Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Apakah yang Menyebabkan Kamu Masuk Neraka Saqar?

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:46 WIB Last Updated 2026-06-11T14:46:54Z
TintaSiyasi.id -- Hikmah dan Penjelasan Tafsir QS. Al-Muddatstsir Ayat 39–46

Allah SWT menggambarkan sebuah dialog yang sangat menggetarkan antara penghuni surga dan penghuni neraka. Dialog ini bukan sekedar kisah tentang akhirat, namun merupakan cermin bagi manusia agar melakukan muhasabah sejak di dunia.
Firman Allah SWT
Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan ۛ فِيْ جَنّٰتٍ ۛ يَتَسَاۤءَلُوْنَۙ عَنِ الْمُجْرِمِيْنَۙ مَا سَلَكَكُمْ فِيْ سَقَرَ 

"Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dikerjakannya, kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga, saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa. 'Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (Neraka) Saqar?'"
(QS. Al-Muddatstsir: 38–42)
Kemudian penghuni neraka menjawab:
قَالُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَۙ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِيْنَۙ وَكُنَّا نَخُوْضُ مَعَ الْخَاۤىِٕضِيْنَۙ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّيْنِۙ حَتّٰىٓ اَتٰىنَا الْيَقِيْنُۗ 

“Kami dahulu tidak menyertakan orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. Bahkan kami biasa berbincang (untuk tujuan yang batil) bersama orang-orang yang tertidur. Dan kami mendustakan hari tercapai, sampai datang kepada kami kematian.”
(QS. Al-Muddatstsir: 43–47)

Makna Neraka Saqar
Menurut para mufassir seperti Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, dan Fakhruddin Ar-Razi, Saqar adalah salah satu nama neraka yang memiliki azab yang sangat dahsyat.
Pada ayat sebelumnya Allah berfirman:
“Tahukah kamu apakah Saqar itu? Ia tidak meninggalkan dan tidak membiarkan.”
(QS. Al-Muddatstsir: 27–28)
Artinya, Saqar adalah simbol dari hukuman bagi mereka yang menolak petunjuk Allah setelah kebenaran datang kepada mereka.

Empat Penyebab Utama Masuk Neraka Saqar
1. Meninggalkan Shalat
"Lam naku minal mushallin"
"Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang sedang mengerjakan shalat."
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa dosa pertama yang disebutkan adalah meninggalkan shalat. Hal ini menunjukkan bahwa shalat merupakan fondasi hubungan seorang hamba dengan Allah.
Menurut tafsir Tafsir Ibnu Katsir, mereka tidak mengatakan “kami jarang shalat”, tetapi “kami tidak termasuk orang-orang yang shalat”, menunjukkan sikap meremehkan ibadah secara keseluruhan.
Hikmah
• Shalat adalah identitas seorang mukmin.
• Shalat menjaga manusia dari kemaksiatan.
• Kehilangan shalat berarti kehilangan hubungan spiritual dengan Allah.

2. Tidak Peduli kepada Fakir Miskin
“Wa lam naku nut’imul miskin”
"Kami tidak memberi makan orang miskin."
Setelah hak Allah, Allah langsung menyebut hak manusia.
Hal ini menunjukkan bahwa kesalehan tidak cukup hanya berupa ritual, tetapi harus melahirkan kepedulian sosial.
Menurut tafsir Sayyid Qutb, Islam memadukan ibadah dan keadilan sosial. Orang yang rajin beribadah tetapi tidak peduli terhadap penderitaan sesamanya belum memahami ruh agama secara sempurna.
Hikmah
• Iman harus melahirkan kasih sayang.
• Kekayaan adalah amanah, bukan semata-mata hak pribadi.
• Kepedulian sosial merupakan bukti keimanan.

3. Tenggelam dalam Kebatilan
“Wa kunna nakhudhu ma’al khaidhin”
"Kami dahulu selalu berbincang bersama orang-orang yang berbicara batil."
Maksudnya adalah mengikuti arus kebatilan:
• Menggunjing.
• Menghina agama.
• Menebar fitnah.
• mengikuti budaya yang menjauhkan manusia dari Allah.
• Menghabiskan hidup dalam kesia-siaan.
Menurut para mufassir, mereka bukan sekedar melakukan kebatilan, namun menikmati dan membela kebatilan bersama kelompoknya.
Hikmah
Lingkungan sangat mempengaruhi keimanan seseorang.
Rasulullah SAW bersabda:
"Seseorang itu mengikuti agama teman persahabatan."
Karena itu memilih lingkungan saleh merupakan bagian penting dari menjaga iman.

4. Mendustakan Hari Pembalasan
“Wa kunna nukadzdzibu bi yaumid din”
"Dan kami mendustakan hari pelunasan."
Inilah akar dari seluruh penyimpangan.
Ketika manusia tidak percaya akan adanya hisab dan akhirat:
• Ia merasa bebas melakukan apa saja.
• Tidak takut berbuat zalim.
• Tidak merasa perlu melakukan konversi.
Menurut tafsir Al-Alusi, keyakinan terhadap akhirat adalah pengontrol moral yang paling kuat dalam kehidupan manusia.
Hikmah
Orang yang yakin di akhirat akan lebih berhati-hati dalam setiap perkataan, tindakan, dan keputusan hidupnya.

Sampai Datang Kematian
"Hatta atanal yaqin"
"Sampai datang kepada kami kematian."
Yang dimaksud dengan "al-yaqin" dalam ayat ini adalah kematian.
Mereka menjadikan tobat:
• Nanti kalau sudah tua.
• Nanti kalau sudah kaya.
• Nanti kalau sudah pensiun.
• Nanti kalau sudah punya waktu.
Tetapi kematian datang sebelum kesempatan itu digunakan.
Hikmah
Jangan mengakhiri taubat karena tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajal akan tiba.

Pelajaran Dakwah dan Sufistik
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kebinasaan manusia biasanya bermula dari empat penyakit:
1. Putus hubungan dengan Allah (meninggalkan shalat).
2. Putus hubungan dengan manusia (tidak peduli kepada fakir miskin).
3. Putus hubungan dengan kebenaran (larut dalam kebatilan).
4. Putus hubungan dengan akhirat (mendustakan hari penyelesaian).
Dalam perspektif tasawuf, empat penyakit ini lahir dari hati yang lalai (ghaflah). Ketika hati lalai dari Allah, ibadah menjadi berat, kasih sayang menghilang, kebatilan terasa indah, dan akhirat terlupakan.
Sebaliknya, hati yang hidup dengan dzikir akan:
• Menjaga shalatnya.
• Dermawan kepada sesama.
• Menjauhi majelis kebatilan.
• Selalu mengingat kematian dan akhirat.

Penutup Renungan
Ketika penghuni surga bertanya:
"Apa yang menyebabkan kalian masuk Neraka Saqar?"
Mereka tidak menjawab karena kemiskinan, takdir, atau keadaan zaman. Mereka mengakuinya sendiri alasannya:
• Tidak shalat.
• Tidak peduli kepada orang miskin.
• Larut dalam kebatilan.
• Mendustakan hari penyelesaian.
Ayat ini mengajarkan bahwa keselamatan tidak hanya dibangun dengan akidah yang benar, tetapi juga dengan ibadah yang istiqamah, kepedulian sosial, lingkungan yang baik, dan keyakinan yang kuat terhadap kehidupan akhirat.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan kanan (Ashabul Yamin), yang menjaga shalat, mencintai kaum dhuafa, menjauhi kebatilan, dan selalu hidup dalam kesadaran akan perjumpaan dengan-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual. Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit)

Opini

×
Berita Terbaru Update