TintaSiyasi.id -- Haji merupakan salah satu rukun Islam yang ke-lima yang wajib dilaksanakan bagi setiap Muslim yang mampu, baik mampu dari segi fisik maupun finansialnya. Adapun puncak ibadah haji ini dilakukan di Mekkah Al-Mukarramah setiap tanggal 9 sampai tanggal 12 Dzulhijjah disetiap tahunnya.
Menurut data Kemenag 2025 antrian haji yg reguler di Indonesia rata-rata mencapai 20 sampai 40 tahun tergantung daerah masing-masing. Dan adapun biaya pelaksanaan ibadah haji (BPIH) tahun 2025 mencapai Rp.55 juta atau setara dengan USD 2000. (Kemenag.com, 2025)
Adapun bagian inti dari ritual haji yaitu ihram, wukuf di Arafah, bermalam di Mina, melakukan tawaf, Mabit di Muzdalifah, melempar jumrah dan sa'i. Dari rangkaian ibadah haji ini, tampak semua jamaah haji menggunakan pakaian yang sama yaitu memakai pakaian putih polos tanpa melihat status, jabatan, atau harta sedikitpun.
Maka dilihat dari fakta tersebut, sebenarnya haji merupakan proses pemerataan yang sekilas tampak tidak adil. Karena pakaian yang digunakan saat ihram baik itu bagi petani, artis maupun direktur sekalipun semuanya menggunakan pakaian berwarna putih. Sebab dihadapan Allah tidak ada perbedaan antara si kaya maupun si miskin, yang punya jabatan tinggi ataupun yang biasa saja semuanya sama dihadapaan-Nya.
Adapun antrian haji 20-40 Tahun merupakan ujian sabar yang paling panjang. Karena, disaat seseorang mendaftar di usia 25 tahun baru bisa saja berangkat haji diusia 60 tahun. Dimasa menunggu itulah seseorang belajar menabung, senantiasa menjaga kesehatan dan memperbaiki akhlaknya. Jadi sebenarnya haji itu dimulai bukan saat di Mekkah, tapi ketika nama kita sudah masuk daftar tunggu menjadi calon jemaah haji.
Selain itu, sebenarnya ritual haji ini juga melelahkan, panas dan berdesak-desakan. Dikarenakan waktu wukuf yg dilaksanakan selama 9 jam di Arafah itu merupakan latihan fokus dan pasrah. Sedangkan melempar jumroh mengajarkan kita untuk melawan ego kita sendiri. Oleh sebab itu, haji yang disebut mabrur adalah ketika pulang dari malaksanakan ibadah haji akan menghasilkan kepribadian Islam.
Jadi, haji sebenarnya bukanlah tujuan akhir untuk pamer sebuah gelar agar disebut Bu Hajjah atau Pak haji. Melainkan haji adalah sekolah rutin selama enam hari yang materinya itu ada sabar, tawadhu dan empati.
Karena itu, kalau ada orang yg pulang dari haji tapi kepribadiannya masih jauh dari Islam, seperti masih pelit dan sombong atau suka berbicara sembarangan. Maka, bisa dikatakan hajinya tidak mabrur. Intinya dikatakan sebagai haji yang mabrur itu diukur setelah pulang haji, bukan disaat berada didepan Ka'bah. Wallahu a'lam bishshowab.
Oleh: Santriani Br Banci, SE.
Aktivis Dakwah