Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kampus Diminta Bangun SPPG, Jurnalis: Kalau Masuk Dapur, Siapa Mengawasi Pemerintah?

Rabu, 06 Mei 2026 | 11:32 WIB Last Updated 2026-05-06T04:32:27Z

TintaSiyasi.id -- Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana meminta perguruan tinggi membangun dan mengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara mandiri untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), menanggapi pernyataan tersebut Jurnalis Joko Prasetyo menilai jika kampus diminta mengurus dapur MBG maka siapa yang akan mengawasi pemerintah.

 

"Ketika kampus diminta terlibat aktif membangun dapur MBG, pertanyaannya sederhana tetapi menentukan, jika kampus sudah masuk dapur, siapa yang masih berdiri di luar untuk mengawasi?" ucapnya kepada TintaSiyasi.ID pada Ahad (03/05/2026).

 

Meski demikian, ia memandang, di satu sisi program MBG hadir dengan tujuan yang patut diapresiasi yakni menjawab kebutuhan gizi masyarakat, terutama kelompok rentan, dalam jangka pendek. “Namun di sisi lain, cara pelaksanaannya perlu diuji secara kritis agar tidak menimbulkan persoalan baru dalam tata Kelola,” cetusnya.

 

"Sedangkan kampus, sejak awal ditempatkan sebagai penjaga akal sehat publik untuk memproduksi pengetahuan, menguji kebijakan, dan menjaga jarak yang cukup agar berani berkata 'tidak' ketika negara keliru,” ulas pria yang akrab dipanggil Om Joy itu.

 

“Namun ketika kampus masuk ke dalam proyek yang sama yang seharusnya ia nilai, jarak itu menyempit. Peran bergeser dari pengawas menjadi pelaksana, dari pengkritik menjadi pihak yang ikut berkepentingan," jelasnya.

 

Alhasil, ia melihat dengan kampus membuat dapur MBG maka tidak perlu dibungkam dengan cara kasar. “Dengan membuat dapur MBG secara tidak langsung kampus akan melemah dengan sendirinya,” bebernya.

 

"Konflik kepentingan pun menjadi nyata, bukan sekadar asumsi. Ketika institusi yang menerima peran dalam pelaksanaan program (termasuk potensi akses pendanaan, fasilitas, atau reputasi) juga diharapkan menghasilkan kajian atau evaluasi atas program tersebut, independensi menjadi rentan,” urainya.

 

“Pertanyaannya bukan lagi apakah kampus mampu meneliti, tetapi apakah sepenuhnya bebas untuk menyimpulkan," imbuhnya.

 

Lebih lanjut, ia menjelaskan masalah itu membesar ketika keterlibatan semakin meluas. “Ormas, aparat, hingga DPR ikut masuk ke dalam ekosistem proyek. Batas peran yang seharusnya tegas mulai kabur dan yang mengawasi ikut menjalankan, serta yang seharusnya netral mulai memiliki kepentingan,” ungkapnya.

 

"Dalam kondisi seperti ini, mekanisme kontrol berisiko bergeser. Bukan lagi sebagai penyeimbang, melainkan menjadi ruang kompromi yang saling menjaga. Kekuasaan tidak diawasi secara utuh, tetapi dibagi agar semua tetap berada di dalam lingkaran," terangnya.

 

Adapun, ia menilai, secara di permukaan hal itu tampak sebagai kolaborasi besar untuk tujuan sosial. “Namun di bawahnya, terbuka ruang patronase yakni distribusi proyek berbasis kedekatan, loyalitas yang dirawat melalui akses, dan sistem yang perlahan bergeser dari meritokrasi ke relasi,” jelasnya.

 

"Negara tidak lagi sepenuhnya berjalan oleh aturan yang objektif, tetapi oleh jejaring kepentingan yang saling mengunci. Masalah ini tidak hanya soal siapa mengawasi, tetapi juga tentang arah kebijakan itu sendiri," keluhnya.

 

Menurutnya, selain di luar tata kelola ada persoalan yang lebih mendasar, hal ini terkait cara kita memandang bantuan. “MBG pada dasarnya memberi ikan (menjawab kebutuhan hari ini), namun kebutuhan yang lebih dalam adalah kail dan kesempatan memancing (kemampuan untuk memastikan hari esok tidak kembali lapar),” ujarnya memberi analogi.

 

Tradisi Islam

 

"Tradisi Islam sejak awal menempatkan kemandirian sebagai kehormatan. Nabi Muhammad saw. menggambarkan bahwa seseorang yang memikul hasil usahanya sendiri lebih baik daripada meminta, sebuah isyarat bahwa solusi terbaik bukan sekadar memberi, tetapi membuka jalan agar orang mampu berdiri di atas usahanya," terang Om Joy.

 

"Prinsip yang sama ditegaskan Al-Qur’an, perubahan keadaan tidak datang dari luar semata, tetapi ketika manusia mengubah kondisi dirinya sendiri. Dalam konteks kebijakan, ini berarti pemberdayaan harus menjadi arah utama, sementara bantuan konsumtif bersifat pelengkap," tambahnya menjelaskan.

 

Sehingga, ia menambahkan, ketika negara terlalu fokus pada distribusi konsumsi, maka berisiko terjebak mengelola akibat, bukan menyelesaikan sebab. ”Anggaran besar terserap untuk memastikan rakyat makan hari ini, tetapi tidak selalu berujung pada kemampuan mereka untuk makan esok hari tanpa bantuan,” tuturnya.

 

"Dengan sumber daya yang sama, arah kebijakan sebenarnya bisa diperluas ke sektor produktif seperti alat bagi petani dan nelayan, akses pembiayaan dan pasar bagi UMKM, serta penciptaan lapangan kerja yang memberi daya tahan jangka panjang. Di situlah kesejahteraan tumbuh dan bukan hanya dari apa yang dibagikan, tetapi dari apa yang dihasilkan," bebernya.

 

Adapun, ia memandang, persoalan tersebut juga tidak berhenti pada efektivitas kebijakan, tetapi masuk ke wilayah pertanggungjawaban. “Kekuasaan dalam pandangan Islam adalah amanah, dan setiap amanah akan dimintai jawaban. Seorang pemimpin tidak hanya ditanya apakah ia memberi, tetapi juga apakah ia adil, jujur, dan menjaga ruang kebenaran tetap terbuka,” ulasnya.

 

"Jika sebuah kebijakan berisiko melemahkan kemandirian sekaligus mengaburkan fungsi pengawasan, maka pertanggungjawaban kepada Allah di akhirat tidak ringan. Apalagi jika pola itu berjalan dengan merangkul banyak pihak ke dalam proyek hingga kritik menjadi tumpul, suara kebenaran melemah, dan kontrol publik perlahan menyempit," ungkapnya.

 

"Di titik itu, persoalannya bukan lagi sekadar salah arah, tetapi menyentuh inti amanah. Karena membungkam kritik, meski lewat cara halus seperti distribusi kepentingan, pada hakikatnya adalah menutup jalan perbaikan. Dan ketika jalan perbaikan ditutup, kerusakan tidak hanya mungkin terjadi, tetapi cenderung dipelihara," tandasnya.

 

Meski demikian, ia menganggap, memberi makan rakyat tetaplah tindakan mulia. “Namun kemuliaan itu harus berjalan bersama kejujuran, keadilan, dan keberanian untuk tetap membuka ruang kritik,” katanya.

 

Tanpa itu, Om Joy menilai, yang tampak sebagai kebaikan di permukaan bisa berubah menjadi beban yang berat. “Bukan hanya di hadapan publik, tetapi yang pasti di hadapan Allah,” serunya.

 

"Ingatlah, bangsa yang kuat bukan yang paling sering memberi ikan, melainkan yang memastikan rakyatnya memiliki kail dan tetap memiliki keberanian untuk bersuara, apalagi ketika kebenaran mulai terkubur," pungkasnya.[] Taufan

Opini

×
Berita Terbaru Update