TintaSiyasi.id -- Pengamat Politik Internasional Budi Mulyana menyatakan bahwa adanya persatuan dunia Islam di bawah naungan satu politik adalah kebutuhan geopolitik mendesak bagi umat Islam dan bukan sekadar romantisme sejarah atau utopia religius.
“Persatuan dunia Islam di bawah
satu naungan politik adalah kebutuhan geopolitik yang mendesak dan bukan sekadar
romatisme sejarah atau utopia religius,” ujarnya dalam rubrik Analisis majalah
Al-Wa’ie berjudul Perang Iran vs AS-Zionis Yahudi dan Masa Depan
Dunia Islam edisi 01-31 Mei 2026.
Menurutnya, dunia Islam memiliki
potensi luar biasa yang tidak dimiliki oleh peradaban lain. “Pertama, potensi
mliter. Jika angkatan bersenjata militer Turki, Pakistan, Iran, Indonesia, dan
Mesir berada dalam satu komando, akan menjadi militer terkuat yang melampaui
gabungan kekuatan NATO,” bebernya.
Secara jumlah, menurut Budi, gabungan
militer negara-negara Muslim diperkirakan mencapai lebih dari lima juta tentara
aktif, dengan cadangan yang lebih besar.
Untuk kekuatan nuklir, ia
menyebut bahwa Pakistan memiliki hulu ledak nuklir yang diakui secara
internasional dan mampu mengancam srategi global serta memberikan efek
penggentar.
“Kaum Muslim juga punya teknologi
drone dan rudal yang ada di Turki dan Iran dengan balistik presisi
tinggi yang mampu melumpuhkan pertahanan militer Barat,” tuturnya.
“Sementara kekuatan militer udara
dan laut, Mesir-Indonesia sangat siginifikan menjaga dua samudera utama yaitu
Hindia dan Pasifik,” lanjutnya dalam majalah tersebut.
Kedua, sumber daya manusia
yang jumlah populasinya dengan struktur usia muda produktif akan menjadi mesin
pertumbuhan ekonomi yang tidak tertandingi.
“Jumlah total populasi Muslim
dunia sekitar dua miliiar atau sekitar 25 persen dari populasi global,”
sebutnya.
Di samping itu, kata Budi, dunia
Islam memiliki bonus demografi lebih dari 60 persen populasi Muslim berusia di
bawah 30 tahun dan potensi tersebut sangat kontras dengan Amerika dan Eropa
yang mengadapi krisis penuaan populasi (aging population).
“Dari sisi pengaruh, diaspora
Muslim berada di hampir setiap negara kunci dunia yang memberikan pengaruh
sosial dan politik yang luas (soft power).
“Ketiga, terkait geopolitik
strategis, umat Islam menguasai urat nadi dunia seperti Selat Hormuz, Selat
Malaka, Terusan Zues, dan Selat Gibraltar yang akan membuat negara manapun
secara politik akan tunduk pada dunia Islam,” imbuhnya lagi.
Keempat, kekayaan alam
melimpah dan menjadi modal untuk membangun kemandirian industri total. “Dunia
Islam ibarat bendahara planet bumi, sebab tanpa sumber daya alam dari dunia
Islam, industri Barat akan berhenti beroperasi dalam hitungan minggu,”serunya.
“Negara- negara Muslim menguasai
sekitar 60-70 persen cadangan minyak mentah dunia dan lebih dari 50 persen
cadangan gas alam global seperti milik kawasan Teluk, Libya, dan Al-Jazair yang
menjadi penyokong utama energi dunia,” jelasnya.
Termasuk mineral strategis
seperti Nikel yang terbesar cadangannya di Indonesia, Litium di Afganistan, dan
Fosfat di Maroko,” ungkap Budi lagi.
Oleh karena itu, tegasnya,
pelajaran yang harus diambil oleh kaum Muslim dari perang Iran-AS atau entitas
Zionis sangatlah jelas, yaitu kekuatan musuh terlihat besar karena dunia Islam
terpecah.
“Kelemahan umat bukan terletak
pada kurangnya jumlah atau harta, melainkan ketiadaan kepemimpinan politik yang
satu lagi berani,” jelasnya.
“Sudah saatnya umat Islam bangkit
dari tidur politiknya dan berhenti terjebak dalam isu-isu sektarian yang
sengaja diciptakan oleh musuh. Juga
harus menanggalkan nasionalisme yang
memecah-belah dan mewujudkan institusi politik yang berdaulat, yakni khilafah,”
pungkasnya.[] M. Siregar