TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Takut yang Melahirkan Kedekatan.
Takut kepada Allah bukanlah rasa gentar yang menakutkan seperti ketakutan manusia kepada sesama makhluk. Ia adalah rasa takut yang memuliakan, lahir dari kesadaran mendalam akan kebesaran Allah dan kelemahan diri. Imam Al-Ghazali menegaskan dalam Mukāsyafatul Qulūb bahwa rasa takut kepada Allah (khauf) adalah tanda nyata dari iman yang hidup. Ia bukan hanya perasaan dalam dada, melainkan terpancar melalui seluruh anggota tubuh manusia.
Rasa takut yang benar kepada Allah menjadikan seseorang lembut hatinya, jernih pikirannya, dan penuh kasih terhadap sesama. Ia tidak sombong dalam ketaatan, tidak congkak dalam ilmu, dan tidak berputus asa dalam ujian. Sebaliknya, rasa takut kepada Allah membuat hidupnya penuh keseimbangan antara rasa harap (raja’) dan rasa takut (khauf).
Imam Al-Ghazali kemudian menggambarkan bahwa ciri seorang mukmin yang benar-benar takut kepada Allah akan tampak pada tujuh anggota tubuhnya. Setiap bagian tubuh menjadi cermin dari kondisi hati yang takut dan tunduk kepada Sang Pencipta.
1. Lidah yang Terjaga
“Orang yang takut kepada Allah, lisannya tidak berbicara kecuali dengan zikir, membaca Al-Qur’an, dan perkataan yang bermanfaat.” Imam Al-Ghazali, Mukasyafatul Qulub
Lidah adalah cermin hati. Apabila hati bersih, maka lidah akan jujur dan lembut. Orang yang takut kepada Allah menjaga lisannya dari dusta, ghibah, fitnah, dan kata-kata sia-sia. Ia menyadari bahwa satu kata dapat mengangkat derajatnya ke surga, dan satu kata pula dapat menjerumuskannya ke neraka.
Rasulullah Saw. bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Lidah seorang mukmin bukan alat untuk menyakiti, melainkan sarana menebar hikmah dan kebenaran. Di setiap ucapannya, selalu ada nilai dzikir dan nasihat yang menyejukkan.
2. Hati yang Bersih dan Tunduk
Hati adalah pusat kendali jiwa. Bila hati baik, baiklah seluruh tubuh. Bila hati rusak, rusaklah semuanya. Orang yang takut kepada Allah menjaga hatinya dari riya’, sombong, iri, dengki, dan cinta dunia berlebihan.
Ia menyadari bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta, tetapi menilai ketulusan hati dan amal. Karena itu, ia senantiasa berjuang menundukkan hawa nafsu dan melawan bisikan syaitan yang halus. Rasa takut yang bersumber dari hati membuat seseorang berhati-hati dalam setiap niat dan langkah. Ia tidak ingin amalnya sia-sia karena dicampuri kepentingan diri. Ia tahu bahwa yang dicari bukan pujian manusia, melainkan ridha Allah semata.
3. Pandangan Mata yang Terjaga
Mata adalah jendela hati. Dari pandangan yang tak dijaga, masuklah godaan dan syahwat yang merusak. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa orang yang takut kepada Allah menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan. Ia gunakan matanya untuk membaca ayat-ayat Allah, baik yang tertulis dalam Al-Qur’an, maupun yang terbentang di alam semesta. Ia memandang bukan untuk menilai atau membandingkan, tetapi untuk merenungi kebesaran Sang Pencipta.
Allah Swt. berfirman:
“Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka.”
(QS. An-Nur: 30).
Menundukkan pandangan bukan hanya menahan diri dari yang haram, tetapi juga melatih pandangan hati agar jernih melihat kebenaran.
4. Perut yang Hanya Menampung yang Halal
Salah satu tanda ketakwaan adalah berhati-hati dalam urusan makanan. Orang yang takut kepada Allah tidak memasukkan ke dalam perutnya kecuali yang halal dan baik. Ia menjauhi yang syubhat dan haram karena tahu bahwa makanan haram menggelapkan hati.
Imam Al-Ghazali menulis:
“Makanan yang haram adalah penghalang doa dan penghapus cahaya iman.”
Makanan halal tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga menjernihkan ruhani. Setiap suapan yang halal menjadi energi untuk beribadah dan berbuat kebajikan. Sedangkan makanan haram menjadi penghalang keberkahan hidup, meski tampak banyak dan lezat.
5. Tangan yang Tidak Berbuat Zalim
Orang yang takut kepada Allah tidak menggunakan tangannya untuk menzalimi, mencuri atau menyakiti orang lain. Ia sadar bahwa setiap perbuatan tangan akan dipertanggungjawabkan.
Tangannya digunakan untuk memberi, menolong, menulis kebaikan, dan bekerja dengan jujur. Ia memahami sabda Nabi Saw.
'Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah." (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam setiap perbuatan, ia meniatkan tangannya untuk ibadah. Bahkan saat bekerja, ia menghadirkan niat mencari nafkah halal demi keluarga, bukan karena dunia.
6. Kaki yang Melangkah ke Jalan Taat
Langkah kaki orang mukmin selalu menuju kebaikan. Ia hindari tempat maksiat dan suasana yang melalaikan. Setiap langkahnya menuju masjid, majelis ilmu, silaturahim, dan pelayanan umat.
Setiap langkah yang ditujukan untuk ketaatan dicatat sebagai pahala. Rasulullah Saw. bersabda:
“Barang siapa melangkahkan kakinya menuju masjid untuk salat berjamaah, maka satu langkahnya menghapus dosa dan satu langkah lainnya meninggikan derajat.”
(HR. Muslim).
Kaki yang takut kepada Allah akan menuntun pemiliknya ke jalan lurus, bukan ke tempat yang menjauhkan dari rahmat-Nya.
7. Ketaatan Total dalam Hidupnya
Puncak dari rasa takut kepada Allah adalah ketaatan total dalam hidup. Orang yang takut kepada Allah tidak hanya beribadah di masjid, tetapi juga di pasar, di rumah, di tempat kerja, di dunia maya, dan di mana pun ia berada. Ia menjadikan seluruh hidupnya bentuk pengabdian dan syukur.
Hidupnya diatur oleh kesadaran bahwa Allah melihat setiap gerak dan diamnya. Ia tidak ingin mengecewakan Allah walau sekejap. Ia merasa malu bila berbuat dosa karena ia tahu Tuhannya Maha Menyaksikan.
Penutup: Takut yang Melahirkan Cinta
Imam Al-Ghazali menutup nasihat ini dengan makna yang halus: rasa takut kepada Allah bukan untuk membuat manusia putus asa, melainkan agar ia lebih berhati-hati, lebih cinta, dan lebih dekat kepada Allah.
Takut yang benar akan melahirkan cinta yang benar, sebab seseorang tidak akan takut kehilangan sesuatu kecuali yang sangat ia cintai.
“Mereka menangis karena takut kepada Allah bukan karena lemah, tetapi karena mereka sadar betapa besar kasih sayang Allah yang belum mereka syukuri.”
Maka, jadilah hamba yang takut karena cinta, bukan takut karena ancaman. Takut yang melahirkan taat, bukan takut yang menumbuhkan putus asa. Sebab di balik rasa takut yang benar, ada ketenangan jiwa yang sejati.
Dr. Nasrul Syarif, M. Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo