Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Buta dan Tulinya Penguasa Zalim atas Teriakan Rakyat: Pertanda Matinya Hati dalam Tinjauan Dakwah Ideologis dan Sufistik

Minggu, 21 Juni 2026 | 09:44 WIB Last Updated 2026-06-21T02:44:33Z
TintaSiyasi.id -- Dalam sejarah umat manusia, salah satu tanda kemunduran sebuah bangsa bukanlah sekadar krisis ekonomi, lemahnya mata uang, atau tingginya angka kemiskinan. Yang lebih berbahaya adalah ketika para pemegang kekuasaan kehilangan kepekaan hati terhadap penderitaan rakyatnya.
Ketika rakyat menjerit karena kesulitan hidup, harga kebutuhan pokok melambung, lapangan pekerjaan menyempit, ketidakadilan merajalela, dan korupsi menggerogoti sendi-sendi kehidupan bangsa, namun penguasa tetap merasa dirinya baik-baik saja, maka sesungguhnya yang sedang mengalami krisis bukan hanya sistem pemerintahan, melainkan juga hati nurani.

Al-Qur'an menggambarkan kondisi seperti ini dengan sangat jelas:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ 
“ Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A'raf: 179)
Ayat ini tidak berbicara tentang kebutaan fisik atau ketulian biologis. Yang dimaksud adalah kebutaan hati dan ketulian ruhani.

Ketika Kekuasaan Menjadi Hijab Hati
Dalam perspektif dakwah ideologis Islam, kekuasaan adalah amanah, bukan kemuliaan mutlak.
Kekuasaan hanyalah alat untuk menegakkan keadilan, menjaga kemaslahatan, melindungi kaum lemah, dan mengantarkan manusia kepada kehidupan yang lebih bermartabat.
Namun ketika kekuasaan berubah menjadi tujuan, lahirlah kesombongan politik.
Ketika jabatan dianggap hak istimewa, lahirlah kezaliman struktural.
Ketika kritik dianggap ancaman, lahirlah otoritarianisme.
Dan ketika jeritan rakyat dianggap gangguan, lahirlah kebutaan moral.
Para ulama menjelaskan bahwa Fir'aun bukan sekadar nama seorang raja Mesir. Fir'aun adalah simbol kesombongan kekuasaan yang merasa dirinya selalu benar.
Fir'aun menolak mendengar suara rakyat karena ia hanya mendengar suara dirinya sendiri.
Fir'aun menolak menerima kebenaran karena ia telah mabuk oleh kekuasaan.
Fir'aun menutup mata terhadap penderitaan manusia karena hatinya telah dikuasai hawa nafsu.
Inilah penyakit yang dapat menimpa siapa saja yang memegang kekuasaan apabila tidak disertai iman, ilmu, dan rasa takut kepada Allah.

Dalam Pandangan Tasawuf: Awal Kezaliman adalah Matinya Hati
Para sufi mengajarkan bahwa sumber segala kerusakan sosial bermula dari kerusakan hati.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati manusia ibarat cermin. Ketika cermin itu dipenuhi karat dosa, ambisi, keserakahan, dan cinta dunia, maka ia tidak lagi mampu memantulkan cahaya kebenaran.
Orang yang hatinya mati akan kehilangan empati.
Ia melihat kemiskinan tetapi tidak tergerak.
Ia mendengar keluhan rakyat tetapi tidak peduli.
Ia menyaksikan ketidakadilan tetapi diam.
Ia bahkan mampu menikmati kemewahan di tengah penderitaan masyarakat.
Inilah yang disebut para ulama sebagai qaswatul qalb (kerasnya hati).
Allah berfirman:
"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi."
(QS. Al-Baqarah: 74)
Batu tidak bisa merasakan sakit.
Batu tidak bisa menangis.
Batu tidak bisa berempati.
Demikian pula hati yang telah mati.
Ia kehilangan sensitivitas terhadap kebenaran.

Muhasabah Kekuasaan
Dalam tradisi Islam, seorang pemimpin sejati tidak takut dikritik.
Umar bin Khattab pernah berkata:
"Tidak ada kebaikan pada kalian jika kalian tidak menasihati kami, dan tidak ada kebaikan pada kami jika kami tidak mau mendengarnya."
Kalimat ini menunjukkan bahwa kritik rakyat bukan ancaman negara.
Justru kritik yang jujur adalah mekanisme muhasabah sosial.
Ketika rakyat turun menyampaikan aspirasi secara damai, sesungguhnya mereka sedang menjalankan salah satu bentuk amar ma'ruf nahi munkar.
Masalah muncul ketika penguasa lebih sibuk menjaga citra daripada memperbaiki keadaan.
Lebih sibuk membungkam kritik daripada mendengar nasihat.
Lebih sibuk mencari pembenaran daripada mencari solusi.
Pada titik itulah kekuasaan berubah menjadi berhala modern yang disembah oleh pemiliknya sendiri.

Teriakan Rakyat adalah Ujian dari Allah
Dalam perspektif sufistik, suara rakyat bukan sekadar fenomena politik.
Ia adalah panggilan Allah kepada para pemimpin.
Keluhan rakyat adalah cermin yang Allah hadirkan untuk menguji amanah kekuasaan.
Setiap air mata kaum miskin.
Setiap keluhan para pekerja.
Setiap doa orang yang dizalimi.
Setiap jeritan mereka yang tertindas.
Semuanya tercatat di sisi Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Takutlah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dan Allah."
Kekuasaan mungkin dapat membungkam media.
Kekuasaan mungkin dapat mengendalikan opini.
Kekuasaan mungkin dapat memperpanjang usia jabatan.
Namun tidak ada kekuasaan yang mampu menghalangi doa orang yang terzalimi untuk sampai kepada Allah.

Bahaya Ketika Penguasa Tidak Lagi Mau Mendengar
Sejarah menunjukkan bahwa kehancuran banyak rezim bukan karena kekurangan senjata atau lemahnya ekonomi.
Mereka runtuh karena kehilangan legitimasi moral.
Ketika hati para pemimpin tertutup, maka keputusan-keputusan yang lahir pun semakin jauh dari keadilan.
Ketika telinga tidak lagi mau mendengar rakyat, maka yang terdengar hanyalah pujian para penjilat.
Ketika mata tidak lagi melihat penderitaan masyarakat, maka yang terlihat hanyalah kemewahan istana dan lingkaran kekuasaan.
Inilah awal keruntuhan sebuah peradaban.
Bukan karena musuh dari luar.
Melainkan karena pembusukan dari dalam.

Dakwah untuk Penguasa dan Rakyat
Dakwah Islam tidak mengajarkan kebencian.
Dakwah mengajarkan perbaikan.
Karena itu nasihat bagi penguasa adalah agar kembali kepada amanah, keadilan, dan ketakwaan.
Mendengar suara rakyat bukanlah kelemahan.
Justru itulah tanda kebesaran jiwa.
Mengakui kesalahan bukanlah kehinaan.
Justru itulah kemuliaan seorang pemimpin.
Dan bagi rakyat, dakwah mengajarkan kesabaran yang aktif: terus menyuarakan kebenaran dengan hikmah, menjaga persatuan, menolak kezaliman, serta memperbanyak doa dan ikhtiar perbaikan.

Penutup: Hati yang Hidup Selalu Mendengar
Hati yang hidup akan menangis ketika melihat rakyat menderita.
Hati yang hidup akan gelisah ketika menyaksikan ketidakadilan.
Hati yang hidup akan merasa takut apabila amanah kekuasaan disalahgunakan.
Sebaliknya, hati yang mati akan tetap tenang di tengah tangisan rakyat.
Maka persoalan terbesar bukanlah butanya mata dan tulinya telinga, melainkan matinya hati.
Karena ketika hati telah mati, kebenaran terdengar seperti kebisingan, nasihat dianggap ancaman, dan jeritan rakyat dipandang sebagai gangguan.
Semoga Allah menghidupkan hati para pemimpin dengan cahaya iman, memenuhi mereka dengan rasa takut kepada-Nya, menjadikan mereka pelayan bagi rakyat, bukan penguasa yang menindas rakyat. Dan semoga Allah mengaruniakan kepada umat ini pemimpin-pemimpin yang adil, amanah, mendengar suara rakyat, serta menjadikan kekuasaan sebagai jalan pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan manusia.
"Jika hati masih hidup, ia akan mendengar jeritan rakyat sebagai amanah. Namun jika hati telah mati, bahkan tangisan sebuah bangsa pun tidak lagi mampu menggugahnya."

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis , Dosen, dan Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)

Opini

×
Berita Terbaru Update