Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Cinta Dunia: Akar Kelalaian dan Hijab Menuju Allah SWT

Kamis, 28 Mei 2026 | 09:13 WIB Last Updated 2026-05-28T02:13:39Z
TintaSiyasi.id -- Renungan Dakwah Ideologis-Sufistik dari Nasehat Ibnu Athaillah

“Kau telah mengetahui bahwa cinta dunia merupakan pangkal segala dosa. Barangsiapa mencintai dunia hingga melupakan akherat berarti telah mengingkari amanat yang telah Allah berikan, yaitu agar manusia tidak melupakan akherat dan mendekati Allah SWT.”
Nasehat agung ini bukan sekadar peringatan moral biasa. Ia adalah suara kebijaksanaan ruhani yang menggemparkan kesadaran manusia modern yang sedang tenggelam dalam materialisme, hedonisme, dan pemujaan terhadap kehidupan dunia. Dalam pandangan para ulama sufi, kerusakan terbesar manusia bukanlah kemiskinan harta, melainkan ketika hati kehilangan orientasi menuju Allah SWT.
Hari ini hidup manusia di zaman yang dipenuhi kemajuan teknologi, kemewahan, dan berbagai fasilitas kehidupan. Namun dibalik semua itu, banyak hati menjadi gelisah, jiwa kehilangan ketenteraman, dan manusia semakin jauh dari makna hidup yang sebenarnya. Dunia modern telah menjadikan manusia sibuk mengejar pencapaian lahiriah, namun miskin secara batiniah. Mereka berhasil membangun gedung-gedung tinggi, tetapi gagal membangun kedalaman ruhani.
Didalamnya relevansi dakwah sufistik menjadi sangat penting. Dakwah bukan hanya mengajarkan halal dan haram secara lahiriah, tetapi juga menyembuhkan penyakit hati yang tersembunyi di dalam jiwa manusia.

Hakikat Cinta Dunia
Dalam pandangan tasawuf, dunia bukanlah bumi, harta, atau pekerjaan itu sendiri. Dunia adalah segala sesuatu yang melalaikan manusia dari Allah SWT. Oleh karena itu, seseorang dapat hidup sederhana namun sangat duniawi, dan ada pula orang kaya yang hatinya zuhud karena seluruh hartanya dipakai untuk taat kepada Allah.
Cinta dunia menjadi berbahaya ketika ia berubah menjadi pusat orientasi hidup. Hati menjadi sibuk mengejar pujian manusia, takut kehilangan kedudukan, tamak terhadap kekayaan, dan merasa bangga terhadap kemegahan fana. Akibatnya, manusia lupa bahwa seluruh kehidupan dunia hanyalah perjalanan singkat menuju alam keabadian.
Allah SWT berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ 
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah yang diberikan dengan balasan sempurnamu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya." ( QS. Ali 'Imran : 185)
Dunia memperdaya karena ia tampak indah di mata manusia. Kenikmatan dunia mampu membuat manusia lupa akan kematian. Padahal setiap detik umur yang berlalu sesungguhnya sedang mendekatkan manusia kepada liang kubur.

Amanat Kehidupan yang Dilupakan
Menurut nasehat Ibnu Athaillah, manusia telah menerima amanat dari Allah SWT agar tidak melupakan akherat dan selalu mendekati-Nya. Amanat itu adalah tugas kehambaan.
Manusia diciptakan bukan sekedar makan, bekerja, menikah, lalu mati. Jika hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, maka manusia tidak berbeda dengan makhluk lainnya. Kemuliaan manusia terletak pada ruhnya yang mengenal Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ibadah dalam makna sufistik bukan sekedar ritual lahiriah, namun perjalanan total hati menuju Allah. Shalat bukan sekedar gerakan tubuh, melainkan mi'raj ruhani. Dzikir bukan sekedar ucapan lisan, melainkan kehidupan hati. Taubat bukan sekadar pengakuan dosa, tetapi kembalinya jiwa menuju cahaya Ilahi.
Ketika manusia melupakan akherat, sesungguhnya ia sedang melupakan tujuan penciptaannya sendiri.

Penyakit Hati Akibat Cinta Dunia
Para ulama sufi menjelaskan bahwa hampir seluruh penyakit hati tumbuh dari akar cinta dunia. Dari cinta dunia lahirlah:
• Kesombongan
• Riya
• Hasad
• Tamak
• Dendam
• Kebakhilan
• Ambisi kekuasaan
• Takut miskin
• Cintapopuler
Hati yang dipenuhi dunia tidak akan mampu merasakan manisnya ibadah. Ia mungkin rajin beramal, tetapi amalnya memenuhi kepentingan nafsu dan pencarian pujian manusia.
Oleh karena itu, bahaya terbesar bukanlah dosa lahiriah semata, tetapi berlanjutnya hati kepada selain Allah SWT.
Dalam tasawuf disebutkan bahwa hati mengibarat cermin. Jika dipenuhi debu dunia, maka cahaya Allah tidak akan tampak di dalamnya. Semakin besar cinta dunia, semakin gelap hati manusia.

Dunia Modern dan Krisis Ruhani
Hari ini hidup manusia di tengah budaya materialistik yang mengukur keberhasilan hanya dengan uang, jabatan, dan popularitas. Media sosial menjadikan manusia berlomba mencari pengakuan. Kehidupan dipenuhi pencitraan. Nilai manusia dari ukuran penampilan, bukan ketakwaan.
Akibatnya, manusia mengalami krisis spiritual yang sangat dalam:
• Banyak yang kaya tapi tidak bahagia
• Banyak yang terkenal tapi sepi
• Banyak yang tertawa tetapi hatinya kosong
• Banyak yang sukses tetapi kehilangan arah hidup
Inilah tragedi manusia modern: tubuhnya hidup dalam kemewahan, namun ruhnya kelaparan.
Tasawuf hadir bukan untuk mengajak manusia meninggalkan dunia secara total, namun untuk memerdekakan hati dari isolasi dunia.

Zuhud: Kemerdekaan Hati
Zuhud sering disalahpahami sebagai meninggalkan harta dan hidup miskin. Padahal hakikat zuhud tidak bergantung pada dunia.
Seorang zahid boleh memiliki dunia, namun dunia tidak memiliki hatinya.
Para sahabat Nabi Muhammad SAW banyak yang kaya, namun hati mereka tetap terpaut kepada Allah SWT. Ketika dunia datang mereka bersyukur, ketika dunia pergi mereka bersabar.
Inilah kemerdekaan sejati.
Orang yang mencintai dunia akan selalu gelisah karena takut kehilangan. Sedangkan orang yang mencintai Allah akan selalu tenang karena yakin bahwa semua urusannya berada dalam penjagaan-Nya.

Jalan Membersihkan Hati dari Cinta Dunia
Para ulama arifin mengajarkan beberapa jalan untuk menyembuhkan penyakit cinta dunia:
1. Memperbanyak Dzikir
Dzikir adalah cahaya hati. Hati yang selalu mengingat Allah perlahan akan melepaskannya kepada dunia.
Allah SWT berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra'd: 28)
2. Kematian
Mengingat kematian akan menghancurkan keduniawian. Kubur adalah tempat yang akan didatangi oleh seluruh manusia tanpa memandang jabatan dan kekayaan.
3. Bersahabat dengan Orang Saleh
Lingkungan sangat mempengaruhi hati. Bergaul dengan para pecinta dunia akan memperkuat hawa nafsu, sedangkan bergaul dengan orang saleh akan menghidupkan akherat di dalam jiwa.
4. Membaca Al-Qur'an dengan Tadabbur
Al-Qur'an adalah obat hati. Ia membimbing melihat manusia hakikat kehidupan secara benar.
5. Ikhlas dalam Amal
Ikhlas memutus ketergantungan pada penilaian manusia dan menghubungkan hati hanya kepada Allah SWT.

Membangun Peradaban Ruhani
Dakwah ideologis-sufistik bukan sekadar ceramah spiritual individu. Ia merupakan upaya membangun peradaban yang berlandaskan tauhid, akhlak, dan kesadaran akherat.
Peradaban modern telah maju secara teknologi, namun belum tentu maju secara ruhani. Karena itu umat Islam membutuhkan kebangkitan hati.
Kebangkitan sejati dimulai dari hati yang mengenal Allah SWT.
Jika hati manusia kembali hidup:
• Kekuasaan akan terpenuhinya keadilan
• Kekayaan akan melahirkan kekhawatiran
• Ilmu akan melahirkan kebijaksanaan
• Dakwah akan melahirkan kasih sayang
• Kehidupan akan terpenuhi keberkahan
Namun jika hati mati karena cinta dunia, maka sebesar apa pun kemajuan manusia hanya akan terjadi kegagalan.

Penutup: Kembalilah kepada Allah SWT
Wahai manusia, dunia yang engkau kejar tidak akan mampu menyelamatkanmu dari kematian. Seluruh kemegahan akan sirna. Seluruh pujian manusia akan hilang. Yang tersisa hanyalah amal dan keadaan hati ketika menghadap Allah SWT.
Oleh karena itu, jangan jadikan dunia sebagai tujuan akhir. Jadikan ia kendaraan menuju ridha Allah SWT.
Carilah dunia hanyalah kebutuhan, tetapi carilah Allah sebagai tujuan kehidupan.
Jika hati telah dipenuhi cinta kepada Allah SWT, maka dunia tidak lagi memperbudak manusia. Dunia hanya akan menjadi jembatan menuju kehidupan abadi di sisi-Nya.
Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari cinta dunia yang melalaikan, menanamkan cinta akherat di dalam jiwa kita, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang selalu berjalan menuju-Nya dengan hati yang bersih dan penuh kerinduan. Aamiin.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Rohani dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update