TintaSiyasi.id -- Jurnalis Joko Prasetyo menanyakan setelah Idulfitri apakah umat Islam kembali ke fitrah atau ke sistem buatan manusia.
"Kita saling bersilaturahmi,
saling memaafkan, dan saling mendoakan. Namun ada satu pertanyaan yang jauh
lebih penting: setelah Ramadan berlalu, apakah kita benar-benar kembali kepada
fitrah Islam, atau justru kembali kepada sistem kehidupan buatan manusia?"
tanya Om Joy, sapaan akrabnya, kepada TintaSiyasi.ID, Jumat (02/04/2026)
Sebelumnya, Om Joy menjelaskan bahwa
Idulfitri sering disebut sebagai hari kembali kepada fitrah. “Setelah sebulan
menjalani ibadah Ramadan, umat Islam merayakan kemenangan spiritualnya,”
ujarnya.
"Islam bukan sekadar agama ritual
yang hanya mengatur salat dan puasa. Islam adalah pedoman hidup yang mengatur
seluruh aspek kehidupan manusia termasuk dalam ekonomi, hukum, sosial,
pemerintahan, hingga politik luar negeri," lanjutnya.
Ia menambahkan, karena itu para ulama
menjelaskan bahwa upaya menegakkan syariat Islam secara kaffah merupakan fardu
kifayah, kewajiban kolektif umat agar hukum Allah benar-benar hadir dalam
kehidupan manusia.
"Rasulullah saw. telah
mencontohkannya melalui negara Islam di Madinah, yang kemudian diteruskan dalam
institusi kepemimpinan umat yang dikenal sebagai Khilafah Islam. Mulai dari
Khilafah Rasyidah (para khalifahnya disebut: Khulafaurasyidin), Khilafah
Umayyah, Khilafah Abbasiyyah, hingga Khilafah Utsmaniyyah," paparnya.
Om Joy melanjutkan, Idul Fitri juga
mengingatkan bahwa umat Islam adalah satu umat global. “Namun realitas dunia
menunjukkan bahwa tidak semua Muslim merayakan hari raya dengan aman,”
masygulnya.
"Di Gaza, Palestina, umat Islam
hidup di bawah penjajahan militer. Di Arakan Myanmar, Muslim Rohingya terusir
dari tanah kelahirannya. Di Kashmir, Jammu, dan Xinjiang, kaum Muslim
menghadapi berbagai bentuk penindasan dan pembatasan," ungkapnya.
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan
bahwa penderitaan umat Islam bukan sekadar persoalan lokal, tetapi persoalan
umat secara global.
Jihad
"Dalam ajaran Islam, membela kaum
tertindas dan melawan penjajahan merupakan bagian dari nilai keadilan yang
agung. Karena itu Islam mengenal konsep jihad, yaitu perjuangan sungguh-sungguh
untuk melindungi kaum yang dizalimi dan mengusir penjajahan," bebernya.
Namun, imbuhnya, jihad dan
perlindungan umat membutuhkan persatuan serta kepemimpinan politik yang kuat. “Tanpa
itu, umat Islam mudah terpecah dan sulit melindungi dirinya sendiri,”
tandasnya.
"Sejak runtuhnya Khilafah
Utsmaniyyah pada tahun 1924, dunia Islam terpecah menjadi puluhan negara
bangsa. Akibatnya, ketika sebagian umat Islam tertindas, umat Islam di wilayah
lain sering kali tidak memiliki kekuatan politik untuk melindunginya,"
terangnya.
Karena itu, lanjutnya, pembahasan
tentang khilafah bukan sekadar nostalgia sejarah. “Namun merupakan refleksi
atas kondisi umat yang terpecah dan sering menjadi korban ketidakadilan global,”
beber Om Joy.
Kemudian Om Joy membacakan Al-Qur'an
surah Al-Maidah ayat 3 yang berbunyi, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan
untuk kamu agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Aku ridai
Islam sebagai agama bagimu."
"Ayat ini menegaskan, Islam
adalah pedoman hidup yang sempurna dan satu-satunya yang diridai Allah. Karena
itu, setelah Idulfitri ini, ada satu renungan yang tidak boleh kita
lupakan," tegasnya.
Ia menambahkan, ketika manusia berdiri
di hadapan Allah pada hari kiamat, yang diperhitungkan bukanlah apakah mereka
dikenal sebagai nasionalis, pancasilais, pejabat, atau tokoh masyarakat. “Yang
diperhitungkan adalah apakah kehidupan mereka benar-benar selaras dengan ajaran
Islam atau tidak,” ujarnya.
"Karena itu, setelah Idulfitri
ini, pertanyaannya kembali kepada diri kita sendiri: kita benar-benar kembali
kepada fitrah Islam, atau kembali kepada sistem buatan manusia?" tanyanya
lagi.
Ia menekankan bahwa umat membutuhkan
ketakwaan pribadi yang lahir dari Ramadan, sekaligus keberanian untuk membela
kaum tertindas melalui jihad, serta menghadirkan kepemimpinan yang melindungi
umat dan menegakkan syariat Allah.
"Kepemimpinan ini adalah Khilafah
Islam ala Minhaj an-Nubuwwah. Allahu Akbar!" pungkasnya.[] Nabila
Zidane