Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pasca Lebaran Utang Keluarga Membludak Kok Bisa?

Jumat, 03 April 2026 | 05:20 WIB Last Updated 2026-04-02T22:20:22Z
TintaSiyasi.id -- Ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat (ANH) menyatakan, ritual tahunan yang dihadapi masyarakat menjelang lebaran masih saja terus berlangsung. Rakyat dihimpit dengan biaya pangan yang melonjak dan ongkos mudik lebaran yang mahal serta hutang yang bertambah selalu turut serta membebani masyarakat saat mendekati lebaran. Menurutnya, Itu semua menandakan, bahwa ketahanan ekonomi sebagian keluarga Indonesia sangatlah rapuh (www.inilah.com, 14/03/26).

Sementara itu, Dosen Ilmu Ekonomi Syariah IPB University, Dr Ranti Wiliasih mengatakan, bahwa fenomena melonjaknya transaksi Pinjol (pinjaman online) di bulan Ramadan dikarenakan faktor kebutuhan konsumtif bukan produktif, sehingga berpotensi menimbulkan masalah keuangan di kemudian hari. Ia juga menegaskan, pinjaman konsumtif seharusnya dihindari, kecuali dalam kondisi mendesak seperti kebutuhan medis, musibah, atau bencana (www.liputan6.com, 22/03/26).

Perayaan hari raya idul fitri, seharusnya membawa kegembiraan, bukan menanggung beban akibat hutang yang semakin membludak. Pada kenyataannya, keadaan ekonomi masyarakat saat ini sangatlah sulit tersebab kapitalisasi momen Ramadan dan lebaran hingga melahirkan tekanan sosial dan beban ekonomi bagi keluarga.

Jebakan Sistem Sekulerisme

Belum lagi, dalam kondisi rapuhnya daya beli keluarga, era digitalisasi memberikan alternatif solusi berhutang dengan mudah dan memakai akad ribawi pula. Sehingga menjadikan perputaran ekonomi rakyat justru difasilitasi dengan utang di tengah menurunnya pertumbuhan upah. Hal demikian pastilah mendorong keluarga untuk bergantung pada utang ribawi dalam memenuhi kebutuhan rutin dan semirutin.

Belum lagi, gaya hidup liberal yang terlahir dari sistem kehidupan sekuler kapitalisme menyebabkan pandangan manusia dalam menjalani kehidupan hanya bertujuan untuk bersenang-senang. Sehingga lahirlah masyarakat hedonis, tidak memiliki rasa cukup dalam hal materi, serta memiliki pola sikap dan pikir yang terbelenggu oleh hawa nafsu.

Maka tak heran, jika momen Ramadan dan lebaran juga identik dengan melesatnya angka kejahatan, karena sistem sekuler kapitalisme berhasil menjebak manusia untuk memisahkan agama dengan kehidupan, membuat manusia fokus mengejar kehidupan dunia dan menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan ataupun keinginan hingga melupakan akhirat. Juga diperparah dengan minimnya pemahaman agama yang benar, yang menyebabkan seorang muslim bingung dalam menentukan tujuan hidup dan enggan menampakan identitas agamanya karena takut dicap terlalu fanatik.

Yang sangat mengherankan, Indonesia dikenal dengan negara yang bermayoritas muslim, namun negara justru malah memfasilitasi masyarakat untuk melakukan transaksi ribawi yang bertentangan dengan syari'at Islam. Untuk itulah, harus ada perubahan totalitas yang terstruktur membimbing negara dan masyarakat supaya bisa menyambut hari kemenangan dengan tenang dan suka cita.

Islam Solusi Hakiki

Kabar baiknya, Islam memiliki sistem kehidupan sempurna yang pernah diterapkan di masa Khulafaur Rasyidin. Sistem tersebut adalah sistem kepemimpinan Islam atau Khilafah. Dengan ditegakkannya khilafah, maka seluruh aspek kehidupan mencakup sistem politik, sosial, budaya, hukum, pergaulan, pendidikan akan menjadikan akidah Islam sebagai dasar. Termasuk juga dalam sistem ekonomi.

Islam memiliki pandangan yang khas dalam mengatur sistem ekonomi. Sistem ekonomi dalam Islam memiliki sistem yang stabil, baik dalam nilai mata uang atau harga barang. Untuk menjaga ketahanan ekonomi keluarga, negara memiliki kewajiban untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang banyak dan upah yang layak, bukan memfasilitasi utang. Negara juga akan melarang siapapun melalukan transaksi ribawi dan akan memastikan bahwa akad perdagangan atau pinjaman yang ada di tengah masyarakat senantiasa bersih dari praktik riba.

Bukan hanya itu, negara akan turut berperan dalam menjaga keimanan dan ketaqwaan setiap muslim, dengan cara mengajak untuk berlomba dalam kebaikan dan melakukan perbuatan yang bermanfaat juga berpahala. Sehingga momen Ramadan tidak akan diisi dengan list hutang yang semakin membengkak atau sekadar sibuk dengan acara buka bersama dan persiapan mudik saja, namun juga turut bertambahnya iman dan taqwa yang tentunya nilai angka kejahatan masyarakat pun menjadi minim terjadi.

Namun, semua itu hanya dapat terwujud jika negara mau menerapkan sistem ekonomi Islam yang harus sepaket dengan sistem politik Islam. Sebab, dalam menerapkannya dibutuhkan kekuatan politik untuk melepas ketergantungan negara dari globalisasi dan liberalisasi perdagangan, sehingga negara mampu menerapkan sistem ekonomi Islam untuk membangun kesejahteraan bagi keluarga. Dengan demikian, sistem kepemimpinan Islam khilafah adalah jalan untuk mengembalikan kembali momen Ramadan dan perayaan idul fitri sesuai pandangan syariat, yakni mewujudkan ketaqwaan bukan hanya tataran individu tapi juga sistem negara.

Wallahu a'lam bishshawab

Oleh: Essy Rosaline Suhendi
Aktivis Muslimah Karawang

Opini

×
Berita Terbaru Update