Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Gaza Terus Diserang, dan Diblokade: Urgensi Tegaknya Perisai Umat Islam

Jumat, 12 Juni 2026 | 20:42 WIB Last Updated 2026-06-12T13:42:39Z

Tintasiyasi.id.com -- Tragedi kemanusiaan yang terjadi di Gaza belumlah berakhir. Gaza masih berada dalam kehancuiran akbat agresi Islaer sejak Oktober 2023. Data terbaru otoritas kesehatan Palestina yang dikutip berbagai laporan internasional, menunjukkan skala korba Israel telah menewaskan lebih dari 72.000 jiwa, melukai 172.000 lainnya, dan menghancurkan 90% infrastruktur sipil. 

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) juga mencatat Gaza sebagai wilayah paling mematikan bagi jurnalis dengan verifikasi kematian hampir 300 orang. Data ini menunjukkan bahwa telah terjadi penghancuran sistematis terhadap kehidupan manusia, khususnya umat Islam, bukan sekadar perang biasa.

Di tengah situsi tersebut, dunia kembali menyaksikan Israel kembali berulah dengan melanggar kedaulatan laut internasional. Sebagaimana diberitakan berbagai media, militer Israel telah menyita kapal-kapal pembawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza (Global Sumud Flotilla) di Laut Mediterania, dekat Pulau Kreta, Yunani.

Akibatnya, 211 aktivis ditangkap dan 31 orang lainnya mengalami luka-luka. Kementerian Luar Negeri Israel mencoba menjustifikasi penahanan tersebut dengan menuding Abukeshek sebagai anggota utama Palestinian National Conference Abroad (PCPA). 

Israel, mengutip klaim Amerika Serikat, menuding pelayaran itu beroperasi di bawah kendali Hamas. Berbagai negara di belahan Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika mengecam tindakan Israel. Di antaranya Jerman, Italia, Spanyol, Turki, Malaysia, Brasil, dan Indonesia. Mereka mengecam dan melayangkan teguran keras. 

Fenomena ini juga makin menyingkap tabir adanya kekebalan hukum bagi Israel dan ketidakberdayaan sistem hukum internasional. Pelanggaran hukum laut internasional adalah bukti nyata bahwa Israel tidak mengenal batas dalam melanggengkan blokade atas Gaza.

Krisis yang terus berlangsung di Gaza tidak lepas dari sejarah panjang konflik dan dan pelanggaran perjanjian yang berulang secara sepihak oleh Israel. Diplomasi hanya menghasilkan kecaman tanpa tindakan militer nyata. 

Kesepakatan demi kesepakatan tidak menghentikan penjajahan, jusrtu menjadi jeda bagi Israel dalam memperkuat kekuatan militernya. Serangan Israel yang tiada henti terhadap Gaza tidak bisa diselesaikan dimeja perundingan. 

Dan lebih menyedihkan lagi adalah kebungkaman militer negeri-negeri muslim di sekitar Gaza. Pengepungan dan penangkapan aktivis di depan mata dunia terjadi tanpa ada satu pun angkatan laut muslim yang bergerak memberikan perlindungan.

Dari sini jelas bahwa akar masalahnya terletak pada ketiadaan institusi pelindung umat. Ummat Islam perlu membangun kembali kesadaran pentingnya persatuan dan kesatuan untuk membebaskan Gaza. 

Oleh karena itu, diperlukan pergeseran paradigma dari sekadar menuntut keadilan pada sistem sekuler kapitalisme yang telah cacat, menuju perjuangan mewujudkan kembali tatanan Islam yang secara fitrah didesain untuk menjadi perisai bagi setiap jiwa kaum muslim dan setiap jengkal tanah mereka. Wallaahu a’lam bish shawwab.[]

Oleh: Norma Hariyanti, A. Md
(Aktivitas Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update