TintaSiyasi.id -- Hadirnya teknologi artificial intelligence (AI) membuat manusia semakin mudah dalam mengerjakan berbagai hal, namun menurut Jurnalis Joko Prasetyo, kehadiran AI juga berpotensi mempercepat budaya brainrot pada manusia.
"Di sinilah AI berpotensi mempercepat budaya ππππππππ‘: manusia terbiasa menerima jawaban instan, tetapi malas berpikir mendalam," ujarnya dikutip TintaSiyasi.id, Kamis (4/6/2026).
Ia menjelaskan, di era kecerdasan buatan atau πππ‘πππππππ πππ‘πππππππππ (AI), manusia semakin dimudahkan dalam banyak hal. Menulis dapat dibantu AI. Mencari jawaban cukup mengetik beberapa kata. Ringkasan tersedia dalam hitungan detik. Bahkan desain, analisis data, hingga pembuatan presentasi kini dapat dilakukan mesin secara otomatis.
"Di satu sisi, teknologi memang memberi kemudahan luar biasa. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan besar: ketika mesin semakin pintar berpikir, apakah manusia justru semakin malas berpikir?" Tanyanya.
Dulu, ia berkisah, revolusi industri menggantikan tenaga otot manusia dengan mesin. Hari ini, AI mulai mengambil sebagian kerja otak manusia. Akibatnya, manusia modern perlahan terbiasa hidup serba instan.
"Hari ini banyak orang tidak lagi terbiasa membaca panjang, menelaah mendalam, atau merenung lama. Semua ingin serba cepat. Tugas cukup ππππ¦-πππ π‘π. Jawaban cukup meminta AI. Tulisan cukup diringkas otomatis. Bahkan sebagian manusia mulai terbiasa menerima jawaban tanpa proses berpikir yang serius," paparnya.
Padahal, kata ia, kemampuan berpikir tidak lahir dari instan. Akal manusia menjadi tajam melalui proses membaca, mengkaji, merenung, berdiskusi, salah, memperbaiki kesalahan, lalu belajar kembali.
"Karena itu, ketergantungan berlebihan terhadap AI berpotensi melahirkan generasi yang cepat menjawab, tetapi dangkal dalam memahami. Manusia menjadi terbiasa menghasilkan teks tanpa benar-benar menguasai ilmu di baliknya," jelasnya.
Ia mengutip, dalam kitab πππ§βπππ’π πΌπ πππ (Peraturan Hidup dalam Islam) karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani tahun 1953 dijelaskan, akal adalah sarana manusia untuk memahami fakta melalui pancaindra, otak, dan informasi sebelumnya. Karena itu, Islam sangat menekankan aktivitas berpikir yang benar agar manusia tidak sekadar mengikuti prasangka, emosi, atau arus opini.
Kemudian, dalam kitab π΄π‘-ππππππ (Proses Berpikir) karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani tahun 1957 dijelaskan, kebangkitan umat sangat terkait dengan cara berpikirnya. Peradaban besar lahir dari manusia yang memiliki pola pikir mendalam, bukan dari budaya dangkal dan serba instan.
"Karena itu, ilmu dalam Islam bukan sekadar hasil akhir berupa jawaban instan. Ilmu juga menyangkut proses berpikir, pencarian, pengkajian, dan mujahadah intelektual," ungkapnya.
Ia mengatakan, dalam tradisi Islam, ulama besar lahir bukan dari budaya serba cepat, tetapi dari kesabaran membaca, menghafal, menelaah, berdiskusi, dan berpikir mendalam selama bertahun-tahun.
Namun, katanya, AI hari ini berkembang di tengah budaya digital yang memang sudah mendorong manusia menjadi semakin singkat perhatian dan semakin malas berpikir mendalam.
"Media sosial membiasakan manusia membaca cepat. Video pendek membiasakan manusia berpindah fokus dalam hitungan detik. AI kemudian datang menyempurnakan budaya instan tersebut," ujarnya.
Akibatnya, manusia berisiko kehilangan tradisi berpikir mendalam. Orang menjadi lebih sibuk mencari jawaban tercepat dibanding memahami kebenaran.
"Padahal masyarakat yang malas berpikir akan lebih mudah diarahkan opini, dipengaruhi propaganda, dan dikendalikan informasi," cecarnya.
Ia mengutip, kitab π·πππππ‘ πππππ’ππ’πππ¦π ππ-ππ’ππ’πππ‘ π€π ππ-πΌπ‘π‘ππ βππππ‘ (Direktorat Teknologi Informasi dan Komunikasi) karya Hizbut Tahrir tahun 2026 dijelaskan, perang modern juga berlangsung di ruang informasi, media digital, dan sistem komunikasi.
"Artinya, penguasaan informasi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal bagaimana opini manusia dibentuk dan diarahkan. Ketika manusia kehilangan tradisi berpikir kritis, maka ia menjadi semakin mudah dipengaruhi arus informasi global," ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam sistem kapitalisme digital, manusia yang pasif justru menguntungkan. Semakin manusia bergantung pada platform digital, semakin besar keuntungan korporasi teknologi. Semakin manusia malas berpikir mandiri, semakin mudah opini publik diarahkan melalui algoritma, media sosial, dan mesin rekomendasi digital.
"Akibatnya, teknologi tidak lagi sekadar alat bantu, tetapi perlahan membentuk cara manusia berpikir, membaca, bahkan memahami realitas," tegasnya.
Ia menjelaskan, Islam tidak anti AI dan tidak anti teknologi. Namun teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan fungsi akalnya.
"AI semestinya menjadi alat bantu untuk mempercepat pekerjaan manusia, bukan menggantikan proses berpikir dan tadabbur," ujarnya.
Kemudian, teknologi seharusnya membantu manusia semakin dekat kepada ilmu dan kebenaran, bukan menjadikannya malas berpikir.
"Menggunakan AI sebagai alat bantu tidak otomatis menjadikan manusia malas berpikir. Persoalannya terletak pada bagaimana teknologi itu digunakan," ungkapnya.
Ia mengatakan, jika AI dipakai untuk membantu mencari referensi, merapikan bahasa, mempercepat administrasi, atau membuka bahan kajian awal, maka teknologi dapat menjadi sarana yang membantu produktivitas manusia. Namun berbeda halnya ketika manusia menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin.
"Hari ini sebagian orang cukup menyalin jawaban AI tanpa memahami isinya. Ada yang membuat tulisan tanpa membaca ulang. Ada pula yang merasa berilmu hanya karena mampu menghasilkan teks panjang dari satu ππππππ‘ (kalimat perintah)," paparnya.
Akibatnya, ia mengatakan, manusia tampak produktif secara digital, tetapi lemah dalam pemahaman, miskin tadabbur, dan dangkal secara intelektual.
"Padahal dalam Islam, ilmu bukan sekadar banyaknya teks atau cepatnya jawaban, tetapi kedalaman pemahaman dan proses berpikir yang benar. Karena itu, AI semestinya membantu manusia berpikir lebih baik, bukan membuat manusia berhenti berpikir," jelasnya.
Ia menjelaskan, dalam Islam, akal bukan sekadar alat duniawi, tetapi amanah dari Allah SWT. Manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipikirkan, diyakini, dipelajari, dan disebarkannya.
"Karena itu, ketika teknologi justru membuat manusia malas berpikir, enggan mencari kebenaran, dan terbiasa menerima informasi tanpa tadabbur, persoalannya bukan lagi sekadar kemunduran intelektual, tetapi juga persoalan hisab di akhirat," ujarnya.
Sebab, ia mengatakan, Allah SWT tidak akan menanyakan seberapa canggih mesin yang digunakan manusia. Namun Allah akan menghisab bagaimana manusia menggunakan akalnya.
"Pendidikan Islam tidak boleh hanya menghasilkan manusia yang pandai menggunakan teknologi, tetapi juga manusia yang kuat akidahnya, tajam akalnya, dan mendalam cara berpikirnya," terangnya.
Ia menjelaskan, khilafah yang menerapkan syariat Islam secara kaffah berkewajiban membangun peradaban ilmu, budaya membaca, tradisi pengkajian, dan kekuatan intelektual umat.
"AI akan diarahkan sebagai alat pendukung kemaslahatan, bukan alat yang mematikan tradisi berpikir manusia. Sebab bahaya terbesar bukan ketika mesin mulai berpikir. Bahaya terbesar adalah ketika manusia berhenti berpikir," pungkasnya. [] Alfia