Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Bed Rotting dan Ilusi Self-Care di Kalangan Generasi Muda

Jumat, 12 Juni 2026 | 15:29 WIB Last Updated 2026-06-12T08:29:35Z

Tintasiyasi.id.com -- Bagi generasi muda saat ini, khususnya Gen Z dan Milenial, kasur bukan lagi sekedar tempat melepas lelah setelah aktivitas seharian. Kasur telah bertransformasi menjadi pusat semesta kehidupan mereka melalui sebuah tren yang dikenal dengan istilah bed rotting.

Bed Rotting (membusuk di atas kasur}, sebuah narasi ekstrem yang menggambarkan perilaku menghabiskan waktu seharian penuh, bahkan berhari-hari, di atas tempat tidur demi menghindari dunia luar. 

Tren bed rotting bukanlah kegiatan tidur, melainkan perilaku pasif menghabiskan waktu di atas kasur untuk makan, menonton tayangan, dan bermain media sosial tanpa henti (health.detik.com, 2026).

Fenomena ini bukan sekadar kemalasan sesekali di hari Minggu. Di media sosial seperti TikTok, bed rotting telah divalidasi secara massal sebagai bagian dari gaya hidup kelas pekerja muda dan mahasiswa dengan mengisolasi diri di atas kasur sebagai bentuk perawatan diri dan pemulihan kesehatan mental (health.com, 2026).

Mengapa generasi yang dikenal paling vokal dan dinamis ini justru memilih untuk "membusuk" di dalam kamar? Fenomena ini nyatanya tidak muncul begitu saja. Di balik selimut tebal itu, ada kelelahan mental yang mendalam (burnout). 

Di alam kapitalis ini, generasi muda dikepung oleh tuntutan akademis yang tinggi, tekanan persaingan kerja, hingga kecemasan akan masa depan disebabkan ekonomi yang tidak menentu. Ditambah lagi dengan adiksi digital akibat algoritma media sosial yang dirancang untuk menahan perhatian kita selama mungkin. 

Di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat dan biaya hidup di luar rumah yang semakin mahal, kasur menjadi satu-satunya tempat pelarian yang paling murah, aman, dan berada di bawah kendali penuh mereka.

Namun, kenyamanan yang ditawarkan oleh bed rotting sebenarnya hanyalah jebakan semu jika dilakukan terlalu lama. Alih-alih menyembuhkan stres, perilaku ini perlahan justru merusak kualitas hidup penggunanya. 

Secara fisik, terlalu lama berbaring memicu gangguan siklus tidur (insomnia), melemahnya otot-otot tubuh karena kurang bergerak, hingga risiko obesitas. Sementara dari sisi psikologis, isolasi berkepanjangan ini justru memperparah rasa cemas dan depresi. 

Otak yang terus-menerus terpapar stimulus digital tanpa adanya interaksi sosial nyata akan merasa semakin terasing. Produktivitas pun merosot tajam, meninggalkan tumpukan tugas yang pada akhirnya memicu siklus rasa bersalah yang baru dan lebih berat.

Menghadapi fenomena ini, Islam menawarkan sudut pandang yang solutif dalam menata ulang esensi dari sebuah istirahat. Islam adalah agama yang sangat menghargai kesehatan fisik dan mental, namun Islam memandang waktu dan tubuh manusia sebagai amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan. 

Di dalam perspektif Islam, bed rotting yang berlebihan cenderung mengarah pada perilaku wahn (kelemahan/kemalasan) dan menyia-nyiakan waktu (tabzir al-waqt).

Islam mengajarkan bahwa istirahat bukanlah tujuan akhir kehidupan, melainkan sebuah sarana untuk mengumpulkan kembali energi agar kita bisa kembali beribadah dan menebar manfaat. Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur'an surah Al-Insyirah ayat 7: 

"Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." Prinsip produktivitas seorang muslim ini menegaskan bahwa tidak ada ruang untuk membiarkan waktu terbuang sia-sia tanpa arah.

Untuk mengatasi kejenuhan hidup, Islam mengajak generasi muda meneladani ritme kehidupan Rasulullah SAW yang sangat seimbang. Beliau mengajarkan untuk tidur di awal malam setelah Isya dan bangun di sepertiga malam untuk bertahajud, serta melarang umatnya kembali tidur setelah Subuh, waktu di mana keberkahan sedang diturunkan. 

Jika alasan utama bed rotting adalah untuk menenangkan pikiran yang penat, Islam menawarkan alternatif yang jauh lebih efektif daripada menatap layar ponsel, yaitu melalui muhasabah (evaluasi diri) dan dzikir. Duduk diam di atas sajadah sembari mengingat Allah justru akan memberikan ketenangan jiwa yang hakiki.

Bed rotting mungkin terasa seperti pelukan hangat di tengah dingin dan kejamnya tekanan hidup modern. Namun, jika terus dibiarkan, ia ibarat penjara yang melumpuhkan potensi besar generasi muda. Kesehatan mental itu penting, dan beristirahat adalah hak tubuh yang sangat valid. 

Namun, mari kita kembalikan fungsi kasur sebagai tempat memulihkan energi untuk menghadapi hari esok, bukan tempat untuk membiarkan masa muda habis tanpa arti. Saatnya generasi muda menyadari hal ini dan bangkit karena dunia luar sedang menanti kontribusi terbaik mereka.[]

Oleh:  Sri Mellia Marinda
(Ibu Peduli Generasi)

Opini

×
Berita Terbaru Update