Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Hakikat Hijrah dalam Konteks Kekinian

Minggu, 21 Juni 2026 | 09:46 WIB Last Updated 2026-06-21T02:46:36Z
TintaSiyasi.id -- Dari Perpindahan Fisik Menuju Transformasi Diri dan Peradaban

Hijrah adalah salah satu konsep agung dalam Islam yang sering dipahami secara sempit sebagai perpindahan tempat dari satu wilayah ke wilayah lain. Padahal, hakikat hijrah jauh lebih luas dan mendalam. Hijrah adalah perjalanan jiwa menuju Allah, perpindahan hati dari kegelapan menuju cahaya, dan transformasi kehidupan dari kemaksiatan menuju ketaatan.

Ketika Rasulullah ﷺ berhijrah dari Makkah ke Madinah, yang beliau bangun bukan sekadar kota baru, melainkan peradaban baru yang berlandaskan akidah, syariah, dan akhlak Islam. Oleh karena itu, hijrah dalam konteks kekinian bukan hanya soal perubahan penampilan atau simbol-simbol keagamaan, tetapi perubahan mendasar dalam cara berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan.

Hijrah Adalah Perintah Allah

Allah SWT berfirman: "Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan sungguh pahala di akhirat lebih besar." (QS. An-Nahl: 41)

Ayat ini menunjukkan bahwa hijrah adalah jalan menuju keberkahan dunia dan akhirat. Namun keberhasilan hijrah tidak diukur oleh seberapa jauh seseorang berpindah tempat, melainkan seberapa jauh ia meninggalkan segala sesuatu yang dimurkai Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda: "Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah definisi hijrah yang paling relevan sepanjang zaman.

Krisis Manusia Modern: Jauh dari Allah

Di era digital saat ini, manusia hidup di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa. Namun ironisnya, banyak yang mengalami kekosongan jiwa.

Mereka memiliki rumah mewah tetapi kehilangan ketenangan. Mereka memiliki ribuan pengikut media sosial tetapi merasa kesepian. Mereka memiliki jabatan tinggi tetapi kehilangan makna hidup.

Kemajuan material ternyata tidak otomatis menghadirkan kebahagiaan.

Akar persoalannya adalah manusia telah berhijrah jauh dari fitrahnya. Hati yang seharusnya dekat kepada Allah justru tenggelam dalam materialisme, hedonisme, dan individualisme.

Karena itu hijrah masa kini harus dimulai dari hijrah spiritual: mengembalikan orientasi hidup hanya kepada Allah SWT.

Hijrah Hati: Pondasi Segala Perubahan

Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa perjalanan menuju Allah dimulai dari hijrah hati.

Hijrah hati berarti:

Meninggalkan kesombongan menuju tawadhu.

Meninggalkan riya menuju ikhlas.

Meninggalkan hasad menuju syukur.

Meninggalkan cinta dunia berlebihan menuju cinta akhirat.

Meninggalkan kelalaian menuju dzikrullah.

Banyak orang mengubah pakaian tetapi belum mengubah hatinya.

Padahal Allah tidak melihat rupa dan penampilan semata, tetapi melihat hati dan amal perbuatan.

Hijrah sejati dimulai ketika hati merasa rindu kepada Allah lebih daripada rindu kepada dunia.

Hijrah Intelektual: Dari Kebodohan Menuju Ilmu

Salah satu bentuk hijrah yang sangat dibutuhkan umat saat ini adalah hijrah intelektual.

Banyak umat Islam terjebak dalam budaya ikut-ikutan tanpa ilmu. Mereka mudah terpengaruh oleh opini media, propaganda, dan arus pemikiran sekuler yang menjauhkan manusia dari wahyu.

Hijrah intelektual berarti:

Gemar membaca Al-Qur'an dan tafsirnya.

Mengkaji sirah Rasulullah ﷺ.

Mempelajari ilmu syariah secara mendalam.

Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat.

Menjadikan Islam sebagai landasan berpikir.

Peradaban Islam dahulu menjadi mercusuar dunia karena umatnya melakukan hijrah dari kebodohan menuju ilmu.

Hijrah Sosial: Dari Individualisme Menuju Kepedulian

Masyarakat modern sering kali mengagungkan kesuksesan pribadi namun melupakan tanggung jawab sosial.

Hijrah sosial berarti:

Peduli kepada fakir miskin.

Membantu yatim dan dhuafa.

Menegakkan keadilan.

Menguatkan ukhuwah Islamiyah.

Menghidupkan semangat gotong royong.

Seorang Muslim yang berhijrah tidak hanya memperbaiki dirinya sendiri, tetapi juga berusaha memperbaiki lingkungannya.

Hijrah Ekonomi: Dari Ketergantungan Menuju Kemandirian

Kemandirian ekonomi merupakan bagian penting dari hijrah peradaban.

Umat Islam harus berhijrah dari:

Riba menuju ekonomi halal.

Konsumtif menuju produktif.

Ketergantungan menuju kemandirian.

Kemalasan menuju etos kerja yang tinggi.

Islam mengajarkan bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Karena itu hijrah ekonomi bukan hanya mencari keuntungan, tetapi membangun kesejahteraan yang diridhai Allah.

Hijrah Peradaban: Dari Sistem Rusak Menuju Kehidupan Islami

Hijrah Rasulullah ﷺ melahirkan masyarakat Madinah yang berkeadilan, bermartabat, dan berketuhanan.

Dalam konteks kekinian, umat Islam perlu melakukan hijrah peradaban:

Dari korupsi menuju amanah.

Dari kebohongan menuju kejujuran.

Dari ketidakadilan menuju keadilan.

Dari budaya maksiat menuju budaya takwa.

Dari orientasi dunia semata menuju orientasi akhirat.

Perubahan besar selalu dimulai dari perubahan individu yang kemudian melahirkan perubahan masyarakat.

Buah Manis Hijrah

Orang yang benar-benar berhijrah akan merasakan:

1. Ketenangan hati.

2. Kedekatan dengan Allah.

3. Keberkahan hidup.

4. Kemudahan dalam menghadapi ujian.

5. Harapan besar akan surga Allah.

Hijrah memang tidak selalu mudah. Kadang seseorang harus meninggalkan kebiasaan lama, lingkungan yang buruk, bahkan kenyamanan yang selama ini dicintainya.

Namun setiap pengorbanan di jalan Allah pasti diganti dengan sesuatu yang lebih baik.

Renungan Sufistik

Wahai saudaraku...

Mungkin hari ini kita belum mampu berhijrah ke negeri yang jauh. Namun kita masih mampu berhijrah dari dosa menuju taubat.

Mungkin kita belum mampu mengubah dunia. Namun kita mampu mengubah hati kita sendiri.

Mungkin kita belum mampu menjadi ulama besar. Namun kita mampu menjadi hamba yang lebih dekat kepada Allah daripada kemarin.

Hakikat hijrah bukanlah berpindahnya kaki dari satu tempat ke tempat lain, melainkan berpindahnya hati dari selain Allah menuju Allah.

Ketika hati telah sampai kepada Allah, maka seluruh kehidupan akan menemukan arah dan maknanya.

Maka mulailah hijrah hari ini.

Hijrah dari lalai menuju sadar. Hijrah dari gelap menuju terang. Hijrah dari dunia yang fana menuju ridha Allah Yang Maha Kekal.

Karena sesungguhnya perjalanan terindah dalam hidup bukanlah perjalanan menuju suatu tempat, melainkan perjalanan kembali kepada Allah SWT.

Dr. Nasrul Syarif M.Si. (Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)

Opini

×
Berita Terbaru Update