TintaSiyasi.id -- “Islam yang menganutnya akan dibiarkan. Islam yang berekonomi akan membesar-besarkan. Islam yang berpolitik itu akan dicabut seakar-akarnya.” — Mohammad Natsir
Kalimat singkat yang disampaikan Mohammad Natsir ini bukan sekadar ungkapan politik, melainkan sebuah pembacaan tajam terhadap realitas sejarah umat Islam. Kalimat tersebut mengandung pesan dakwah, kesadaran ideologis, sekaligus peringatan spiritual agar umat Islam memahami agamanya secara utuh, bukan secara parsial.
Islam Bukan Sekadar Ritual
Banyak pihak yang tidak mempermasalahkan ketika Islam hanya dibatasi di masjid, mushala, atau ruang ibadah pribadi. Shalat, puasa, zikir, dan doa dianggap sebagai urusan individu dengan Tuhannya.
Padahal Islam yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW bukanlah agama yang hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia (hablum minannas).
Islam hadir untuk:
Menata akhlak individu.
Mengatur keluarga.
Mengarahkan kehidupan sosial.
Menegakkan keadilan ekonomi.
Membimbing kepemimpinan politik.
Menjaga martabat kemanusiaan.
Oleh karena itu, ketika Islam hanya dipahami sebagai ritual, maka hakikat Islam menjadi tereduksi.
Allah berfirman: “Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah).” (QS. Al-Baqarah : 208)
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam adalah sistem kehidupan yang menyeluruh.
Ketika Islam Memasuki Wilayah Ekonomi
Natsir berkata:
“Islam berekonomi akan meluas.”
Mengapa?
Karena ekonomi adalah sumber kekuatan.
Orang yang menguasai ekonomi akan memiliki pengaruh sosial dan politik yang besar.
Sejarah menunjukkan bahwa ketika umat Islam mulai membangun:
koperasi syariah,
Lembaga zakat,
wakaf produktif,
perdagangan halal,
usaha,
maka berbagai bentuk pengawasan dan pengawasan sering muncul.
Padahal Islam mengajarkan ekonomi yang berkeadilan.
Islam melarang:
riba,
penipuan,
monopoli,
.
Sebaliknya Islam mendorong:
kejujuran,
Produktivitas,
distribusi,
keberpihakan kepada kaum lemah.
Dalam perspektif sufistik, ekonomi bukan sekedar mencari keuntungan.
Ekonomi adalah jalan ibadah.
Seorang pedagang yang jujur lebih dekat kepada Allah daripada orang yang banyak berzikir tetapi tertipu dalam bertransaksi.
Ketika Islam Berbicara tentang Politik
Bagian paling tajam dari pernyataan Natsir adalah:
“Islam yang berpolitik itu akan dicabut seakar-akarnya.”
Politik sering dipahami sebagai perebutan kekuasaan.
Padahal dalam Islam, politik (siyasah) pada hakikatnya adalah mengurus urusan umat.
Nabi Muhammad SAW bukan hanya seorang nabi, tetapi juga pemimpin masyarakat.
Para Khulafaur Rasyidin bukan hanya ahli ibadah, tetapi juga negarawan.
Islam memandang kekuasaan sebagai amanah.
Karena itu Islam mengajarkan:
keadilan,
musyawarah,
perlindungan rakyat,
pemberantasan kezaliman,
keberpihakan kepada yang lemah.
Ketika nilai-nilai Islam mulai mempengaruhi arah kebijakan publik, sering muncul kekhawatiran dari pihak-pihak yang menikmati ketidakadilan.
Karena itulah perjuangan politik dalam Islam sering mendapatkan tantangan yang lebih besar dibandingkan ritual perjuangan.
Dimensi Sufistik: Musuh Terbesar Ada di Dalam Diri
Namun dakwah tidak boleh berhenti pada kritik eksternal.
Tasawuf mengajarkan bahwa musuh terbesar bukan hanya sistem yang zalim, tetapi juga nafsu dalam diri manusia.
Apa maksudnya berbicara tentang keadilan politik jika hati dipenuhi kesombongan?
Apa maksudnya pertemuan ekonomi syariah jika masih berdampak terhadap dunia?
Apa yang merugikan penguasaan jika diri sendiri haus pujian dan kedudukan?
Para ulama sufi selalu mengingatkan:
> "Perbaikan masyarakat harus dimulai dari perbaikan jiwa."
Karena itu perjuangan ideologis harus berjalan bersama perjuangan spiritual.
Politik tanpa tasawuf melahirkan ambisi.
Tasawuf tanpa kepedulian sosial melahirkan sikap pasif.
Islam mengajarkan keseimbangan antara keduanya.
Dakwah Ideologis yang Mencerahkan
Ideologi dakwah bukan berarti kebencian atau permusuhan.
Ideologi dakwah adalah upaya menanamkan kesadaran bahwa Islam memiliki pandangan hidup yang lengkap.
Umat harus memahami:
siapa dirinya,
apa tujuan hidup,
ke mana arah peradabannya,
Membangun masyarakat yang diridhai Allah.
Dakwah semacam ini tidak hanya mengajak orang rajin beribadah, tetapi juga mengajak:
berpikir kritis,
peduli terhadap nasib umat,
membangun ekonomi yang kuat,
memperjuangkan keadilan sosial,
menjaga moralitas bangsa.
Warisan Besar Mohammad Natsir
Mohammad Natsir mengajarkan bahwa Islam tidak boleh dipisahkan dari kehidupan nyata.
Beliau menunjukkan bahwa seorang Muslim dapat menjadi:
ahli ibadah,
intelektual,
negarawan,
Pemburu umat,
dalam waktu yang bersamaan.
Beliau mengingatkan bahwa kekuatan umat tidak lahir dari kemarahan, melainkan dari ilmu, akhlak, persatuan, dan keteguhan iman.
Penutup Renungan
Jika Islam hanya tinggal di sajadah, umat akan kehilangan pengaruhnya.
Jika Islam hadir dalam perekonomian, umat akan menjadi mandiri.
Jika Islam hadir dalam politik yang bermoral, keadilan akan lebih mudah ditegakkan.
Namun semua itu harus diawali dari revolusi hati.
Karena kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil mengubah dunia, melainkan ketika Allah berhasil mengubah hati kita.
Maka marilah kita menjadi muslim yang utuh: kuat ibadahnya, mandiri ekonominya, cerdas pemikirannya, bersih hatinya, dan peduli terhadap nasib umat.
Sebab Islam yang kaffah bukan hanya mengajarkan cara menyembah Allah, tetapi juga mengajarkan cara membangun peradaban yang menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)