Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pernyataan Prabowo 'Kabur Saja ke Yaman’, Jurnalis: Kritik Dianggap sebagai Ancaman

Rabu, 06 Mei 2026 | 13:09 WIB Last Updated 2026-05-06T06:09:28Z

TintaSiyasi.id -- Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyarankan pihak yang tidak puas untuk ‘kabur saja ke Yaman’ hingga memicu kontroversi di tengah publik ditanggapi oleh Jurnalis Joko Prasetyo sebagai gejala pemerintahan yang mulai memandang kritik sebagai ancaman, bukan sarana perbaikan, bahkan mengarah ke pemerintahan diktator.

 

“Disadari atau tidak, jelasnya, sikap Prabowo menunjukkan gejala pemerintahan yang mulai memandang kritik sebagai ancaman, bukan sarana perbaikan bahkan mengarah ke pemerintahan dictator,” lugasnya.

 

Ia menegaskan, padahal di dalam demokrasi, kritik adalah bagian inheren dari sistem. “Oposisi dan suara publik bukan ancaman, melainkan mekanisme koreksi terhadap kekuasaan," tandasnya.

 

"Ketika kritik dijawab dengan “silakan pergi”, ini justru bertentangan dengan prinsip dasar demokrasi: ruang partisipasi, kebebasan berpendapat, dan kontrol terhadap pemerintah," ungkapnya kepada TintaSiyasi.ID, Rabu (06/07/2026).

 

Menurut Om Joy, demikian ia biasa disapa, saat ini cara pandang terhadap kritik tampak berubah, bukan lagi sebagai masukan, melainkan sesuatu yang harus dihindari atau disingkirkan.

 

Selain itu, lanjutnya, klaim bahwa Indonesia adalah negara paling aman di dunia serta pernyataan yang mempersilakan pihak yang tidak setuju untuk kabur dari tanah air perlu dikaji secara ilmiah.

 

"Aman menurut siapa? Indikator apa? Apakah hanya stabilitas, atau juga keadilan dan kebebasan berpendapat? Tanpa parameter yang jelas, mudah berubah menjadi slogan, bukan analisis," ujarnya.

 

"Secara psikologis-politik, ucapan ‘kabur saja’ mengirim pesan bahwa ruang publik bergeser: dari ruang dialog menjadi ruang seleksi loyalitas. Kritik tidak lagi dipandang sebagai kontrol, tetapi sebagai ancaman," tambahnya.

 

Padahal, ujarnya, negara bukan milik penguasa, melainkan milik rakyat. “Ketika kritik dibungkam, yang tercipta bukan stabilitas, tetapi represi yang identik dengan pemerintahan diktator,” ulasnya.

 

"Jangan lupa! Dalam Islam, yang paling berbahaya bukanlah kritik terhadap penguasa, melainkan penguasa yang tidak lagi mau dikritik. Dan di hadapan Allah kelak, bukan rakyat yang akan ditanya mengapa mereka mengkritik tetapi pemimpinlah yang akan ditanya: mengapa ia menolak kebenaran saat diingatkan," jelasnya.

 

Islam memandang secara fundamental, tuturnya, bahwa kekuasaan adalah amanah.  “Sebagaimana sabda Rasulullah saw., ‘Setiap kalian Adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinya.’,” kutipnya dari   hadis Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

 

Ia menuturkan, dalam sistem pemerintahan Islam (khilafah), kritik muhasabah lil hukkam terhadap penguasa bukan hanya hak rakyat, tetapi juga kewajiban yang harus dijamin negara.

 

Om Joy juga mengutip kalimat Khalifah Umar bin Khaththab ra, “Tidak ada kebaikan pada kalian jika kalian tidak menasihati kami, dan tidak ada kebaikan pada kami jika kami tidak mendengarnya.”

 

"Artinya, baik dalam sekularisme (demokrasi) maupun dalam Islam (khilafah), kritik adalah pilar, bukan gangguan," tandasnya.[] Tenira

Opini

×
Berita Terbaru Update