Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Jurnalis: Jika Kampus Masuk Dapur, Siapa yang Berdiri di Luar untuk Mengawasi?

Rabu, 06 Mei 2026 | 11:32 WIB Last Updated 2026-05-06T04:32:31Z

TintaSiyasi.id -- Menanggapi peresmian Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Universitas Hasanuddin, Tamalanrea, Makassar yang mengawali keterlibatan perguruan tinggi dalam program makan bergizi gratis (MBG), Jurnalis Joko Prasetyo menilai hal itu dapat mengubur daya kritis.

 

"Kampus masuk dapur, kritik pun terkubur. Ketika kampus diminta “terlibat aktif” membangun dapur MBG (Makan Bergizi Gratis), pertanyaannya sederhana tetapi menentukan, ‘Jika kampus sudah masuk dapur, siapa yang masih berdiri di luar untuk mengawasi?’,” ujarnya kepada TintaSiyasi.ID, Senin (04/05/2026).

 

Di satu sisi, Om Joy, sapaan akrabnya, tidak memungkiri tujuan program MBG hadir patut diapresiasi karena demi menjawab kebutuhan gizi masyarakat, terutama kelompok rentan, dalam jangka pendek.

 

“Namun di sisi lain, menurutnya, cara pelaksanaannya perlu diuji secara kritis agar tidak menimbulkan persoalan baru dalam tata Kelola,” ujarnya mengingatkan.

 

Sedangkan kampus, Om Joy mengingatkan, sejak awal ditempatkan sebagai penjaga akal sehat publik dengan memproduksi pengetahuan, menguji kebijakan, dan menjaga jarak yang cukup agar berani berkata “tidak” ketika negara keliru.

 

"Namun ketika kampus masuk ke dalam proyek yang sama yang seharusnya ia nilai, jarak itu menyempit. Peran bergeser: dari pengawas menjadi pelaksana, dari pengkritik menjadi pihak yang ikut berkepentingan,” ujarnya.

 

“Di titik ini, kritik tidak perlu dibungkam secara kasar. Karena, kampus yang membuat dapur berisiko melemah dengan sendirinya," ungkapnya.

 

Om Joy menegaskan, kampus yang membuat dapur MBG berisiko melemah karena konflik kepentingan bukan lagi sekadar asumsi. "Ketika institusi yang menerima peran dalam pelaksanaan program (termasuk potensi akses pendanaan, fasilitas, atau reputasi) juga diharapkan menghasilkan kajian atau evaluasi atas program tersebut, independensi menjadi rentan,” tandasnya.

 

“Pertanyaannya bukan lagi apakah kampus mampu meneliti, tetapi apakah sepenuhnya bebas untuk menyimpulkan," lugasnya.

 

Masalah Membesar

 

Om Joy menerangkan, masalah itu akan membesar ketika keterlibatan meluas. “Ketika ormas, aparat, hingga DPR ikut masuk ke dalam ekosistem proyek, maka peran yang seharusnya tegas menjadi kabur,” sebutnya mengingatkan.

 

"Yang mengawasi ikut menjalankan, yang seharusnya netral mulai memiliki kepentingan. Dalam kondisi seperti ini, mekanisme kontrol berisiko bergeser. Bukan lagi sebagai penyeimbang, melainkan menjadi ruang kompromi yang saling menjaga. Kekuasaan tidak diawasi secara utuh, tetapi dibagi agar semua tetap berada di dalam lingkaran," kata Om Joy.

 

Ia menambahkan, hal itu tampak sebagai kolaborasi besar untuk tujuan sosial di permukaan, tetapi di bawahnya, terbuka ruang patronase, yakni terjadi distribusi proyek berbasis kedekatan, loyalitas yang dirawat melalui akses, dan sistem yang perlahan bergeser dari meritokrasi ke relasi.

 

"Negara tidak lagi sepenuhnya berjalan oleh aturan yang objektif, tetapi oleh jejaring kepentingan yang saling mengunci. Masalah ini tidak hanya soal siapa mengawasi, tetapi juga tentang arah kebijakan itu sendiri," ujarnya.

 

Ikan dan Kail

 

Ada persoalan yang menurut Om Joy lebih mendasar di luar tata kelol, yaitu cara memandang bantuan. “MBG pada dasarnya memberi ikan (menjawab kebutuhan hari ini), sedangkan kebutuhan yang lebih dalam adalah kail dan kesempatan memancing (kemampuan untuk memastikan hari esok tidak kembali lapar),” tuturnya.

 

Om Joy mengingatkan pada tradisi Islam yang sejak awal menempatkan kemandirian sebagai kehormatan. “Nabi Muhammad saw. menggambarkan bahwa seseorang yang memikul hasil usahanya sendiri lebih baik daripada meminta. Sebuah isyarat bahwa solusi terbaik bukan sekadar memberi, tetapi membuka jalan agar orang mampu berdiri di atas usahanya,” ulasnya.

 

"Prinsip yang sama ditegaskan Al-Qur’an: perubahan keadaan tidak datang dari luar semata, tetapi ketika manusia mengubah kondisi dirinya sendiri. Dalam konteks kebijakan, ini berarti pemberdayaan harus menjadi arah utama, sementara bantuan konsumtif bersifat pelengkap," tuturnya.

 

Lebih lanjut, ia mengatakan, ketika negara terlalu fokus pada distribusi konsumsi, berisiko terjebak mengelola akibat, bukan menyelesaikan sebab. “Akibatnya, anggaran besar terserap untuk memastikan rakyat makan hari ini, tetapi tidak selalu berujung pada kemampuan mereka untuk makan esok hari tanpa bantuan,” ungkaptnya.

 

"Dengan sumber daya yang sama, arah kebijakan sebenarnya bisa diperluas ke sektor produktif: alat bagi petani dan nelayan, akses pembiayaan dan pasar bagi UMKM, serta penciptaan lapangan kerja yang memberi daya tahan jangka panjang. Di situlah kesejahteraan tumbuh: bukan hanya dari apa yang dibagikan, tetapi dari apa yang dihasilkan," tegasnya.

 

Ia juga menilai, persoalan itu tidak berhenti pada efektivitas kebijakan, tetapi masuk ke wilayah pertanggungjawaban. “Dalam pandangan Islam kekuasaan adalah amanah yang akan dimintai jawaban,” ujarnya mengingatkan.

 

"Seorang pemimpin tidak hanya ditanya apakah ia memberi, tetapi juga apakah ia adil, jujur, dan menjaga ruang kebenaran tetap terbuka. Jika sebuah kebijakan berisiko melemahkan kemandirian sekaligus mengaburkan fungsi pengawasan, maka pertanggungjawaban kepada Allah di akhirat tidak ringan," ungkapnya.

 

Terlebih lagi, imbuhnya, jika pola itu berjalan dengan merangkul banyak pihak ke dalam proyek hingga kritik menjadi tumpul, suara kebenaran melemah, dan kontrol publik perlahan menyempit. “Di titik itu, persoalannya bukan lagi sekadar salah arah, tetapi menyentuh inti Amanah,” jelasnya.

 

"Karena membungkam kritik, meski lewat cara halus seperti distribusi kepentingan, pada hakikatnya adalah menutup jalan perbaikan. Dan ketika jalan perbaikan ditutup, kerusakan tidak hanya mungkin terjadi, tetapi cenderung dipelihara," ujarnya.

 

Om Joy mengingatkan bahwa memberi makan rakyat tetaplah tindakan mulia, tetapi kemuliaan itu harus berjalan bersama kejujuran, keadilan, dan keberanian untuk tetap membuka ruang kritik.

 

“Tanpa itu, yang tampak sebagai kebaikan di permukaan bisa berubah menjadi beban yang berat. Bukan hanya di hadapan publik, tetapi yang pasti di hadapan Allah,” ujarnya.

 

"Ingatlah, bangsa yang kuat bukan yang paling sering memberi ikan, melainkan yang memastikan rakyatnya memiliki kail dan tetap memiliki keberanian untuk bersuara, apalagi ketika kebenaran mulai terkubur," pungkasnya.[] Saptaningtyas

Opini

×
Berita Terbaru Update