Pandangan ini bukan berarti meremehkan manusia atau menolak kehidupan dunia, tetapi mengajarkan bahwa sumber kekuatan sejati hanyalah Allah SWT. Makhluk hanyalah perantara, sedangkan Sang Penentu segala sesuatu tetap Allah Yang Maha Kuasa.
Hati yang Sakit dan Hati yang Sehat
Banyak manusia tampak hidup dengan tubuh yang sehat, tetapi hatinya dipenuhi kegelisahan. Mengapa? Karena hatinya menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang fana:
• berharap penuh kepada manusia,
• menggantungkan harga diri kepada pujian,
• menggantungkan ketenangan pada harta,
• Menggantungkan masa depan kepada jabatan,
• dan menggantungkan cinta kepadamakhluk secara berlebihan.
Ketika semuanya hilang, maka hati pun runtuh. Sebab ia membangun istana harapan di atas sesuatu yang rapuh.
Adapun hati yang sehat adalah hati yang mengenal Allah. Ia memahami bahwa:
• manusia bisa berubah,
• dunia bisa mati,
• Kekayaan bisa habis,
• daya bisa jatuh,
• dan seluruh ciptaan adalah ciptaan yang fakir di hadapan Allah.
Oleh karena itu, ia tidak menjadikan makhluk sebagai sandaran utama hidupnya.
Tauhid yang Menghidupkan Jiwa
Hakikat kesehatan hati sesungguhnya kembali kepada kesempurnaan tauhid. Semakin kuat tauhid seseorang, semakin sehat pula hatinya.
Orang yang sehat hatinya akan berkata dalam batinnya:
“Ya Allah, bila seluruh pintu tertutup, pintu-Mu tetap terbuka. Bila seluruh makhluk meninggalkanku, Engkau tidak pernah meninggalkanku.”
Inilah rahasia ketenangan para wali dan orang-orang saleh. Mereka tetap tenang meski dunia berubah, sebab sandaran mereka tidak berubah: Allah SWT.
Semua Selain Allah Adalah Fana
Ketika Ibnu Athaillah menyebut bahwa semua selain Allah melaksanakan debu, itu mengandung pelajaran tauhid yang sangat dalam.
Debu mudah beterbangan, hilang tertiup angin, tidak memiliki kekuatan berdiri sendiri. Demikian pula seluruhmakhluk:
• hidup karena Allah,
• bergerak karena Allah,
• kuat karena Allah,
• dan lenyap bila Allah menghendaki.
Maka orang yang mengenal Allah tidak akan tertipu oleh kemegahan dunia. Ia melihat hakikat di balik bentuk lahiriah. Istana, kekuasaan, kehormatan, dan pujian manusia hanyalah bayangan sementara.
Allah SWT berfirman:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۖ وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِۚ
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”
(QS. Ar-Rahman: 26–27)
Ayat ini menanamkan kesadaran bahwa hanya Allah yang layak dijadikan tujuan akhir hati manusia.
Tanda-Tanda Hati yang Sehat
Di antara tanda hati yang sehat adalah:
1. Tidak bergantung pada Makhluk
Ia tetap berbuat baik kepada manusia, tetapi tidak menggantungkan nasibnya kepada mereka.
2. Tenang dalam Ujian
Karena ia yakin bahwa semua datang dari Allah dan kembali kepada Allah.
3. Tidak Silau Dunia
Hatinya tidak diperbudak harta, pujian, atau kedudukan.
4. Mudah Ikhlas
Ia beramal karena Allah, bukan demi menilai manusia.
5. Selalu Merasa Butuh kepada Allah
Semakin tinggi ilmunya, semakin besar rasa fakirnya di hadapan Allah.
Jalan Menuju Hati yang Sehat
Hati tidak akan sehat hanya dengan teori. Ia membutuhkan mujahadah dan latihan ruhani yang terus-menerus.
a. Memperbanyak Dzikir
Dzikir membersihkan karat hati dan menghidupkan kesadaran akan kehadiran Allah.
B. Mengurangi Ketergantungan pada Dunia
Gunakan dunia di tangan, jangan masukkan dunia ke dalam hati.
C. Berteman dengan Orang Saleh
Lingkungan yang baik membantu hati tetap hidup.
d. Memperbanyak Tafakur
Renungkan kefanaan dunia dan perpisahan kematian.
e. Memperdalam Tauhid
Semakin mengenal Allah, semakin kecil dunia di mata seseorang.
Cahaya Kebebasan Jiwa
Orang yang hanya bergantung kepada Allah akan merasakan kebebasan batin yang luar biasa. Ia tidak mudah diperbudak manusia, tidak mudah hancur karena penolakan, dan tidak mudah disombongkan oleh pujian.
Ia hidup dengan hati yang merdeka.
Inilah kesehatan hati yang sejati:
bukan sekedar hati yang tenang sesaat, tetapi hati yang telah mengenal Tuhannya, lalu melepaskan ikatan ketergantungan kepada selain-Nya.
Semoga Allah SWT menjadikan hati kita termasuk hati yang sehat, hati yang hidup dengan tauhid, hati yang bersinar dengan dzikir, dan hati yang hanya berharap kepada-Nya. Aamiin.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Rohani dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)