Tintasiyasi.id.com -- Energi Indonesia yang belum daulat akan menyebabkan tidak hanya kepanikan namun ancaman. Hal tersebut mulai terlihat dengan peristiwa "panic buying" di sejumlah wilayah Sumatera Utara sejak Kamis (5/3/2026) dan sejumlah wilayah lain di Indonesia.
Masyarakat panik karena BBM diisukan stoknya habis pada hari ke 20 sebagai imbas perang AS-Israel dengan Iran. Ribuan kendaraan terpantau mengular di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) mulai dari Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Kota Tebing Tinggi, hingga Kota Medan.
Warga berbondong-bondong memenuhi tangki kendaraan mereka dan rela mengantri berjam-jam demi mengamankan stok bahan bakar.
Indonesia tidak seharusnya memiliki kepanikan seperti ini jika energi Indonesia mandiri, bahkan berdaulat. Energi yang berdaulat adalah energi yang mampu mencukupi kebutuhan seluruh masyarakatnya tanpa tergantung dengan negara lain.
Indonesia memiliki komoditas minyak bumi yang melimpah yaitu sebesar 4,4 miliar barel yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Dengan potensi ini, seharusnya Indonesia tidak terkena imbas peperang AS-Israel dan Iran, jika pengelolaan energinya baik.
Namun, Indonesia justru masih ketergantungan pada impor minyak mentah hingga BBM.
Hari ini Indonesia hanya memproduksi rata-rata harian minyak sebesar 580.224 barel per hari sedangkan konsumsi sebesar 1,6 juta barel per hari. Kekurangan tersebut cukup besar dan dipenuhi dengan impor.
Selanjutnya, setelah impor minyak mentah, Indonesia mengimpor BBM karena kapasitas pengolahan minyak mentah di kilang pertamina hanya bisa membuat 1,1 juta barrel per hari. Sebagaimana minyak mentah, Indonesia tidak mampu memproduksi BBM yang dibutuhkan oleh rakyatnya.
Dapat dikatakan, Indonesia ketergantungan dua kali lipat kepada impor. Ketergantungan pada minyak mentah dan impor BBM ini membuat Indonesia mudah terguncang setiap kali harga minyak dunia naik, bahkan kenaikan tersebut tidak hanya menekan APBN, tetapi juga langsung berdampak pada inflasi dan stabilitas sosial.
Termasuk ketika impor dari negara lain terhambat, maka isu kelangkaan akan langsung mengancam kelanjutan energi di Indonesia. Sebagaimana yang dirasakan pada hari-hari belakangan ini, ancaman energi sangat mengacaukan suatu negara.
Masyarakat panik dan berfikir pendek mengamankan stok masing-masing dengan menimbun di drum-drum mereka yang tak seberapa. Masyarakat beranggapan hal tersebut solusi, padahal masalah. Jika kelangkaan benar-benar terjadi, drum-drum itu juga hanya bisa bertahan beberapa hari, sedangkan, efek kepanikan yang ditimbulkan menjalar sampai ke inflasi harga bahan pokok yang menyusahkan hidup mereka juga ke depannya.
Masyarakat memperparah kekacauan, namun tak berfikir stok BBM habis karena produksi energi negara tidak berdaulat. Oleh karena itu, rantai ancaman itu harus diputus dan kedaulatan energi harus ditegakkan.
Untuk mewujudkan hal tersebut haruslah negara berani bervisi besar dan bersandar kepada tuntunan wahyu yaitu bersandar pada syariat Islam. Dalam Islam, pengaturan sumber daya energi telah digariskan. Energi merupakan sumber api untuk menyalakan kehidupan. Rasulullah SAW bersabda,
"Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air, dan api (HR.Abu Dawud).
Berserikat maknanya dimiliki rakyat secara bersama-sama atau harta milik umum. Harta milik umum dikelola oleh negara dan dikembalilan kepada masyarakat. Negara tidak boleh menyerahkan kepada perseorangan atau perusahaan swasta.
Negara akan bisa menegakkan kedaulatan. Negara adalah pengorganisasi seluruh masyarakat yang perangkatnya kompleks dan beragam. Struktur negara tersebutlah yang menjalankan misi negara dipimpin oleh Khalifah.
Dalam hal membangun kedaulatan energi, negara akan menggunakan perangkat meliputi lembaga keuangan (baitul mal), lembaga pendidikan, dan lembaga industri. Perangkat yang lengkap dan beragam inilah secara bersama-sama akan bisa mewujudkan pengolahan energi yang berdaulat dan mensejahterakan rakyat karena telah tersedia dana, ahli, dan para pengolah energi.
Negara akan mengamankan stok energi. Jika stok aman, tidak akan ada lagi ketakutan, tidak akan ada lagi ancaman di bidang energi.[]
Oleh: Shela Rahmadhani, S. Pt
(Aktivis Muslimah)