Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Hari Kebangkitan Nasional di Tengah Krisis Ekonomi dan Darurat Korupsi

Kamis, 21 Mei 2026 | 11:17 WIB Last Updated 2026-05-21T05:17:04Z

TintaSiyasi.id -- Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar peringatan historis tentang lahirnya kesadaran bangsa. Ia adalah panggilan jiwa. Panggilan untuk bangkit dari kemiskinan moral, keterpurukan ekonomi, dan penyakit korupsi yang menggerogoti sendi kehidupan rakyat.

Bangsa ini sesungguhnya tidak miskin sumber daya. Negeri ini kaya laut, hutan, tambang, tanah subur, budaya, dan manusia yang ramah. Namun mengapa rakyat kecil masih banyak yang menjerit? Mengapa harga kebutuhan naik, lapangan pekerjaan sempit, dan generasi muda banyak kehilangan arahnya?

Salah satu penjelasannya adalah krisis amanah.

Korupsi bukan sekedar kejahatan hukum. Ia adalah pengkhianatan terhadap cita-cita kemerdekaan. Korupsi membuat pembangunan kehilangan keberkahan. Uang rakyat yang seharusnya menjadi jalan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan berubah menjadi alat yang menyejahterakan segelintir elite.

Dalam perspektif ruhani, korupsi adalah penyakit hati:

Rakus tanpa batas.

Cinta dunia berlebihan.

Hilangnya rasa takut kepada Allah.

Matinya nurani terhadap penderitaan rakyat.

Ketika hati terisi kerakusan, maka jabatan berubah menjadi ladang transaksi. Kekuasaan tidak lagi dipandang sebagai amanah, tetapi kesempatan menumpuk harta dan pengaruh.

Padahal para ulama salaf mengingatkan:

“Rusaknya pemimpin karena cinta dunia akan merusak kehidupan rakyat.”

Hari Kebangkitan Nasional hari ini seharusnya dimaknai sebagai kebangkitan total:

Kebangkitan moral.

Kebangkitan spiritual.

Kebangkitan ekonomi umat.

Kebangkitan pendidikan.

Kebangkitan dan penyelamatan.

Kebangkitan keberanian melawan korupsi.

Bangsa yang besar tidak hanya dibangun dengan infrastruktur, tetapi juga dengan integritas. Jalan tol bisa dibangun dengan cepat, gedung bisa menjulang tinggi, tetapi bila hati manusia rusak maka peradaban akan rapuh.

Krisis ekonomi yang terjadi hari ini sesungguhnya tidak hanya berbicara soal angka rupiah atau nilai dolar. Ia berkaitan dengan mentalitas bangsa. Ketika korupsi merajalela, investor kehilangan kepercayaan, rakyat kehilangan daya beli, dan generasi muda kehilangan optimisme.

Oleh karena itu, kebangkitan Indonesia harus dimulai dari tiga revolusi besar:

1. Revolusi Akhlak

Pendidikan tidak cukup hanya mencetak orang pintar, tetapi harus melahirkan manusia yang jujur ​​dan bertakwa. Negeri ini tidak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan teladan.

2. Revolusi Spiritual

Bangsa yang jauh dari nilai Ilahi akan mudah terjebak dalam kerakusan materialisme. Spiritualitas bukanlah penghambat kemajuan, justru landasan keberkahan peradaban.

3. Revolusi Ekonomi Kerakyatan

Perekonomian bangsa harus berpihak kepada petani, nelayan, UMKM, pesantren, dan rakyat kecil. Kebangkitan nasional harus terasa sampai ke desa-desa, bukan hanya di pusat kekuasaan.

Sejarah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia pernah bangkit melawan penjajahan fisik. Kini tantangannya berbeda: penjajahan gaya hidup konsumtif, ketimpangan ekonomi, oligarki kekuasaan, dan korupsi sistemik.

Maka Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya seremoni. Ia harus menjadi momentum muhasabah nasional:

Sudahkah pemimpin berpihak kepada rakyat?

Sudahkah intelektual berbicara jujur?

Sudahkah ulama menjadi cahaya akhlak?

Sudahkah rakyat menjaga kejujuran dalam kehidupan sehari-hari?

Perubahan besar tidak selalu dimulai dari istana. Kadang ia lahir dari kesadaran rakyat kecil yang menjaga amanah, bekerja keras, dan berani berkata benar.

Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri.

Maka kebangkitan Indonesia sejati bukan hanya kebangkitan ekonominya, tetapi kebangkitan jiwa. Bukan hanya kuatnya infrastrukturnya, tapi kuatnya akhlaknya. Bukan hanya memajukan teknologinya, tapi juga hidup nurani dan keadilannya.

Semoga Indonesia menjadi negeri yang bangkit dengan ilmu, iman, keadilan, dan keberkahan.

(Dr. Nasrul Syarif M.Si. Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)

Opini

×
Berita Terbaru Update