Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kedaulatan Pangan Dipertanyakan di Tengah Ketergantungan Impor

Selasa, 09 Juni 2026 | 13:10 WIB Last Updated 2026-06-09T06:10:15Z

TintaSiyasi.id -- Jurnalis Joko Prasetyo mempertanyakan strategi ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia dengan dibukanya akses pasar Indonesia untuk produk susu dan daging sapi dari Prancis.

 

“Dengan dibukanya akses pasar Indonesia untuk produk susu dan daging sapi dari Prancis, apakah ini merupakan strategi ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia?” rilisnya kepada TintaSiyasi.ID, Selasa (02/06/2026)

 

Hal itu menurut Joko memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan pangan nasional, seperti yang disebutkan dalam tulisannya bertajuk Susu-Daging Sapi Perancis: Kedaulatan atau Keterfantungan Pangan?.

 

"Bagaimana mungkin kedaulatan pangan dibangun melalui ketergantungan pada pasokan pangan dari luar negeri?" tegasnya.

 

Menurutnya, terbukanya akses pasar Indonesia bagi produk susu dan daging sapi asal Prancis patut dicermati lebih jauh.

 

Ia menilai, kebijakan tersebut tidak sekadar menyangkut perdagangan, tetapi juga menyentuh arah pembangunan pangan nasional, yakni antara mewujudkan kemandirian atau justru memperdalam ketergantungan impor.

 

“Terdapat sejumlah kontradiksi yang muncul dari kebijakan tersebut. Pertama, adanya paradoks dalam narasi kedaulatan pangan,” ujarnya.

 

Lanjut dikatakan, kedaulatan pangan semestinya diukur dari kemampuan suatu negara memenuhi kebutuhan strategis rakyatnya secara mandiri, bukan dari kemampuan memperoleh pasokan dari luar negeri.

 

Ia menilai, ketergantungan pada impor justru berpotensi meningkatkan kerentanan. “Betapa rapuhnya rantai pasok internasional, akibat pandemi, perang, konflik geopolitik, dan proteksionisme global,” ulasnya.

 

Kedua, impor hanyalah gejala, bukan akar persoalan. “Yang perlu dijawab adalah mengapa Indonesia yang memiliki sumber daya alam, lahan, dan tenaga kerja yang besar masih menghadapi persoalan pemenuhan kebutuhan pangan sendiri,” ujarnya.

 

"Defisit produksi mungkin menjelaskan mengapa impor dilakukan, tetapi tidak menjelaskan mengapa defisit itu terus berulang," ujarnya.

 

Lebih lanjut, ia menilai kebijakan yang terus menjadikan impor sebagai solusi berisiko membuat negara lebih fokus mengelola kekurangan daripada menyelesaikan penyebab kekurangan tersebut.

 

Ketiga, fenomena itu mencerminkan watak ekonomi kapitalisme global yang menempatkan hubungan antarnegara pada dasar kepentingan ekonomi masing-masing.

 

“Keberhasilan suatu negara dalam sistem kapitalis sering diukur dari terbukanya pasar dan meningkatnya perdagangan,” tambahnya.

 

Karena itu, Joko menilai antusiasme Macron sangat wajar. “Ia sedang berbicara sebagai kepala negara yang berhasil membuka pasar baru bagi industri peternakan negaranya,” ungkapnya.

 

“Pertanyaannya: siapa yang sedang dilindungi oleh kebijakan ini?” tanyanya.

 

Mengutip dari kitab Mafahim Hizb ut-Tahrir, Joko menyebutkan bahwa Syekh Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan, politik adalah pengaturan urusan umat, baik di dalam maupun di luar negeri.

 

“Karena itu, persoalannya bukan sekadar bagaimana barang masuk ke pasar, melainkan bagaimana negara mengatur urusan umat agar kebutuhan strategisnya tidak bergantung kepada bangsa lain,” tandasnya.

 

Padahal, lanjutnya, dalam Islam negara berfungsi sebagai raa'in atau pengurus rakyat, yang bertanggung jawab memastikan kebutuhan strategis masyarakat dapat terpenuhi secara optimal.

 

Keempat, adanya pergeseran orientasi negara dari pembangunan basis produksi menuju pemenuhan kebutuhan melalui konsumsi dan pasokan dari luar negeri.

 

“Negara yang kuat seharusnya membangun kapasitas produksi dalam negeri, sehingga tidak terus bergantung pada impor,” bebernya.

 

Ia menegaskan bahwa persoalannya bukan ada atau tidaknya manfaat jangka pendek.

 

“Persoalannya adalah di mana kapasitas produksi itu dibangun. Jika kekurangan pangan strategis terus ditutup dengan impor, sementara persoalan produksi tidak diselesaikan, maka ketergantungan akan terus berulang dari tahun ke tahun,” ulasnya.

 

“Karena itu negara tidak cukup hanya mengatakan, ‘Karena produksi kurang maka kita impor.’," kritisnya.

 

Menurutnya, negara juga harus mampu menjawab: "Mengapa kekurangan itu terus berlangsung?"

 

Dalam perspektif Islam, katanya, pangan merupakan bagian dari urusan rakyat yang wajib dijaga oleh negara.

 

“Karena itu, ukuran keberhasilan tidak terletak pada kemampuan mencari pemasok dari luar negeri, melainkan pada kemampuan menghilangkan penyebab yang membuat kekurangan pangan terus berulang,” sebutnya.

 

“Setiap kebijakan yang menyangkut pengurusan rakyat merupakan amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.. Di sanalah yang ada hanyalah hisab Allah Swt..  Lalu, surga atau neraka?” tandasnya.[] Titin Hanggasari

Opini

×
Berita Terbaru Update