Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pengamat Politik: Persatuan Politik Dunia Islam Adalah Kebutuhan Geopolitik

Selasa, 09 Juni 2026 | 13:09 WIB Last Updated 2026-06-09T06:09:13Z

TintaSiyasi.id -- Pengamat Politik Internasional Budi Mulyana menyatakan bahwa adanya persatuan dunia Islam di bawah naungan satu politik adalah kebutuhan geopolitik mendesak bagi umat Islam dan bukan sekadar romantisme sejarah atau utopia religius.

 

“Persatuan dunia Islam di bawah satu naungan politik adalah kebutuhan geopolitik yang mendesak dan bukan sekadar romatisme sejarah atau utopia religius,” ujarnya dalam rubrik Analisis majalah Al-Wa’ie berjudul Perang Iran vs AS-Zionis Yahudi dan Masa Depan Dunia Islam edisi 01-31 Mei 2026.

 

Menurutnya, dunia Islam memiliki potensi luar biasa yang tidak dimiliki oleh peradaban lain. “Pertama, potensi mliter. Jika angkatan bersenjata militer Turki, Pakistan, Iran, Indonesia, dan Mesir berada dalam satu komando, akan menjadi militer terkuat yang melampaui gabungan kekuatan NATO,” bebernya.

 

Secara jumlah, menurut Budi, gabungan militer negara-negara Muslim diperkirakan mencapai lebih dari lima juta tentara aktif, dengan cadangan yang lebih besar.

 

Untuk kekuatan nuklir, ia menyebut bahwa Pakistan memiliki hulu ledak nuklir yang diakui secara internasional dan mampu mengancam srategi global serta memberikan efek penggentar.

 

“Kaum Muslim juga punya teknologi drone dan rudal yang ada di Turki dan Iran dengan balistik presisi tinggi yang mampu melumpuhkan pertahanan militer Barat,” tuturnya.

 

“Sementara kekuatan militer udara dan laut, Mesir-Indonesia sangat siginifikan menjaga dua samudera utama yaitu Hindia dan Pasifik,” lanjutnya dalam majalah tersebut.

 

Kedua, sumber daya manusia yang jumlah populasinya dengan struktur usia muda produktif akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang tidak tertandingi.

 

“Jumlah total populasi Muslim dunia sekitar dua miliiar atau sekitar 25 persen dari populasi global,” sebutnya.

 

Di samping itu, kata Budi, dunia Islam memiliki bonus demografi lebih dari 60 persen populasi Muslim berusia di bawah 30 tahun dan potensi tersebut sangat kontras dengan Amerika dan Eropa yang mengadapi krisis penuaan populasi (aging population).

 

“Dari sisi pengaruh, diaspora Muslim berada di hampir setiap negara kunci dunia yang memberikan pengaruh sosial dan politik yang luas (soft power).

 

“Ketiga, terkait geopolitik strategis, umat Islam menguasai urat nadi dunia seperti Selat Hormuz, Selat Malaka, Terusan Zues, dan Selat Gibraltar yang akan membuat negara manapun secara politik akan tunduk pada dunia Islam,” imbuhnya lagi.

 

Keempat, kekayaan alam melimpah dan menjadi modal untuk membangun kemandirian industri total. “Dunia Islam ibarat bendahara planet bumi, sebab tanpa sumber daya alam dari dunia Islam, industri Barat akan berhenti beroperasi dalam hitungan minggu,”serunya.

 

“Negara- negara Muslim menguasai sekitar 60-70 persen cadangan minyak mentah dunia dan lebih dari 50 persen cadangan gas alam global seperti milik kawasan Teluk, Libya, dan Al-Jazair yang menjadi penyokong utama energi dunia,” jelasnya.

 

Termasuk mineral strategis seperti Nikel yang terbesar cadangannya di Indonesia, Litium di Afganistan, dan Fosfat di Maroko,” ungkap Budi lagi.

 

Oleh karena itu, tegasnya, pelajaran yang harus diambil oleh kaum Muslim dari perang Iran-AS atau entitas Zionis sangatlah jelas, yaitu kekuatan musuh terlihat besar karena dunia Islam terpecah.

 

“Kelemahan umat bukan terletak pada kurangnya jumlah atau harta, melainkan ketiadaan kepemimpinan politik yang satu lagi berani,” jelasnya.

 

“Sudah saatnya umat Islam bangkit dari tidur politiknya dan berhenti terjebak dalam isu-isu sektarian yang sengaja diciptakan oleh musuh.  Juga harus  menanggalkan nasionalisme yang memecah-belah dan mewujudkan institusi politik yang berdaulat, yakni khilafah,” pungkasnya.[] M. Siregar

Opini

×
Berita Terbaru Update