TintaSiyasi.id -- Di zaman ketika manusia berlomba mengejar kesenangan, dunia berubah menjadi panggung besar bagi syahwat dan pencitraan. Ukuran kebahagiaan dipersempit hanya pada materi, hiburan, popularitas, dan kenikmatan sesaat. Manusia modern diajarkan bahwa hidup yang bahagia adalah hidup yang penuh pesta, penuh kemewahan, penuh perjalanan, penuh sorotan, dan penuh konsumsi. Akibatnya, banyak orang tampak tersenyum di wajah, tetapi menangis di dalam jiwa.
Betapa banyak manusia yang rumahnya megah, tetapi hatinya gelisah.
Rekeningnya penuh, tetapi dadanya sempit.
Pergaulannya ramai, tetapi jiwanya sunyi.
Hidupnya dipenuhi hiburan, tetapi batinnya kosong. Inilah tragedi peradaban modern Manusia memiliki segala sesuatu kecuali ketenangan. Islam sejak awal telah mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak dibangun di atas syahwat dunia. Dunia hanyalah persinggahan sementara, bukan tujuan akhir perjalanan manusia.
Oleh karena itu, Allah Swt. berfirman:
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28).
Ayat ini bukan sekadar nasihat spiritual, tetapi deklarasi ideologis Islam terhadap seluruh sistem kehidupan materialistik yang menjadikan dunia sebagai pusat kebahagiaan. Islam menolak pandangan hidup hedonistik yang mengukur nilai manusia dari kenikmatan fisik semata. Dalam pandangan Islam, manusia bukan hanya tubuh yang lapar hiburan, tetapi ruh yang merindukan cahaya Tuhan.
Hedonisme: Jalan Cepat Menuju Kekosongan Jiwa
Peradaban kapitalistik hari ini membentuk manusia menjadi makhluk konsumtif. Industri hiburan, media sosial, dan budaya populer terus menggiring manusia untuk percaya bahwa kebahagiaan ada pada “lebih banyak menikmati.” Akhirnya manusia sibuk mengejar:
• makanan mewah
• gaya hidup glamor
• pujian manusia
• hiburan tanpa batas
• dan kesenangan instan.
Namun, semakin dunia dikejar, semakin jiwa merasa haus. Mengapa? Karena ruh manusia tidak pernah bisa kenyang dengan materi. Ruh hanya hidup dengan cahaya wahyu. Ketika manusia menjauh dari Allah, maka meskipun dunia dikumpulkan di tangannya, hatinya tetap miskin.
Imam Ibnul Qayyim Rahmatullah berkata:
“Di dunia ada surga; siapa yang tidak memasukinya di dunia, ia tidak akan masuk surga akhirat.”
Surga dunia itu adalah ma’rifatullah, yakni mengenal Allah, dekat dengan Allah, merasakan manisnya iman dan ketenangan ibadah. Oleh sebab itu, banyak orang yang tampak sederhana justru lebih bahagia daripada mereka yang bergelimang kemewahan. Ada para pencinta Al-Qur’an yang hidupnya biasa saja, tetapi wajah mereka bercahaya. Ada orang-orang yang sujud di sepertiga malam dengan air mata taubat, lalu paginya menjalani hidup dengan hati lapang. Sebaliknya, tidak sedikit manusia yang tenggelam dalam hiburan malam, tetapi pulang membawa kehampaan karena kesenangan bukanlah ketenangan.
Agama adalah Cahaya
Allah menyebut wahyu-Nya sebagai cahaya. Cahaya yang menghidupkan hati, menyingkap kegelapan, dan menunjukkan arah kehidupan.
Tanpa agama, manusia berjalan dalam gelap. Ia mungkin cerdas, tetapi tidak bijaksana. Ia mungkin kaya, tetapi kehilangan tujuan. Ia mungkin terkenal, tetapi tidak mengenal dirinya sendiri.
Islam datang bukan hanya untuk mengatur ritual ibadah, tetapi membimbing seluruh kehidupan manusia. Islam menerangi:
• akal dengan ilmu
• hati dengan iman
• jiwa dengan dzikir
• masyarakat dengan keadilan
• dan peradaban dengan tauhid.
Oleh karena itu, Dien Al-Islam bukan sekadar identitas formal. Islam adalah cahaya kehidupan. Ketika cahaya itu padam dari hati manusia, lahirlah krisis moral, kehampaan spiritual, dan kerusakan sosial.
Lihatlah dunia hari ini. Kemajuan teknologi tidak otomatis melahirkan kebahagiaan. Justru di tengah kemajuan material, angka depresi meningkat, bunuh diri bertambah, keluarga runtuh, dan manusia kehilangan makna hidup. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak cukup hidup dengan roti. Manusia juga membutuhkan cahaya ruhani.
Hati yang Jauh dari Allah Akan Selalu Gelisah
Dalam tradisi sufistik Islam, hati diibaratkan cermin. Jika dipenuhi dosa, syahwat, riya’, dan cinta dunia berlebihan, maka cermin itu menjadi gelap. Cahaya iman sulit masuk ke dalamnya. Oleh karena itu, para ulama tasawuf menekankan pentingnya tazkiyatun nafs, yaitu penyucian jiwa. Sebab musuh terbesar manusia bukan sekadar kemiskinan atau kesulitan dunia, tetapi hati yang mati.
Hati yang mati:
• tidak tersentuh oleh nasihat
• tidak menangis saat membaca Al-Qur’an
• tidak takut kepada dosa
• dan tidak rindu kepada Allah.
Padahal, manusia diciptakan untuk beribadah dan mengenal-Nya.
Maka jalan menuju kebahagiaan sejati bukanlah memperbanyak hiburan, tetapi memperbanyak cahaya dalam hati. Cahaya itu hadir melalui:
• taubat
• dzikir
• tilawah Al-Qur’an
• shalat malam
• majelis ilmu
• sedekah
• dan perjuangan menundukkan hawa nafsu.
Semakin dekat seorang hamba kepada Allah, semakin terang hidupnya.
Kebahagiaan Para Pencinta Allah
Para wali dan orang saleh mungkin tidak memiliki dunia sebanyak para penguasa, tetapi mereka memiliki sesuatu yang lebih mahal, yaitu ketenangan batin.
Mereka menangis dalam sujud, tetapi hatinya damai.
Mereka sederhana dalam penampilan, tetapi kaya dalam ruhani.
Mereka tidak terkenal di bumi, tetapi dikenal di langit.
Inilah kebahagiaan yang tidak bisa dibeli oleh uang.
Kebahagiaan yang lahir dari iman membuat seseorang tetap kuat meski diuji. Bahkan, musibah pun terasa ringan ketika hati bersandar kepada Allah. Sebaliknya, hati yang kosong dari iman akan mudah hancur hanya karena kehilangan sedikit kenikmatan dunia.
Oleh karena itu, Islam tidak melarang manusia menikmati dunia, tetapi Islam melarang dunia menguasai hati manusia. Dunia harus berada di tangan, bukan di dalam hati.
Generasi yang Kehilangan Cahaya
Salah satu tragedi terbesar umat hari ini adalah banyak generasi muda yang mengenal hiburan lebih banyak daripada Al-Qur’an. Mereka hafal lagu, tetapi lupa ayat Allah. Mereka menghabiskan malam untuk scrolling tanpa arah, tetapi berat bangun untuk shalat Subuh. Akibatnya, jiwa menjadi lemah, hati mudah gelisah, dan hidup kehilangan keberkahan. Padahal, umat Islam dahulu membangun peradaban besar karena mereka hidup bersama cahaya wahyu. Mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat kehidupan. Dari masjid lahir ilmu, akhlak, keberanian, dan peradaban.
Kebangkitan umat tidak akan lahir hanya dari kemajuan ekonomi, tetapi dari kembalinya cahaya iman dalam hati kaum Muslimin.
Terangi Hidupmu dengan Dien Al-Islam
Hari ini dunia menawarkan banyak cahaya palsu:
• cahaya popularitas,
• cahaya hiburan,
• cahaya materi,
• cahaya syahwat.
Namun semua itu redup dan sementara.
Adapun cahaya Islam adalah cahaya abadi. Cahaya yang menuntun manusia sejak di dunia hingga ke akhirat.
Maka:
• jika hidup terasa gelap, dekatlah kepada Al-Qur’an,
• jika hati gelisah, perbanyak dzikir,
• jika jiwa terasa kosong, hidupkan sujud malam,
• jika dunia terasa sempit, perkuat tawakal kepada Allah.
Jangan mencari kebahagiaan di tempat yang jauh dari Tuhan. Karena hati manusia diciptakan hanya akan tenang ketika kembali kepada-Nya.
Imam Al-Ghazali رحمه الله menegaskan bahwa hakikat kebahagiaan adalah ketika hati mengenal Allah dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Segala kenikmatan dunia tanpa iman hanyalah fatamorgana yang akan lenyap.
Penutup: Cahaya atau Kegelapan
Setiap manusia sedang memilih jalannya:
• jalan cahaya atau jalan kegelapan,
• jalan iman atau jalan hawa nafsu,
• jalan ketenangan atau jalan kehampaan.
Dunia modern boleh menawarkan ribuan hiburan, tetapi hanya Islam yang mampu menyelamatkan jiwa manusia dari kehancuran batin.
Karena itu, jangan hanya sibuk menghias wajah, tetapi hiasilah hati dengan iman. Jangan hanya menerangi rumah dengan lampu, tetapi terangilah jiwa dengan cahaya wahyu.
Sebab ketika cahaya Allah masuk ke dalam hati, bahkan hidup yang sederhana terasa indah. Tetapi ketika hati gelap dari iman, dunia seluas apa pun terasa sempit dan menyiksa.
Agama adalah cahaya.
Terangi hidupmu dengan Dien Al-Islam
karena kebahagiaan sejati bukanlah banyaknya dunia yang dimiliki, melainkan dekatnya hati kepada Allah Swt.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo