Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Setelah Idulfitri, Kembali ke Fitrah atau ke Sistem Buatan Manusia?

Minggu, 05 April 2026 | 12:31 WIB Last Updated 2026-04-05T05:31:41Z

TintaSiyasi.id -- Jurnalis Joko Prasetyo menanyakan setelah Idulfitri apakah umat Islam kembali ke fitrah atau ke sistem buatan manusia.

 

"Kita saling bersilaturahmi, saling memaafkan, dan saling mendoakan. Namun ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting: setelah Ramadan berlalu, apakah kita benar-benar kembali kepada fitrah Islam, atau justru kembali kepada sistem kehidupan buatan manusia?" tanya Om Joy, sapaan akrabnya, kepada TintaSiyasi.ID, Jumat (02/04/2026)

 

Sebelumnya, Om Joy menjelaskan bahwa Idulfitri sering disebut sebagai hari kembali kepada fitrah. “Setelah sebulan menjalani ibadah Ramadan, umat Islam merayakan kemenangan spiritualnya,” ujarnya.

 

"Islam bukan sekadar agama ritual yang hanya mengatur salat dan puasa. Islam adalah pedoman hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia termasuk dalam ekonomi, hukum, sosial, pemerintahan, hingga politik luar negeri," lanjutnya.

 

Ia menambahkan, karena itu para ulama menjelaskan bahwa upaya menegakkan syariat Islam secara kaffah merupakan fardu kifayah, kewajiban kolektif umat agar hukum Allah benar-benar hadir dalam kehidupan manusia.

 

"Rasulullah saw. telah mencontohkannya melalui negara Islam di Madinah, yang kemudian diteruskan dalam institusi kepemimpinan umat yang dikenal sebagai Khilafah Islam. Mulai dari Khilafah Rasyidah (para khalifahnya disebut: Khulafaurasyidin), Khilafah Umayyah, Khilafah Abbasiyyah, hingga Khilafah Utsmaniyyah," paparnya.

 

Om Joy melanjutkan, Idul Fitri juga mengingatkan bahwa umat Islam adalah satu umat global. “Namun realitas dunia menunjukkan bahwa tidak semua Muslim merayakan hari raya dengan aman,” masygulnya.

 

"Di Gaza, Palestina, umat Islam hidup di bawah penjajahan militer. Di Arakan Myanmar, Muslim Rohingya terusir dari tanah kelahirannya. Di Kashmir, Jammu, dan Xinjiang, kaum Muslim menghadapi berbagai bentuk penindasan dan pembatasan," ungkapnya.

 

Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa penderitaan umat Islam bukan sekadar persoalan lokal, tetapi persoalan umat secara global.

 

Jihad

 

"Dalam ajaran Islam, membela kaum tertindas dan melawan penjajahan merupakan bagian dari nilai keadilan yang agung. Karena itu Islam mengenal konsep jihad, yaitu perjuangan sungguh-sungguh untuk melindungi kaum yang dizalimi dan mengusir penjajahan," bebernya.

 

Namun, imbuhnya, jihad dan perlindungan umat membutuhkan persatuan serta kepemimpinan politik yang kuat. “Tanpa itu, umat Islam mudah terpecah dan sulit melindungi dirinya sendiri,” tandasnya.

 

"Sejak runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah pada tahun 1924, dunia Islam terpecah menjadi puluhan negara bangsa. Akibatnya, ketika sebagian umat Islam tertindas, umat Islam di wilayah lain sering kali tidak memiliki kekuatan politik untuk melindunginya," terangnya.

 

Karena itu, lanjutnya, pembahasan tentang khilafah bukan sekadar nostalgia sejarah. “Namun merupakan refleksi atas kondisi umat yang terpecah dan sering menjadi korban ketidakadilan global,” beber Om Joy.

 

Kemudian Om Joy membacakan Al-Qur'an surah Al-Maidah ayat 3 yang berbunyi, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama bagimu."

 

"Ayat ini menegaskan, Islam adalah pedoman hidup yang sempurna dan satu-satunya yang diridai Allah. Karena itu, setelah Idulfitri ini, ada satu renungan yang tidak boleh kita lupakan," tegasnya.

 

Ia menambahkan, ketika manusia berdiri di hadapan Allah pada hari kiamat, yang diperhitungkan bukanlah apakah mereka dikenal sebagai nasionalis, pancasilais, pejabat, atau tokoh masyarakat. “Yang diperhitungkan adalah apakah kehidupan mereka benar-benar selaras dengan ajaran Islam atau tidak,” ujarnya.

 

"Karena itu, setelah Idulfitri ini, pertanyaannya kembali kepada diri kita sendiri: kita benar-benar kembali kepada fitrah Islam, atau kembali kepada sistem buatan manusia?" tanyanya lagi.

 

Ia menekankan bahwa umat membutuhkan ketakwaan pribadi yang lahir dari Ramadan, sekaligus keberanian untuk membela kaum tertindas melalui jihad, serta menghadirkan kepemimpinan yang melindungi umat dan menegakkan syariat Allah.

 

"Kepemimpinan ini adalah Khilafah Islam ala Minhaj an-Nubuwwah. Allahu Akbar!" pungkasnya.[] Nabila Zidane

Opini

×
Berita Terbaru Update