Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ketika Lampu-Lampu Padam: Krisis Listrik, Amanah Kekuasaan, dan Cahaya Peradaban dalam Perspektif Islam

Minggu, 21 Juni 2026 | 09:44 WIB Last Updated 2026-06-21T02:44:55Z
TintaSiyasi.id -- Pengantar: Padamnya Lampu dan Padamnya Kesadaran

Beberapa waktu terakhir masyarakat mulai mendengar kabar tentang gangguan pasokan listrik, berkurangnya cadangan daya, hingga kemungkinan pemadaman bergilir di sejumlah wilayah Pulau Jawa. Sebagian orang menganggapnya sebagai persoalan teknis biasa. Sebagian lagi melihatnya sebagai akibat dari meningkatnya kebutuhan energi. Namun seorang mukmin yang memiliki pandangan ideologis dan kedalaman spiritual tidak berhenti pada permukaan peristiwa.

Ia bertanya lebih jauh:

Mengapa negeri yang kaya sumber daya alam justru berkali-kali menghadapi ancaman krisis energi?

Mengapa negeri yang memiliki cadangan batu bara besar, gas alam melimpah, panas bumi terbesar kedua di dunia, serta sinar matahari sepanjang tahun, masih mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan energi rakyatnya?

Pertanyaan ini membawa kita pada sebuah kesimpulan penting: persoalan energi bukan sekadar persoalan teknis, melainkan persoalan paradigma, amanah, dan arah peradaban.

Dalam bahasa dakwah ideologis, krisis energi adalah gejala. Penyakit sesungguhnya berada pada cara berpikir dan cara mengelola kehidupan.

Energi dalam Pandangan Islam: Hak Publik, Bukan Komoditas Elit

Islam memandang bahwa kebutuhan dasar masyarakat tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme keuntungan ekonomi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«"Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api."»

Para ulama menjelaskan bahwa istilah "api" mencakup seluruh sumber energi yang menjadi kebutuhan umum masyarakat.

Dalam konteks modern, makna "api" meliputi:

- Listrik.
- Minyak bumi.
- Gas alam.
- Batu bara.
- Panas bumi.
- Energi air.
- Sumber energi strategis lainnya.

Hadis ini mengandung prinsip besar bahwa sumber energi yang menjadi kebutuhan publik tidak boleh menjadi alat eksploitasi segelintir kelompok. Negara berkewajiban mengelolanya demi kemaslahatan seluruh rakyat.

Karena itu, ketika rakyat kesulitan memperoleh energi yang terjangkau di tengah melimpahnya kekayaan alam, Islam mengajak kita melakukan muhasabah terhadap sistem pengelolaannya.

Krisis Energi dan Krisis Amanah

Al-Qur'an berulang kali menegaskan bahwa kehancuran suatu negeri sering kali bukan karena kurangnya sumber daya, melainkan karena rusaknya amanah manusia.

Allah berfirman:

«"Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi." (QS. Al-A'raf: 96)»

Ayat ini menunjukkan hubungan erat antara keberkahan sumber daya dan kualitas moral pengelolanya.

Banyak bangsa miskin menjadi makmur karena amanah.

Sebaliknya, banyak bangsa kaya justru tertinggal karena korupsi, salah urus, dan hilangnya orientasi pelayanan terhadap rakyat.

Dalam perspektif sufistik, krisis energi bukan hanya krisis pembangkit listrik. Ia adalah krisis hati.

Ketika kerakusan mengalahkan amanah, ketika keuntungan pribadi mengalahkan kemaslahatan rakyat, ketika jabatan dipandang sebagai kesempatan memperkaya diri, maka keberkahan perlahan dicabut dari kehidupan.

Lampu mungkin masih menyala, tetapi cahaya keberkahan telah redup.

Mengapa Negeri Kaya Bisa Kekurangan Energi?

Pertanyaan ini penting direnungkan.

Allah telah menghamparkan kekayaan alam yang luar biasa di negeri ini:

- Gunung-gunung yang menyimpan energi panas bumi.
- Lautan yang menyimpan sumber daya energi masa depan.
- Sungai-sungai yang mampu menggerakkan turbin.
- Cadangan gas yang besar.
- Batu bara yang melimpah.

Namun kekayaan alam tidak otomatis menjadi kesejahteraan.

Sejarah membuktikan bahwa banyak bangsa hancur justru ketika mereka gagal mengelola nikmat yang diberikan Allah.

Firman Allah:

«"Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang segala nikmat." (QS. At-Takatsur: 8)»

Energi adalah nikmat.

Sumber daya alam adalah nikmat.

Kekuasaan adalah nikmat.

Teknologi adalah nikmat.

Semua nikmat itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Pandangan Sufistik: Cahaya Listrik dan Cahaya Hati

Krisis listrik juga mengandung pelajaran spiritual yang sangat dalam.

Saat listrik padam, manusia segera merasakan gelap.

Aktivitas terganggu.

Komunikasi terhambat.

Produktivitas menurun.

Manusia baru menyadari pentingnya cahaya setelah cahaya itu hilang.

Demikian pula dengan cahaya iman.

Banyak manusia baru menyadari pentingnya petunjuk Allah setelah hidupnya dipenuhi kegelisahan, keserakahan, dan kekosongan makna.

Para ulama tasawuf mengajarkan bahwa hati memiliki lampu.

Lampu itu adalah iman.

Bahan bakarnya adalah dzikir.

Cahayanya adalah ma'rifat kepada Allah.

Jika lampu hati padam, manusia tetap bisa berjalan, bekerja, dan tertawa, tetapi kehilangan arah kehidupan.

Karena itu krisis energi yang sesungguhnya bukan hanya kekurangan listrik, melainkan ketika manusia kehilangan hubungan dengan Sang Pemberi Energi Kehidupan.

Solusi Praktis: Profesionalisme dan Perencanaan

Islam bukan agama yang hanya mengajarkan doa tanpa ikhtiar.

Negara wajib:

- Membangun pembangkit yang memadai.
- Mengembangkan energi terbarukan.
- Memperkuat jaringan distribusi.
- Menekan kebocoran energi.
- Menyiapkan cadangan strategis nasional.
- Mengembangkan riset dan teknologi energi.

Semua ini termasuk bagian dari amanah kepemimpinan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."»

Maka pengelolaan energi adalah amanah besar yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Solusi Sistemik: Mengembalikan Orientasi Pelayanan Umat

Dalam perspektif dakwah ideologis Islam, negara harus memandang dirinya sebagai pelayan rakyat, bukan pedagang yang memperdagangkan kebutuhan dasar rakyat.

Paradigma inilah yang perlu dihidupkan kembali.

Energi harus dipandang sebagai instrumen kemakmuran publik.

Kekayaan alam harus menjadi sarana membangun:

- Pendidikan yang berkualitas.
- Pelayanan kesehatan yang memadai.
- Infrastruktur yang kuat.
- Lapangan kerja yang luas.
- Kehidupan masyarakat yang sejahtera.

Ketika orientasi berubah dari pelayanan menjadi keuntungan semata, maka rakyatlah yang pertama kali merasakan dampaknya.

Renungan untuk Para Pemimpin dan Rakyat

Wahai para pemimpin negeri,

ingatlah bahwa kekuasaan bukanlah kemuliaan yang abadi.

Jabatan adalah amanah yang suatu hari akan berakhir.

Yang tersisa hanyalah catatan amal dan jejak kebijakan.

Wahai rakyat,

jangan hanya mengeluhkan keadaan.

Bangunlah kesadaran, ilmu, akhlak, dan kepedulian terhadap masa depan bangsa.

Sebab peradaban besar lahir ketika pemimpin yang amanah bertemu dengan rakyat yang sadar.

Penutup: Menyalakan Kembali Cahaya Peradaban

Krisis listrik sesungguhnya mengajarkan satu pelajaran penting: peradaban tidak dibangun hanya dengan kabel, gardu, dan pembangkit listrik.

Peradaban dibangun dengan amanah.

Peradaban dibangun dengan ilmu.

Peradaban dibangun dengan keadilan.

Peradaban dibangun dengan hati yang terhubung kepada Allah.

Jika lampu-lampu kota padam, para teknisi dapat menyalakannya kembali.

Namun jika cahaya amanah padam, jika nur keadilan padam, jika kesadaran tentang tanggung jawab di hadapan Allah padam, maka seluruh bangunan peradaban akan berada dalam kegelapan.

Karena itu, solusi sejati atas setiap krisis bukan hanya memperbaiki mesin dan jaringan, tetapi juga memperbaiki manusia yang mengelolanya.

Tatkala amanah kembali ditegakkan, ilmu kembali dimuliakan, dan pengelolaan sumber daya dilakukan demi kemaslahatan umat, maka insya Allah bukan hanya listrik yang menyala, tetapi juga cahaya keberkahan yang menerangi negeri.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)

Opini

×
Berita Terbaru Update