
Lebih lanjut, lelaki yang akrab disapa Om Joy itu, mengatakan pernyataan Yusril itu memang realistis bila dilihat dari ketimpangan militer global. Namun di sisi lain, ucapan tersebut juga memperlihatkan cara pandang negara modern yang terlalu lama dididik menjadi bangsa konsumen, bangsa pasar, dan bangsa yang kehilangan arah politik peradaban.
Padahal, kata dia, sejarah menunjukkan bahwa bangsa yang besar lahir bukan sekadar karena kaya sumber daya, tetapi karena memiliki visi peradaban yang kuat.
"Sebab Indonesia sesungguhnya tidak miskin kekuatan. Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar dunia, emas, batu bara, gas, jalur laut strategis, bonus demografi, populasi Muslim terbesar, wilayah luas, dan posisi geopolitik yang sangat penting," ujarnya.
"Masalah utamanya bukan sekadar kurang senjata. Masalah terbesar justru: visi peradaban," imbuhnya.
Ia menjelaskan, selama puluhan tahun Indonesia dibangun dalam sistem kapitalisme global yang menjadikan negeri ini lebih sering berfungsi sebagai: pemasok bahan mentah, pasar konsumsi, sumber tenaga kerja, dan objek perebutan pengaruh geopolitik dunia.
"Akibatnya, kekayaan besar tidak otomatis melahirkan kemandirian besar. Sumber daya alam melimpah, tetapi teknologi strategis bergantung. Jumlah penduduk besar, tetapi arah politik tercerai. Mayoritas Muslim, tetapi Islam dipinggirkan hanya menjadi urusan spiritual pribadi," ujarnya.
Padahal, kata dia, sejarah menunjukkan: bangsa besar lahir bukan sekadar karena kaya sumber daya, tetapi karena memiliki visi peradaban yang kuat.
Ia mengutip pernyataan, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam pendahuluan πππ§βππ ππ-πΌππ‘ππ βπππ ππ ππ-πΌπ πππ (Sistem Ekonomi Islam) karya beliau (1953) menjelaskan, kebangkitan hakiki suatu umat bukan dibangun pertama-tama oleh kekayaan materi, tetapi oleh kekayaan pemikiran yang melahirkan arah hidup, sistem, dan peradaban. Karena itu, negeri yang kaya sumber daya tetapi miskin pemikiran tetap mudah didominasi.
"Banyak orang modern mengira kemenangan perang ditentukan terutama oleh kekuatan materi. Siapa yang memiliki AI paling canggih, drone terbaik, misil paling presisi, dan alutsista paling modern dianggap pasti akan menang," ujarnya.
Ia mengutip, dalam πΉππππ’π πΌπ ππππ (Pemikiran Islam) karya Muhammad Muhammad Ismail (1980-an) dijelaskan, manusia memiliki tiga jenis kekuatan: kekuatan materi, kekuatan moral, dan kekuatan ruhiah.
"Dalam penjelasan tersebut, kekuatan materi memang penting, tetapi pengaruhnya justru berada pada level paling rendah dibanding kekuatan moral dan ruhiah. Sedangkan kekuatan ruhiah merupakan level tertinggi," paparnya.
Sebab, kata dia, manusia tidak hanya digerakkan oleh hitungan material. Ada keyakinan, ideologi, keberanian berkorban, loyalitas, dan hubungan ruhiah dengan Allah SWT yang sering justru menentukan daya tahan sebuah bangsa.
"Karena itu, sejarah berkali-kali menunjukkan, bangsa yang memiliki ketahanan moral dan ruhiah sering mampu bertahan jauh lebih lama daripada perkiraan lawannya, meskipun secara teknologi tidak selalu unggul," jelasnya.
Namun, ia mengungkapkan, keliru pula bila pembicaraan tentang moral dan ruhiah dipahami sebagai ajakan mengabaikan kekuatan materi. Islam justru memerintahkan umat membangun kekuatan strategis.
Ia mengutip QS al-Anfal: 60
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang, yang dengan persiapan itu kalian menggentarkan musuh Allah, musuh kalian…”
"Dalam konteks modern, “menggentarkan musuh” tentu tidak lagi terbatas pada kuda perang, tetapi juga mencakup: teknologi militer, AI pertahanan, drone, keamanan siber, satelit, dan penguasaan teknologi strategis. Karena itu, kekuatan material tetap wajib dibangun secara serius," jelasnya.
Ia mengutip, π·πππππ‘ πππππ’ππ’πππ¦π ππ-ππ’ππ’πππ‘ π€π ππ-πΌπ‘π‘ππ βππππ‘ (Direktorat Teknologi Informasi dan Komunikasi) karya Hizbut Tahrir (2026), dijelaskan bahwa penguasaan teknologi informasi, keamanan siber, pengintaian digital, dan perlindungan sistem informasi negara merupakan bagian penting dalam menjaga keamanan negara dan menghadapi musuh.
"Artinya, Islam tidak anti teknologi. Umat justru diperintahkan menguasai teknologi, memperkuat keamanan informasi, membangun strategi modern, dan memanfaatkan AI untuk menjaga umat," ungkapnya.
Namun, ia mengungkapkan, mesin tetaplah alat. Sedangkan yang menentukan manusia bertahan atau runtuh sering kali adalah moral, ideologi, dan kekuatan ruhiah.
Ia bertanya, mengapa Negara Islam Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW dan Khilafah Rasyidah di bawah komando Khulafaur Rasyidin berani menghadapi kekuatan besar dunia saat itu?
"Padahal secara materi mereka jauh lebih kecil dibanding Romawi dan Persia. Jawabannya bukan semata-mata jumlah pasukan atau teknologi. Mereka memiliki: akidah yang kuat, visi peradaban, kepemimpinan ideologis, persatuan politik, dan keyakinan akhirat," urainya.
"Mereka tidak takut kehilangan dunia karena orientasi utamanya bukan sekadar bertahan hidup, tetapi mencari ridha Allah SWT. Itulah yang membuat generasi Islam awal memiliki keberanian luar biasa," sambungnya.
Mereka, kata dia, rela berjihad bukan karena ambisi penjajahan, tetapi karena keyakinan bahwa Islam adalah rahmat bagi manusia.
Hari ini, ia menjelaskan, dunia Islam justru mengalami kebalikan. Sumber daya besar, tetapi tercerai-berai. Penduduk besar, tetapi saling dipisahkan nasionalisme sempit. Padahal Islam tidak hanya berbicara tentang persatuan spiritual, tetapi juga persatuan politik umat.
Ia mengutip pernyataan, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam π΄π-π·ππ’ππβ ππ-πΌπ πππππ¦πβ menjelaskan, berbagai bangsa dahulu dapat melebur ke dalam Daulah Islam bukan karena kesamaan ras, warna kulit, bahasa, atau suku.
"Bangsa Arab, Turki, Kurdi, Persia, Barbar, Mesir, Syam, hingga berbagai bangsa lain dapat bersatu karena diikat oleh akidah Islam dan sistem kehidupan yang sama. Islam menjadikan akidah sebagai asas negara, sedangkan seluruh kaum Muslim dipandang sebagai satu umat," contohnya.
Karena itu, ia menguraikan, loyalitas utama mereka bukan kepada bangsa, ras, atau wilayah geografis, tetapi kepada Islam.
"Inilah yang dahulu melahirkan kekuatan peradaban besar selama berabad-abad," tegasnya.
Ia juga mengutip pernyataan, Imam al-Qurthubi (w. 671 H/1273 M) dalam ππππ ππ ππ-ππ’ππ‘βπ’ππ menjelaskan, pengangkatan imam/khalifah merupakan kewajiban agar hukum-hukum syariat dapat ditegakkan.
Imam an-Nawawi (w. 676 H/1277 M) dalam ππ¦ππβ πβπβπβ ππ’π πππ juga menegaskan adanya ijmak ulama tentang wajibnya mengangkat khalifah bagi kaum Muslim.
"Karena itu, persatuan politik umat bukan sekadar romantisme sejarah, tetapi bagian dari kewajiban syariat," tegasnya.
Ia mencontohkan, banyak sejarawan Barat mengakui kegemilangan peradaban Islam.
"Will Durant dalam πβπ ππ‘πππ¦ ππ πΆππ£ππππ§ππ‘πππ (1935) menjelaskan, peradaban Islam selama berabad-abad menjadi pemimpin dunia dalam ilmu pengetahuan, kedokteran, matematika, filsafat, perdagangan, dan administrasi pemerintahan," sebutnya.
"Gustave Le Bon dalam πΏπ πΆππ£ππππ ππ‘πππ πππ π΄πππππ (1884) juga menjelaskan bagaimana dunia Islam pernah membangun peradaban besar yang memengaruhi Eropa selama berabad-abad," sambungnya.
Kemudian, ia menunjukkan, dunia Islam sebenarnya bukan tidak mampu besar. Yang hilang justru: arah peradaban, persatuan politik, dan keberanian menjadikan Islam sebagai asas kehidupan.
Oleh karena itu, pembahasan tentang kekuatan bangsa tidak lagi sekadar urusan geopolitik. Sebab seluruh manusia kelak akan dihisab di hadapan Allah SWT.
"Penguasa akan ditanya, "Apakah kekuasaan digunakan untuk menjaga umat atau justru menyerahkan negeri kepada dominasi asing?"" Paparnya.
Selanjutnya, ilmuwan akan ditanya, "Apakah ilmu dipakai membangun kemandirian umat atau sekadar memperkuat sistem yang menindas manusia?"
"Dan umat Islam pun akan ditanya, "Apakah sungguh-sungguh berusaha memperjuangkan persatuan umat dan penerapan syariat secara kaffah, atau justru nyaman hidup dalam keterpecahan?"" Cecarnya.
Sebab, kata dia, kelak seluruh kekuatan dunia akan runtuh. Yang tersisa hanyalah amal, kejujuran, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
"Karena itu, membangun kekuatan umat bukan sekadar proyek ekonomi, militer, atau politik. Melainkan bagian dari ikhtiar menuju ridha Allah SWT dan keselamatan dari hisab yang berat di akhirat kelak," pungkasnya.[] Alfia