Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Muhasabah Rakyat terhadap Penguasa: Antara Amanah Kekuasaan, Kritik Mahasiswa, dan Tanggung Jawab Umat dalam Perspektif Islam

Minggu, 21 Juni 2026 | 09:43 WIB Last Updated 2026-06-21T02:43:58Z
TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Ketika Suara Rakyat Menjadi Cermin Kekuasaan

Di berbagai zaman, suara rakyat sering menjadi cermin bagi para pemegang kekuasaan. Ketika mahasiswa, ulama, cendekiawan, aktivis, dan masyarakat turun menyampaikan aspirasi, sesungguhnya yang sedang terjadi bukan sekadar peristiwa politik, melainkan sebuah proses sosial yang menguji kualitas keadilan, kepekaan, dan amanah para pemimpin.

Aksi mahasiswa yang menyampaikan berbagai tuntutan terkait kondisi ekonomi, pengelolaan anggaran negara, harga kebutuhan pokok, korupsi, dan arah kebijakan nasional harus dipahami dalam kerangka yang lebih luas daripada sekadar peristiwa demonstrasi. 

Dalam perspektif Islam, hal itu dapat dilihat sebagai bagian dari muhasabah sosial, yaitu upaya masyarakat untuk mengingatkan para pemegang amanah agar tidak menyimpang dari tujuan keadilan dan kemaslahatan.
Islam bukan agama yang mengajarkan rakyat untuk membisu di hadapan kezaliman, tetapi juga bukan agama yang mengajarkan kebencian dan kekacauan. Islam mengajarkan keseimbangan antara keberanian menyampaikan kebenaran dan kebijaksanaan dalam menjaga kemaslahatan umat.

Kekuasaan adalah Amanah, Bukan Hak Milik
Al-Qur'an mengingatkan:
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil."
(QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini menegaskan bahwa kekuasaan bukanlah hak milik pribadi, keluarga, kelompok, partai, ataupun oligarki ekonomi. Kekuasaan adalah amanah dari Allah yang harus digunakan untuk melayani rakyat.
Dalam Islam, seorang pemimpin bukanlah "tuan" yang harus dilayani rakyat, melainkan pelayan yang diberi tanggung jawab besar untuk mengurus urusan umat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, seorang presiden, menteri, anggota DPR, gubernur, bupati, hakim, pejabat negara, hingga pemimpin lembaga publik akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya di hadapan rakyat, tetapi juga di hadapan Allah SWT.
Jabatan yang dipandang manusia sebagai kehormatan bisa berubah menjadi penyesalan besar di akhirat jika digunakan untuk menzalimi rakyat.

Mengapa Rakyat Harus Bermuhasabah terhadap Penguasa?
Muhasabah rakyat terhadap penguasa bukanlah tindakan permusuhan.
Muhasabah adalah bentuk cinta kepada negeri, kepedulian terhadap masa depan bangsa, dan tanggung jawab keagamaan.
Islam mengenal konsep amar ma'ruf nahi munkar, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Allah berfirman:
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar."
(QS. Ali Imran: 104)
Ayat ini tidak mengecualikan penguasa.
Jika rakyat wajib mengingatkan sesama rakyat yang melakukan kemungkaran, maka penguasa yang memiliki kekuasaan jauh lebih besar tentu lebih layak untuk diingatkan ketika melakukan kesalahan.
Karena kesalahan penguasa dapat berdampak kepada jutaan bahkan ratusan juta manusia.

Mahasiswa sebagai Penjaga Nurani Bangsa
Dalam sejarah dunia Islam maupun Indonesia, mahasiswa sering menjadi kelompok yang memiliki keberanian moral untuk menyuarakan kegelisahan masyarakat.
Mahasiswa idealnya bukan agen kekacauan, melainkan agen pencerahan.
Mereka adalah kelompok yang memiliki akses kepada ilmu pengetahuan, analisis sosial, dan idealisme yang relatif belum terikat oleh kepentingan kekuasaan maupun ekonomi.
Karena itu kritik mahasiswa harus dipandang sebagai alarm sosial.
Alarm tidak selalu menyenangkan untuk didengar, tetapi alarm diperlukan agar rumah tidak terbakar tanpa disadari penghuninya.
Ketika mahasiswa menyampaikan kritik terhadap kenaikan biaya hidup, korupsi, ketimpangan ekonomi, pemborosan anggaran, atau kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat, maka yang seharusnya dilakukan oleh penguasa adalah mendengar, mengkaji, dan menjawab secara argumentatif.
Bukan sekadar menstigma atau mengabaikannya.

Bahaya Ketika Penguasa Kehilangan Kepekaan
Salah satu penyakit kekuasaan yang paling berbahaya adalah hilangnya kemampuan mendengar.
Sejarah menunjukkan bahwa banyak kerajaan, dinasti, dan pemerintahan runtuh bukan karena kurang kuat, tetapi karena terlalu lama mengabaikan suara rakyat.
Al-Qur'an berulang kali menceritakan kehancuran para penguasa zalim seperti Fir'aun, Namrud, dan para pemimpin yang sombong terhadap nasihat.
Mereka memiliki kekuatan militer, kekayaan, dan birokrasi yang besar.
Namun mereka kehilangan sesuatu yang lebih penting: kerendahan hati untuk menerima kebenaran.
Kezaliman biasanya tidak datang sekaligus.
Ia tumbuh perlahan melalui:
• Korupsi yang dianggap biasa.
• Penyalahgunaan kekuasaan.
• Nepotisme.
• Pemborosan anggaran.
• Ketidakadilan hukum.
• Pengabaian penderitaan rakyat.
• Hilangnya kritik yang jujur.
Ketika semua itu dibiarkan, maka bangsa memasuki fase kemunduran moral sebelum mengalami kemunduran ekonomi dan politik.

Jihad Menyampaikan Kebenaran
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat yang benar di hadapan penguasa yang zalim."
Hadis ini menunjukkan bahwa keberanian moral memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam.
Jihad dalam konteks ini bukanlah kekerasan.
Jihad yang dimaksud adalah keberanian menyampaikan kebenaran dengan ilmu, adab, dan tanggung jawab.
Seorang Muslim tidak boleh menjadi penjilat kekuasaan demi keuntungan pribadi.
Tetapi seorang Muslim juga tidak boleh menjadi penyebar fitnah dan kebencian.
Islam mengajarkan jalan tengah:

Berani mengkritik, tetapi tetap adil.
Tegas menolak kezaliman, tetapi tetap menjaga akhlak.
Umar bin Khattab dan Budaya Kritik
Salah satu contoh paling indah dalam sejarah Islam adalah kepemimpinan Umar bin Khattab.
Beliau pernah berkata di hadapan rakyat:
"Jika aku menyimpang dari jalan yang benar, apa yang akan kalian lakukan?"
Seorang sahabat menjawab:
"Kami akan meluruskanmu dengan pedang kami."
Alih-alih marah, Umar justru bersyukur karena masih memiliki rakyat yang berani mengoreksi pemimpinnya.
Dari sini kita belajar bahwa pemimpin yang kuat bukanlah pemimpin yang anti kritik.
Pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang tidak takut mendengar kebenaran.

Perspektif Tasawuf: Mengapa Penguasa dan Rakyat Harus Sama-Sama Bermuhasabah?
Para ulama tasawuf mengajarkan bahwa reformasi sosial harus dimulai dari reformasi jiwa.
Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa kerusakan masyarakat dan kerusakan penguasa sering saling mempengaruhi.
Korupsi pejabat adalah masalah besar.
Namun budaya suap, ketidakjujuran, manipulasi, kemalasan, dan kerakusan yang hidup di masyarakat juga merupakan bagian dari persoalan.
Karena itu Islam mengajarkan dua jenis muhasabah:

Muhasabah Penguasa
Pemimpin harus bertanya:
• Apakah kebijakan saya adil?
• Apakah saya melayani rakyat atau kelompok tertentu?
• Apakah anggaran negara digunakan secara amanah?
• Apakah rakyat semakin sejahtera?
• Apakah saya siap mempertanggungjawabkan jabatan ini di hadapan Allah?
Muhasabah Rakyat
Rakyat juga harus bertanya:
• Apakah saya jujur?
• Apakah saya ikut melawan korupsi?
• Apakah saya peduli kepada sesama?
• Apakah kritik saya didasarkan pada ilmu atau sekadar emosi?
• Apakah saya menginginkan perbaikan atau hanya kemenangan kelompok?
Muhasabah yang hanya ditujukan kepada penguasa tanpa memperbaiki masyarakat akan pincang.
Muhasabah yang hanya ditujukan kepada rakyat tanpa mengoreksi penguasa juga tidak adil.

Negeri yang Diberkahi
Allah berfirman:
"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi."
(QS. Al-A'raf: 96)
Keberkahan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, teknologi, atau kekuatan ekonomi.
Keberkahan lahir ketika keadilan ditegakkan.
Ketika pemimpin amanah.
Ketika rakyat jujur.
Ketika kritik didengar.
Ketika hukum berlaku bagi semua.
Ketika korupsi diperangi.
Ketika kekuasaan dipandang sebagai amanah, bukan kesempatan memperkaya diri.

Penutup: Dari Demonstrasi Menuju Muhasabah Nasional

Peristiwa kritik mahasiswa, suara rakyat, dan berbagai aspirasi publik hendaknya menjadi momentum muhasabah nasional.
Bukan sekadar ajang saling menyalahkan antara rakyat dan penguasa.
Bukan pula ruang untuk mempertajam permusuhan politik.
Yang dibutuhkan bangsa adalah keberanian moral untuk berkata benar, kerendahan hati untuk menerima kritik, dan kebijaksanaan untuk memperbaiki keadaan.
Apabila penguasa mau mendengar dengan hati yang lapang, rakyat menyampaikan kritik dengan ilmu dan adab, para ulama menuntun dengan hikmah, serta para intelektual memberikan solusi yang konstruktif, maka lahirlah peradaban yang sehat dan kuat.
Sebab dalam pandangan Islam, kejayaan suatu bangsa tidak dimulai dari megahnya gedung-gedung kekuasaan, melainkan dari tegaknya amanah, keadilan, dan ketakwaan di dalam hati manusia.
Ketika rakyat berani bermuhasabah, dan penguasa bersedia bermuhasabah, maka keduanya sedang berjalan menuju ridha Allah. Dan ketika keadilan ditegakkan, itulah awal kebangkitan sebuah negeri yang diberkahi.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Perjalanan pulang ke Juanda Surabaya dari Jakarta ke Bandara Soeta Menyaksikan Demo Mahasiswa, 12 Juni 2026. Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)

Opini

×
Berita Terbaru Update