Tintasiyasi.id.com -- Wanita adalah tiang negara; jika wanitanya baik, maka baik pula negaranya. Begitu pun sebaliknya, kehancuran suatu negeri bisa disebabkan oleh rusaknya peran perempuan, baik dalam dirinya maupun di rumahnya.
Wanita adalah makhluk ciptaan Allah yang amat dimuliakan. Keberadaannya dinantikan oleh orang-orang terdekatnya, baik anak, suami, bahkan kedua orang tuanya. Makhluk Allah yang diciptakan dari tulang rusuk ini, kini dalam sistem kapitalisme nyaris semuanya menjadi tulang punggung keluarga.
Perempuan dalam sistem ini diseret keluar rumah untuk mengais puing-puing rupiah yang harus ia kais setiap hari. Terpaksa ia meninggalkan anaknya di rumah atau menitipkannya di tempat penitipan anak, dengan harapan anaknya mendapatkan penjagaan baik dari pihak yayasan.
Namun apa yang terjadi? Harapan itu seolah sirna. Semua hati ibu pun menangis menyaksikan video yang memperlihatkan puluhan anak diikat di tempat penitipan di Jogja, kemudian disusul aksi kekerasan yang dilakukan pengasuh kepada balita di Banda Aceh. Kejadian ini cukup membuat hati para ibu pekerja bagai teriris pisau yang amat tajam.
Padahal, jika ditanya kepada perempuan pekerja itu, mereka juga menginginkan membersamai tumbuh kembang anak dengan sempurna. Namun, karena tuntutan ekonomi, akhirnya memaksa mereka ikut bekerja.
Di antara mereka, ada yang melatarbelakanginya karena mereka adalah orang tua tunggal atau karena membantu keuangan keluarga karena gaji suami yang tidak cukup. Atau ada yang hanya sekadar ikut arus feminisme, emansipasi wanita yang mendorong para wanita untuk tampil setara dengan lelaki.
Paham feminisme yang hari ini digaungkan telah nyata merusak pemikiran para perempuan Muslim. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang tidak lagi hormat kepada suaminya dan bahkan menganggap perempuan bisa jadi pemimpin rumah tangga hanya karena penghasilan mereka yang lebih tinggi.
Padahal jika ditelaah, wanita ketika keluar rumah dengan alasan bekerja, justru menambah daftar panjang beban hidup yang harus ia jalani setiap harinya. Mulai dari urusan pekerjaan rumah yang setiap hari menanti, soal anak dengan seabrek kebutuhannya, dan perkara suami yang harus dilayani.
Hal ini dikhawatirkan memicu sakitnya mental para ibu. Karena tidak dipungkiri, semua celah bisa menjadi masalah, apalagi jika sama-sama merasa lelah.
Oleh karena itu, Islam sudah sangat mulia menempatkan perempuan di rumah. Perempuan adalah pengurus rumah tangga sekaligus menjadi sekolah pertama untuk anak-anaknya. Mulai dari mengelola keuangan rumah sampai menyiapkan kurikulum berkualitas yang mampu mencetak generasi Islam yang tangguh.
Bukan sekadar kasur, dapur, dan sumur. Namun lebih dari itu. Dari rumah itulah lahir orang-orang hebat yang bermanfaat untuk masyarakat. Dengan ibu yang mengambil peran sebagai ummun wa rabbal bait (ibu rumah tangga), bahkan mampu menjadi benteng pertahanan yang kuat di tengah derasnya arus kapitalisasi yang merusak keluarga-keluarga Muslim sebagai pertahanan terakhir umat Islam hari ini.
Keluarga Muslim yang bervisi dakwah bahkan tidak hanya membentengi keluarganya dari arus pemikiran Barat, namun lebih dari itu, keluarga tersebut akan saling bahu-membahu terjun di tengah-tengah masyarakat untuk menyampaikan dakwah Islam kafah (menyeluruh).
Dengan penerapannya mampu membentengi semua negeri Muslim yang ada di seluruh dunia dari hegemoni penjajah Barat yang nyata-nyata memerangi umat Islam baik fisik maupun pemikiran.
Ketika Islam diterapkan dalam institusi negara, maka para laki-lakilah yang dimotivasi negara untuk bekerja mencari nafkah sebagai kewajiban yang Allah bebankan kepada mereka. Tetapi jika mereka janda, maka penafkahan dikembalikan kepada wali. Namun jika wali tidak ada, barulah negara yang akan turun tangan.
Ditambah lagi lapangan pekerjaan dalam negara akan dibuka secara besar-besaran, serta kebutuhan pokok yang mudah dijangkau oleh siapa saja sebagai warga negara. Sehingga tak ada alasan bagi para lelaki untuk malas bekerja.
Sementara para wanitanya diberi pendidikan pengasuhan (parenting) sesuai dengan cara Nabi Muhammad saw. Sehingga dari mereka lahirlah generasi emas yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan Islam, mercusuar dunia. Wallahu a’lam bish-shawab.[]
Oleh: Jumratul Sakdiah, S.Pd (Pendidik Generasi)